Presiden Kita Semua

Oleh : Iman Sjahputra

Pada Jumat (2/12/16), unjuk rasa 212 berjalan lancar dan damai. Di bawah guyuran hujan umat bersama-sama menggelar shalat Jumat.   Dan memang Aksi Damai Bela Islam-III benar-benar berjalan  damai. Paling tidak itulah yang diharapkan banyak pihak, supaya Aksi Damai dalam mengekspresikan keinginan bersama berjalan tertib, tanpa terjadi insiden yang tidak kita harapkan.

Sebelum shalat Jumat di gelar,  di tengah guyuran hujan yang membasahi Ibu Kota, datang dari arah Istana, Presiden Joko Widodo didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla bersama beberapa petinggi lainnya, menuju Monas, tempat digelarnya shalat Jumat bersama.

Mungkin bagi para peserta Aksi Damai, datangnya Presiden Joko Widodo, di tengah kerumunan massa, tentunya memberi kejutan tersendiri. Dan mungkin pula, ada yang bertanya-tanya, ada gerangan apa dengan munculnya Presiden kala itu.

Yang pasti banyak pihak juga tidak akan menduga kalau Presiden akan muncul, sebab pada aksi unjuk rasa 4 November lalu, upaya pengunjuk rasa menemui Presiden, tidak membuahkan hasil. Tetapi kini, hal yang diharapkan itu pun ternyata terjadi.

Dan ternyata banyak spekulasi bermunculan di berbagai media yang beredar. Ada sejumlah pandangan yang terlontar dengan berbagai analisis maupun perkiraan-perkiraan. Tetapi yang pasti hadirnya orang nomor satu di negeri ini memberi arti besar bagi banyak pihak.

Memang sebelumnya, suasana di negeri ini diwarnai meningkatnya “suhu politik”  yang membuat warga negara  ini banyak yang berspekulasi tentang apa yang terjadi di masa depan.  Panasnya suasana ini memang tidak lepas dari berbagai pandangan atau kondisi yang terjadi sebelumnya, yang ujung-ujungnya memang banyak pendapat menyebutkan Presiden sebagai sasaran “serangan”.  Akhirnya berhembuslah berita tenang upaya menumbangkan pemerintah, menjatuhkan presiden, sampai pada  cara yang disebut dengan makar.

Nah suasana ini pun membuat suhu politik pun bertambah tinggi. Hingga aksi 212 yang akan digelarpun membuat orang menjadi khawatir. Tentunya kekhawatiran ini beralasan. Wajarlah bila memang orang patut waspada dalam menghadapi situasi seperti ini.

Yang pasti dan jelas, langkah presiden sebelumnya,  menemui berbagai pihak mulai dari kalangan petinggi partai, para pemuka agama, hingga ke kalangan tertentu seperti kepolisian dan militer, sebenarnya bukan beralasan memperlihatkan kekuatan, tetapi semata menenangkan suasana, dan menumbuhkan kepercayaan bahwa persatuan dan kesatuan negeri ini masih terjaga dan utuh.

Walau pun ada penangkapan beberapa tokoh yang oleh pihak keamanan dianggap berupaya makar, pada Jumat dini hari, tetapi suasana di negeri ini tetap terkendali. Buktinya, unjuk Aksi Damai  212 berjalan lancar dan damai.

Yang terpenting, puncak dari semua keadaan itu adalah munculnya Presiden Joko Widodo dan sekaligus shalat bersama di tengah massa. Ini bukti dari sebuah langkah yang elegan dari seorang presiden.  Apa pun pendapat orang, tentang peristiwa pada Jumat siang itu, yang pasti Presiden memperlihatkan sikap yang menunjukkan bahwa Presiden Joko Widodo, bukan milik sekelompok pihak atau orang tertentu, tetapi Presiden Republik Indonesia, milik seluruh warga negara ini.

Kondisi siang itu sekaligus memperlihatkan bahwa walaupun berbeda pandangan dalam beberapa hal, tetapi yang namanya Presiden memang harus menemui siapa saja, semua kalangan, sebab Joko Widodo adalah Presiden Republik Indonesia.

Tidak kalah menarik, sikap Presiden itu, memperlihatkan walaupun berbeda pandangan, bukan berarti kita harus membenci, sebab semua warga negara Indonesia, pada dasarnya adalah satu keluarga, yaitu keluarga besar Republik Indonesia, yang hidup dan berada di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dan rupanya, sikap membenci dan menjauhkan diri, bukan mengatasi persoalan, tetapi justru akan memperkeruh suasana. Bisa jadi tidak akan mendapat titik terang untuk mengatasi persoalan bersama, persoalan kebangsaan yang begitu besar.

Jadi, alangkah baiknya, bila kita juga mencontoh sikap Presiden yang sama-sama saling memberikan perhatian dan menghargai siapa saja, termasuk mereka yang berbeda pandangan. Dengan kata lain, mari kita sama-sama menjaga persaudaraan, dan persahabatan. Dan mulailah dari diri sendiri, hingga ke lingkungan yang lebih besar yaitu sebagai bangsa dan negara, Republik Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here