Perdagangan Multilateral Makin Terbuka

Jia Xiang – Indonesia memang tidak pernah mau menyia-nyiakan kesempatan pada pertemuan Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) 2013 di Bali. Hal ini bukan hanya diperlihatkan dalam keseriusan menyelenggarakan perhelatan besar di Asia Pasifik ini saja, tetapi juga ajang untuk menunjukkan kualitas Indonesia sebagai negara yang menghadirkan 21 pemimpin negara anggota APEC. Hanya saja kali ini Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama, tidak bisa hadir karena persoalan internal negara itu.

Dengan kata lain kapasitas dan kemampuan Indonesia di dunia internasional, tidak diragukan lagi. Ini pun menjadi bukti juga bahwa dunia internasional sangat menghargai peranan penting Indonesia  di forum APEC. APEC adalah kerjasama regional yang didirikan 21 negara kawasan Asia Pasifik tahun 1989 di Canberra, Australia. Tujuannya memperkuat kerjasama ekonomi, khususnya perdagangan dan investasi.

APEC, sangat strategis sebab potensi penduduknya mencapai 41 persen dari populasi dunia. Kemudian  49 persen volume perdagangan internasional ada berasal dari kawasan APEC, dan sekitar 56 persen total produk domestic bruto dunia juga dari kawasan ini.  Sementara ekspor Indonesia ke negara APEC sebesar 139,8 milliar dollar AS.
Jadi,  21 anggota APEC di forum itu juga  berupaya untuk mengembangkan potensi masing-masing,  tidak terkecuali Indonesia  yang pada kesempatan di Bali ini berusaha untuk memperkenalkan dan mengembangkan kepentingan nasional dalam kerangka kerjasama internasional.

Karena itu, beberapa pemikiran orisinal pun dikemukakan Indonesia yang ujungnya memacu pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.  Artinya di pertemuan APEC ini,  Indonesia berupaya mengulangi lagi pentingnya capaian pertumbuhan ekonomi,  yang bukan hanya berkelanjutan, tetapi juga merata di seluruh anggotanya. Kerjasama ekonomi, perdagangan, dan investasi pun menjadi simpul utama.

Tidak lepas dari simpul utama itu, Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono  pun menyampaikan tujuh strategi supaya bisa mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi di negara-negara anggota APEC. Ketujuh strategi itu adalah mencegah proteksionisme,  dan melanjutkan liberalisasi perdagangan, investasi di masing-masing negara, pengembangan infrastruktur, memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan, pembangunan untuk semua, dan menjaga stabilitas keuangan.

Untuk mengimplimentasikan itu, harus ada kesamaan pandangan soal hal-hal yang strategis di antara negara anggota APEC. Tanpa adanya kesamaan pandangan tak mungkin masing-masing negara melepas proteksionisme untuk kepentingan bersama. Bahkan untuk mewujudkan liberalisme perdagangan pun dibutuhkan kerelaan masing-masing negara.

Untuk itu pula maka Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono  pun mengingatkan kembali dan mengajak semua anggota APEC  supaya terus  berupaya mengimplementasikan Deklarasi Bogor 1994. Sejauh ini  ada  kemajuan pesat, yakni  pengurangan tarif dari 16,9 persen (1989) menjadi 5,7 persen  (2011) di kalangan anggota APEC.

Selain itu, kata Presiden, ada peningkatan  populasi di kawasan Asia Pasifik di masa mendatang, bisa menjadi beban di berbagai bidang bagi negara masing-masing.  Ketiga, mempromosikan Konektivitas.  Presiden yakin APEC memiliki peran penting bagi pertumbuhan ekonomi global.

Ternyata pandangan itu, mendapat tanggapan serius dari Cina yang menegaskan bahwa  KTT APEC 2013 ini dapat menguatkan komitmen terhadap hasil Deklarasi Bogor, sebab sistem perdagangan multilateral di kawasan ini pun semakin terbuka dan mengurangi hambatan perdagangan dan investasi,  sehingga lalu-lintas barang dan jasa, termasuk  modal mengalir lebih bebas di antara negara anggota APEC.  [Edwin Karuwal]

SHARE
Previous articleWibawa Hakim
Next articleBersama Rakyat TNI Kuat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here