Presiden Akui Ada Kekurangan pada Tim Ekonominya

Presiden Joko Widodo. (Foto: Ist./W5)

JAKARTA, JIA XIANG – Nilati tukar rupiah yang cenderung melemah dipicu oleh rendahnya kepercayaan pasar terhadap tim ekonomi kabinet pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Demikian masukan dari 10 ekonom dari sejumlah perguruan tinggi kepada Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (29/6/15).
Wakil Presiden Jusuf Kalla turut mendampingi Joko Widodo. Adapun 11 ekonom yang diterima Presiden masing-masing Arif Budimanta, Iman Sugema, Hendri Saparini, Djisman Simanjuntak, Anton Gunawan, Destry Damayanti, Tony Prasetyantoko, Poltak Hotradero, Lin Che Wei dan Raden Pardede.
Dalam pertemuan ini disinggung pula performa tim ekonomi pada kabinet dan masalah nilai tukar rupiah. Menururt pakar ekonomi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasetiantono masalah nilai tukar rupiah memang juga terkait dengan kebijakan ekonomi di Amerika Serikat.
“Tapi ada faktor x yang fundamental. Rupiah melemah disebabkan karena rendahnya kepercayaan pasar pada kabinet atau ekspektasinya tak tercapai. Mustinya rupiah tak selemah sekarang,” ujarnya.
Dibandingkan dengan krisis ekonomi tahun 1998 lalu, menurut dia, kondisi saat ini tidak separah tahun itu. “Dibanding 98 hampir semua bank collapse. Jadi sebetulnya dari sisi fundamental kita bisa ekspektasi tapi yang lemah confident atau trust kepada tim ekonomi,” ujar Tony.
Dia menyarankan, sentimen pasar harus direbut pemerintah melalui sejumlah langkah. Selain itu, tuturnya, Presiden membutuhkan playmaker dalam tim ekonomi kabinetnya.
“Jadi kita butuh playmaker. Sekali lagi ekonomi itu tak hanya data statistik. Sentimen inilah yang harus direbut. Ekonomi kan ada faktor sentimen. Ketika kita lagi gembira kita belanja sekarang ketika tidak gembira ya belanja direm,” paparnya.
Tanggapan Presiden, menurut Tony membuatnya surprise. Presiden, katanya, juga menyadari ada kekurangan tim ekonomi pada kabinetnya. “Beliau menyadari bahwa kita perlu menteri-menteri yang aksentuatif. Dan saya sangat suprise,” ungkapnya.
Sementara ekonom Universitas Atmajaya Agustinus Prasetyantoko pun mengemukakan bahwa Presiden mendengarkan pandangan dan masukan dari 10 ekonom yang diminta hadir. Presiden pun memahami langkah-langkah yang harus diambil untuk mengantisipasi kondisi ekonomi yang tidak menguntungkan.

“Semester kedua kita harapkan ada percepatan ekonomi kita, pemerintah mengerti apa yang dilakukan, presiden cek langsung. Mudah-mudahan ini menjadi kebijakan yang sifatnya institusional,” tuturnya. [JX/W5]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here