Persaingan Para Calon Atau Persaingan Antarpartai

Tampaknya persaingan untuk menduduki jabatan Gubernur DKI Jakarta makin seru. Sebab yang nongol bukan hanya para calon gubernur saja, tetapi keramaian ini semakin berwarna dengan bermunculan partai-partai yang mendukung atau menjagokan kembali Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok untuk menjabat kedua kalinya sebagai gubernur.

Kenyataannya memang sudah ada beberapa nama calon yang tampaknya diusung oleh beberapa partai besar. Sementara calon yang maju melalui jalur independen cuma Ahok. Dukungan Ahok di jalur independen digalang oleh “Teman Ahok” yang telah menghimpun dukungan melampaui yang dipersyaratkan Komisi Pemilihan Umum.

Namun di sisi lain, Ahok terbuka atas segala dukungan yang datang dari partai-partai. Artinya, pintu sudah dibuka oleh Ahok, sekarang tinggal bagaimana partai menyikapinya. Akan ragu, malu, atau mengajukan calon lain sebagai lawan tanding Ahok.

Ada beberapa partai ada yang dengan tegas mendukung Ahok, tetapi ada pula yang “malu-malu” secara terus terang mengusung Ahok. Yang pasti Partai Nasional Demokrat (Nasdem), sudah awal Februari tahun ini menyebutkan dengan terang mendukung Ahok, tanpa syarat apa pun. Itu kata Partai Nasdem.

Partai Gerindra, yang dulu menjadi basis naiknya Ahok sebagai Wakil Gubernur DKI berpasangan dengan Joko Widodo yang kala itu menjadi gubernurnya, masuk dalam kategori “malu-malu” mendukung. Mungkin masih ada kemarahan lama, yaitu Ahok mundur dari Gerindra, di tengah perjalanannya sebagai orang nomor satu di DKI.

Secara partai mungkin, Gerindra belum memutuskan atau bahkan nanti “tidak mendukung” Ahok. Bisa jadi seperti itu. Namun ada beberapa petinggi partai itu yang menyatakan mendukung Ahok. Nah ini pertanda sebagai keputusan partai atau hanya “leputan-letupan” kecil yang nanti menjadi sebuah “letupan” besar pada saatnya. Apakah suara partai ini nanti juga akan terpecah, kita belum tahu. Belum ada keputusan resmi partai.

Sementara bagaimana PDIP, yang notebene wakil Ahok saat ini, Djarot Saiful Hidayat, adalah pejabat dari partai itu. Ahok pun menunggu. Menunggu kepastian PDIP supaya menempatkan kembali Djarot mendapingi Ahok maju ke pemilihan periode kedua. Artinya, bila PDIP kembali “menugaskan” Djarot mendampingi Ahok, maka secara tidak langsung PDIP mendukung pasangan itu. Mendukung pasangan itu berarti mendukung Ahok pula.

Terlepas dari dukung-mendukung partai, persaingan di pemilihan DKI 1 ini akan semakin seru. Nama-nama seperti Yusril Izha Mahendra, Sandiaga Uno, dan Adhyaksa Dault meramaikan persaingan di DKI 1. Tetapi persaingan antarpartai pun juga ramai. Walau pun dukung-mendukung partai ini, tanpa syarat, tetapi mungkin ada “tujuan-tujuan” tertentu yang ingin dicapai partai-partai ini.

Tampaknya partai-partai ini pun akan berpikir keras supaya calon mereka “layak” diterima warga Jakarta. Sebab untuk memimpin Jakarta saat ini, bukan hanya semata memiliki pribadi yang baik, tetapi tegas, jujur, adil, dan tanpa pandang bulu. Untuk memimpin Jakarta bukan semata orang itu hebat di konsep, tetapi harus pula hebat mengejawantahkan konsep itu, sehingga masyarakat dapat melihat dan mengalami sendiri hasilnya secara langsung. Jadi, wahai partai-partai berpikirlah untuk mengajukan calon yang pantas dan layak memimpin Jakarta.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here