“Perlawanan” Tanpa Suara

Oleh : Iman Sjahputra

Ibu kota Jakarta beberapa minggu belakangan ini dilanda sebuah fenomena yang memang belum pernah terjadi sebelumnya, yaitu “fenomena bunga”. Diawali dengan kiriman aneka bunga papan kepada Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dan Wakil Gubernur, Djarot  Saiful Hidayat.

Ribuan karangan bunga yang datang secara bertubi-tubi  hingga saat ini, umumnya berisi ungkapan rasa terima kasih atas kerja keras Basuki dan Djarot memimpin Jakarta.

Hasil kerja dua pejabat itu memang sudah dirasakan oleh banyak warga Jakarta, mulai dari bidang kesehatan, pendidikan, transportasi sampai pada  hal-hal lain di bidang pemerintahan daerah.  Hanya saja, memang ada orang yang tidak begitu senang dengan kinerja mereka. Tidak heran bila  apa pun dilakukan untuk bisa menumbangkan mereka.

Puncak aksi “perlawanan” itu ada di Pilkada DKI Jakarta belum lama ini. Basuki dan Djarot kalah, dari lawan mereka Anies Baswedan dan wakilnya, Sandiaga Uno. Dengan segala  bentuk ”serangan” terhadap petahana pun dilakukan dan berujung mereka kalah.

Namun kekalahan itu bukan semata-mata kalah dalam bersaing. Mereka, Basuki-Djarot, tetap menjadi pahlawan bagi rakyat Jakarta yang mengerti kinerja dan prestasi mereka.  Bukti penghargaan itu diungkapkan dalam kiriman ribuan karangan bunga. Apa pun kata orang, bernada negatif, tentang karangan bunga itu, yang perlu dipahami adalah itu bentuk tulus penghargaan dari warga kepada pemimpinnya.

Namun bisa juga karangan bunga ini sebagai bentuk “perlawanan” atas kesemena-menaan, pihak-pihak tertentu yang  tidak senang dengan kondisi dan kemajuan Jakarta.  Perlu dipahami yang namanya melawan bukan semata berargumentasi secara verbal saja, tetapi bukan pula memperlihatkan aksi frontal terhadap hal yang tidak  berkesan di hati.

Dengan karangan bunga  yang berdatangan itu juga bentuk  “perlawanan”  tanpa suara. Ungkapkan rasa terima kasih dan penghargaan lewat bunga. Sebab bunga memiliki sejuta makna yang bisa menggugah dan mengubah cara berpikir orang untuk lebih positif.

Hal ini pula yang kini menjadi tren di kalangan warga Jakarta, tetapi juga sudah merambat ke beberapa kota di seluruh Indonesia. Yaitu bentuk “perlawanan” tanpa suara untuk mendukung para penegak hukum di Indonesia dalam mempertahankan tegaknya empat pilar negeri tercinta yaitu Pancasila, UUD’45, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI,  dari rongrongan pihak-pihak tertentu yang pada dasarnya ingin melihat negeri ini terus-menerus dilanda kesusahan dan kesedihan.

Di Jakarta,  pihak kepolisian dan TNI,  serta pihak lainnya mendapat kiriman bunga-bunga papan itu. Para pengirim itu pun tidak tanggung-tanggung mendukung para penegak hukum ini membela dan mempertahankan NKRI.

Dengan kata lain, karangan bunga ini juga memperlihatkan sikap dan suara rakyat yang umumnya  ingin menegakkan NKRI. Karangan bunga ini juga menunjukkan kesiapan rakyat yang berjalan bersama pemerintah dari segala unsur untuk membela negara ini.

Artinya sekarang pemerintah tidak lagi berjalan sendiri.  Ada jutaan  warga negara ini yang memiliki pemikiran sama dan tidak menginginkan negeri tercinta ini hancur lebih akibat diporak-porandakan oleh pihak-pihak yang hanya berpikir atas kepentingan sendiri.

Jadi, fenomena bunga-bunga ini adalah bentuk inspirasi bagi masyarakat menyuarakan hati nurani mereka dengan cara yang lebih elegen dan terpelajar. Ya… cuma saja ada pihak-pihak yang tidak senang atas munculnya fenomena ini.

Diharapkan harumnya bunga dan aneka warna bunga, semakin mencerahkan mata dan pikiran kita semua, untuk berpikir lebih berwarna pula, bukan satu warna, tapi aneka warna,  sehingga alternatif pemikiran yang positif pun bisa muncul lebih banyak. Ketimbang berprasangka buruk, lebih baik mengasah cara berpikir kita lebih elegen dengan hal-hal yang positif  dan konstruktif.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here