Peneleh, Kawasan Wisata Sejarah di Surabaya Tak Terurus

Makam Belanda di Peneleh, Surabaya, Jawa Timur kondisinya memprihatinkan. (Foto: JX/Budi Arie Satriyo)

SURABAYA, JIA XIANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya diharapkan bisa mencontoh Ibukota Jakarta yang bisa menyulap Makam Belanda Kebun Jahe Kober di Tanah Abang menjadi Taman Prasasti yang saban hari menjadi tujuan turis. Pasalnya, makam Belanda yang eksotis di kawasan Peneleh Surabaya banyak menyimpan kisah sejarah besar dibanding Jakarta. Salah satunya, makam Gubernur Jenderal M. Pieter Merkus yang meninggal pada 2 Agustus 1844.

Ketua DPRD Surabaya Ir. Armudji meyebutkan, memang banyak kelebihan makam Belanda di Peneleh bila dibanding makam serupa di Jakarta. Bahkan, kata dia, disandingkan dengan makam di Vietnam dan Berlin sekalipun nilai eksotis dan artistiknya juga masih jauh lebih unggul.

“Saya pernah berkunjung ke Vietnam dan Berlin, kondisinya memang jauh lebih bagus,” katanya, Jumat (24/6/16).

Salah satu kelebihan makam Belanda di Peneleh, kata Armudji, banyak jenderal-jenderal petinggi Belanda dimakamkan di tempat ini. Untuk itu, dia minta kepada Pemkot tidak hanya memprioritaskan Jalan Tunjungan yang saat ini sudah lebih tertata.

“Peneleh ini, jauh lebih mendesak. Banyak juga nilai sejarah muncul dari tempat ini,” katanya.

Menurut Armudji, untuk memperbaiki kondisi makam Belanda Peneleh harus dilakukan bertahap. “Sebagai tahap awsal, saya kira dengan dipaving lalu diberi lampu agar tidak kelihatan menyeramkan, saya yakin bisa dilakukan. Tetapi, kemudian dilanjutkan lagi dengan melakukan perawatan. Misal memoles makam-makam kuno dari marmer atau granit,” paparnya.

Ia mengaku, selain makam Belanda, juga ada beberapa nilai sejarah yang melekat dengan kawasan itu. Salah satunya, Presiden Pertama RI, Bung Karno, juga lahir di Jl Pandean IV, jaraknya sekitar 100 meter ke arah utara dari makam Belanda Peneleh.

Menuju ke barat sekitar 300 meter dari makam, kita akan menemukan rumah pahlawan nasional HOS Tjokroaminoto di Jl Peneleh VII. Rumah ini tersohor karena menjadi pusat pergerakan pra kemerdekaan, dan ‘sekolah’ para aktivis perjuangan kemerdekaan. Di depan rumah ini, ada situs toko buku tertua di Surabaya, Toko Buku Peneleh yang terkenal saat itu.

Melompat satu gang ke arah selatan, setiap orang bisa menyaksikan salah satu masjid tertua di Indonesia, Masjid Jamik Peneleh. Masjid ini dibangun pada 1421 oleh Sunan Ampel, sebelum dia mendirikan Masjid Ampel.

Ke selatan tiga gang lagi, terdapat museum mini dari bekas rumah pejuang 10 November dan mantan menteri luar negeri di jaman Sukarno, Roeslan Abdulgani. Lokasinya berada di Jalan Plampitan VIII.

Tempat-tempat inilah yang akan dipamerkan ke para delegasi peserta UN Habitat. “Ini belum lagi destinasi unik lainnya. Peneleh dihiasi rumah rumah kuno berusia 200 tahun, dan kuliner yang legendaris,” papar Slamet, salah satu pemuda di sana.

Jembatan Peneleh, sebagai jembatan tertua di Surabaya, Kuliner peranakan Bakcang Oei Kung Giok di Jalan Peneleh 92, Bikang Peneleh Jl Peneleh 32-34. Hingga Kaos Sawoong di Jl Makam Peneleh 46.

Sayang, destinasi bersejarah ini terlihat kumuh, jalannya rusak dan PKL menjamur 24 jam. Yang paling mengenaskan jika hujan selalu banjir. [JX/Bas/W5]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here