Presiden Joko Widodo : Senjata dan Kekuatan Militer Saja Tak Mampu Atasi Terorisme

Presiden Joko Widodo (berdasi merah) berfoto bersama para peserta KTT ISlam Amerika, di Riyadh, Arab Saudi. (Foto: JX/BBC)

RIYADH, JIA XIANG – Presiden Joko Widodo menekankan pentingnya pendekatan agama dan budaya untuk mengatasi terorisme. Hal itu diungkapkan Presiden ketika berbicara di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Arab Islam Amerika, di Riyadh, Arab Saudi, Minggu (21/5/17).

Dalam pidato yang disampaikan di hadapan Raja Salman dari Arab Saudi dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, Presiden Jokowi mengatakan senjata dan kekuatan militer saja tidak akan mampu mengatasi terorisme.

Indonesia, menurut Presiden, mengimbangi pendekatan hard-power dengan pendekatan soft-power melalui pendekatan agama dan budaya.

“Untuk program deradikalisasi, misalnya, otoritas Indonesia melibatkan masyarakat, keluarga–termasuk keluarga mantan narapidana terorisme yang sudah sadar–dan organisasi masyarakat,” ujar Jokowi.

Untuk kontraradikalisasi, lanjut Presiden, pemerintah Indonesia merekrut para netizen muda dengan pengikut banyak untuk menyebarkan pesan-pesan damai. “Kita juga melibatkan dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama untuk terus mensyiarkan Islam yang damai dan toleran,” tutur Presiden.

Pada kesempatan itu, Presiden Jokowi menyampaikan empat pemikirannya yang mencakup persatuan umat Islam untuk memberantas terorisme; peningkatan kerja sama pemberantasan radikalisme dan terorisme; penyelesaian akar masalah radikalisme termasuk pemberdayaan ekonomi yang inklusif; serta berani menjadi bagian dari solusi dari upaya pemberantasan terorisme. [JX/BBC/Eka]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here