Proyek Mobil Listrik Sudah Ada di Dalam Peta Jalan Pemerintah

PT Nissan Motor Indonesia luncurkan mobil hybrid sebagai kendaraan masa depan. (Foto: JX/BSD/Win)

JAKARTA, JIA XIANG – Kementerian Perindustrian memastikan proyek mobil listrik sudah ada di dalam peta jalan Pemerintah untuk pengembangan industri otomotif di Indonesia. Hingga kini, kementerian ini mencatat, populasi mobil listrik di dunia sekitar 4 juta unit dan diperkirakan pada tahun 2020 mencapai 10 juta unit.

Hal tersebut dipaparkan Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian I Gusti Putu Suryawirawan dalam diskusi oleh Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI) di Jakarta, Selasa (29/8/17).

Dalam diskusi bertema “Seabad Otomotif Imdonesia”, yang dipandu Ketua PDBI Christianto Wibisono, juga menghadirkan Ketua Gaikindo Jongkie Sugiarto dan Presiden Direktur PT Toyota Motor Mfg. Indonesia Warih Andang Tjahjono sebagai pembicara.

Menurut Putu, industri otomotif di Indonesia harus mengikuti perkembangan mobil listrik di negara-negara maju. Pemerintah pun mendorong industri otomotif menghasilkan kendaraan yang hemat energi dan ramah lingkungan.

“Jadi bagaimana mendorong industri yang sudah ada mau masuk ke dalam produksi kendaraan listrik. Kan sudah ada industrinya. Kami minta mereka sebagai produsen mempelajari teknologinya,” jelas Putu.

Pada tahap awal, lanjutnya, teknologi yang memungkinkan untuk dikembangkan adalah mobil hybrid, kendaraan yang menggunakan dua jenis teknologi untuk sumber tenaganya, yakni mesin bensin dan baterai.

“Dengan infrastruktur yang ada di Indonesia, teknologi hybrid lebih memungkinkan untuk diaplikasikan, dibandingkan mesin listrik secara tunggal. Saat ini produsen otomotif Jepang pendekatannya lebih pada pengembangan hybrid, bukan electric vehicle,” ujarnya.

Ketua Gaikindo Jomgkie Sugiarto, dalam kesempatan itu, kembali mengingatkan pemerintah untuk merevisi ketentuan yang mengatur industri otomotif agar para pelaku di sektor ini bergairah untuk memproduksi kendaraan masa depan yang lebih ramah lingkungan dan hemat bahan bakar.

Salah satunya, menurut dia, adalah harmonisasi tarif. Sebab,lanjutnya, ketentuan tentang ini belum menciptakan minat industri otomotif di Indonesia untuk memproduksi kendaraan yang laku bila diekspor ke luar negeri. “Yang diproduksi masih untuk pasar dalam negeri,” kata Jongkie.

Putu, dalam tanggapannya, minta para pelaku industri otomotif bersabar. Pemerintah, jelasnya, pun telah mendapat masukan bahwa  untuk menarik minat industri otomotif di Indonesia memproduksi mobil listrik, pemerintah perlu mengkaji kembali struktur perpajakan kendaraan yang saat ini berlaku. Dengan demikian ada insentif bagi pelaku industri kendaraan.[JX/Win]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here