Presiden Filipina Perintahkan Pasukannya Duduki Sejumlah Pulau di LCS

(Foto: JX/CSIS)

MANILA, JIA XIANG – Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, telah memerintahkan pasukan militer negara tersebut untuk menduduki sejumlah pulau dan karang yang disengketakan di Laut Cina Selatan (LCS).

“Sepertinya semua pihak mencoba merebut pulau-pulau di sana. Jadi mari diami pulau tidak berpenghuni yang merupakan milik kita,” kata Duterte kepada wartawan dalam suatu kunjungan ke pangkalan militer di Palawan.

Langkah Duterte diperkirakan akan membuat Cina meradang mengingat negara itu telah mengklaim sebagian besar dangkalan, pulau kecil, dan karang di LCS. Bulan lalu, Duterte mengatakan percuma menentang Cina,  mengingat Cina telah melaksanakan pembangunan pulau buatan di LCS selama beberapa tahun terakhir.

“Kita tidak bisa menghentikan mereka karena mereka membangun dengan keyakinan bahwa mereka memiliki tempat itu. Cina akan menggelar perang.”

Perubahan sikap Duterte ditandai dengan rencana kunjungannya ke Thitu, sebuah pulau yang dikuasai Filipina di LCS. Pria berusia 72 tahun itu mengutarakan keinginannya untuk mengerek bendera Filipina pada 12 Juni, tepat pada hari kemerdekaan.Dia juga mengusulkan agar sejumlah barak dibangun guna menampung para serdadu Filipina.

Pernyataan Duterte mengenai Cina dan LCS beberapa kali berubah. Saat berkampanye dalam pilpres, dia menegaskan tekadnya untuk memperkuat klaim Filipina atas sejumlah lokasi di LCS. Bahkan, dengan nada berkelakar, dia mengatakan bakal menaiki jet-ski ke pulau buatan Cina untuk menegaskan klaim Manila.

Akan tetapi, pada Oktober lalu, Duterte mengumumkan “perpisahan” dengan Amerika Serikat. Saat itu dia mendeklarasikan bahwa pemerintahannya akan membentuk persekutuan Filipina-Cina serta akan menyelesaikan sengketa LCS melalui perundingan.

Cina saat ini menguasai sejumlah karang di LCS, antara lain Scarborough Shoal yang direbut dari Manila pada 2012.  Karang itu terletak 230 kilometer dari Pulau Luzon, pulau terbesar di Filipina. [JX/BBC/SCMP/Eka]

Rekam jejak sengketa LCS antara Filipina dan Cina

  • 1974: Cina merebut Kepulauan Paracel dari Vietnam seraya membunuh lebih dari 70 serdadu Vietnam
  • 1988: Vietnam dan Cina kembali bentrok dalam memperebutkan Kepulauan Spratly. Vietnam kehilangan 60 pelaut.
  • Awal 2012: Angkatan Laut Cina dan Filipina terlibat dalam ketegangan di perairan Laut Cina Selatan. Kedua negara saling menuduh campur tangan atas Scarborough Shoal.
  • Akhir 2012: Ada klaim yang tidak bisa diverifikasi bahwa Angkatan Laut Cina menyabotase dua operasi eksplorasi maritim Vietnam. Hal ini meletupkan gelombang demonstrasi anti-Cina di Vietnam.
  • Januari 2013: Manila membawa Cina ke Mahkamah Arbitrase PBB berdasarkan Konvensi PBB mengenai Hukum Laut untuk menantang klaim Cina atas LCS
  • Mei 2014: Pengeboran di dekat Kepulauan Paracel menyebabkan beberapa kapal Cina dan Vietnam terlibat tabrakan beruntun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here