Permintaan Pemerintah AS Langgar Amandemen Pertama

SAN FRANSISCO, JIA XIANG – Raksasa komputer, Apple, menolak permintaan pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk membuat piranti lunak yang memungkinkan aparat penegak hukum meretas iPhone 5C. Metode enkripsi perusahaan seperti Apple menyulitkan penyelidikan tersangka kriminal yang memanfaatkan teknologi.
Apple mengajukan mosi ke pengadilan, meminta hakim federal membatalkan perintah agar perusahaan itu membantu Biro Investigas Federal (FBI) AS meretas iPhone seorang pembunuh yang terkunci. Raksasa komputer itu menolak permintaan pemerintah untuk membuat piranti lunak baru yang akan memungkinkan aparat penegak hukum membobol iPhone 5C milik Syed Rizwan Farook, yang bersama istrinya, Tafsheen Malik, menewaskan 14 orang di San Bernardino, California, tahun lalu.
Dalam mosi ke pengadilan hari Kamis (25/2/16), pengacara Apple berpendapat permintaan pemerintah menimbulkan beban yang belum pernah dialami Apple dan melanggar hak-hak Apple berdasar Amandemen Pertama yaitu ”dipaksa bicara”.
Apple menilai FBI meminta apa yang dikatakannya sebagai langkah-langkah mengakali keamanan perusahaan itu, dan bahwa kelak, di tangan yang salah, piranti lunak itu akan membuat banyak pengguna ponsel Apple rentan penyusupan.
Di Washington hari Kamis, Kepala FBI James Comey mengakui memaksa Apple membantu penyidik mengakses iPhone yang terkunci akan menjadi preseden hukum, dan dia tidak bisa menjanjikan hanya sekali ini FBI meminta bantuan semacam itu. Comey menilai, sengketa dengan Apple, “masalah paling sulit yang pernah dia alami di pemerintahan.”
Sengketa itu adalah yang terbaru, dan menunjukkan frustrasi aparat penegak hukum yang mengeluh metode enkripsi lebih baru oleh perusahaan seperti Apple menyulitkan penyelidikan yang melibatkan penggunaan teknologi oleh tersangka kriminal. Apple memperkuat enkripsi ponsel tahun 2014, karena meningkatnya kekhawatiran publik akan privasi digital. [JX/VOA/Eka]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here