Perlu Kerja Keras

Banjir yang menyerang Jakarta beberapa waktu lalu memang tidak sehebat tahuhn 2013. Tetapi itu bukan berarti kerugian dan kerusakan yang diakibatkannya kecil karena yang namanya rusak dan rugi tetap saja ada dan selalu ada.

Itu baru dari satu sisi, belum lagi kita bicara yang lain. Sampah misalnya. Selama banjir 2014 ini sampah sudah menjadi pemandangan yang biasa. Di setiap sungai di Jakarta, selalu diselimuti sampah.

Bahkan ketika tidak dalam kondisi banjir pun sampah memadati sungai, sampai-sampai para pemulung bisa berjalan di atas tumpukan sampah yang ada di badan sungai.
Karena itu dapat dibayangkan berapa besar volume sampah yang dikeruk selama banjir ini.

Menurut Dinas Kebersihan DKI Jakarta, selama banjir ini volume sampah yang dihasilkan per hari 300 ton. Padahal pada hari-hari biasa sampah di Jakarta hanya 60 ton – 70 ton per hari. Tanggal 18 Januari volume sampah Jakarta sekitar 370 ton, tanggal 19 turun jadi 350-an ton dan tanggal 20 turun lagi jadi 330-an ton.

Sekarang tinggal kita hitung saja selama tiga hari itu berapa ton sampah yang dihasilkan?
Bahkan Kementerian Pekerjaan Umum pernah memeriksa jenis sampai yang ada di Pintu Air Manggarai. Hasilnya, sekitar  100 jenis barang ada di sana.

Dari sini terlihat bahwa kesadaran untuk hidup bersih warga Jakarta masih Jauh. Orang pun beralasan, waktu banjir sudah pasti apa saja terangkut. Betul. Tetapi di kala tidak banjir, sampah tetap menggenangi sungai.

Kembali lagi bukti bahwa kesadaran warga ibu kota masih rendah. Dengan kata lain, setiap hari ada saja warga yang membuang sampah ke sungai atau saluran air.
Kita belum melihat efektivitas peraturan Pemda soal sanksi denda bagi mereka yang  membuang sampah ke sungai. Masih diperlukan keampuhannya.

Sambil menunggu, tampaknya pemda DKI harus terus mensosialisasikan  hidup sehat dan bersih di mulai dari lingkungan rumah.  Himbauan jangan membuang sampah sembarangan memang soal sepele, tetapi dampaknya luar biasa. Yang sulit adalah menciptakan persepsi yang sama di masyarakat dengan tingkat pendidikan berbeda.
Ini bukan pekerjaan ringan, perlu kerja keras, perlu contoh dan teladan, perlu waktu. Sekarang mampukah aparat pemda DKI sendiri menjadi teladan, bukan hanya bicara melulu?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here