Qu Yuan dan Peh Cun

Bakcang (Foto-foto: JX/Iman Sjahputra)

JAKARTA, JIA XIANG – Festival Duan Wu Jie (端午節) atau biasa disebut Festival Twan Yang (Peh Cun, Bak Cang) menurut kalender Tionghoa jatuh setiap tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek. Tetapi pada tahun ini justru kegiatan atau perayaan itu dilaksanakan pada Kamis (9/6/16).Beberapa kelenteng tampaknya akan mengadakan sembahyang dan ritual Peh Chun. Namun karena bertepatan dengan bulan Ramadan, maka kemungkinan beberapa tempat hanya menyelenggarakan sembahyang saja, tanpa diikuti kegiatan panggung lainnya.bakcang 2
Menurut tulisan yang diturunkan oleh Tionghoa.info, Twan Yang memiliki dua makna yaitu Twan : lurus, terkemuka, terang, yang menjadi pokok atau sumber. Yang : sifat positif atau matahari. Jadi Twan Yang ialah saat matahari memancarkan cahaya paling keras. Hari Raya ini dinamai pula Duan Wu. Wu artinya saat antara jam 11.00 hingga 13.00, jadi perayaan ini tepatnya ialah pada saat tengah hari.
Tidak heran bila banyak orang percaya, rebusan obat-obatan yang dipetik saat itu akan besar khasiatnya. Sebab letak matahari tegak lurus, orang percaya telur ayam juga bila ditegakkan saat itu akan dapat berdiri tegak lurus.
Hari raya ini juga disebut Peh Cun yang artinya merengkuh Dayung atau Beratus Perahu. Dinamai demikian karena pada hari itu sering diadakan perlombaan dengan banyak perahu. Tentang perlombaan dengan perahu di sungai-sungai itu dikaitkan dengan suatu peristiwa pada hari Duan Wu pada zaman Sam Kok di era Dinasti Chu.
Dinasti Chu pada zaman Sam Kok atau Peperangan (403 SM – 231 SM) tidak berarti lagi sebagai negara pusat. Saat itu ada tujuh negara besar, ialah Qi, Chu, Yan, Han, Zhao, Wei dan Qin. Negeri Qin, paling kuat dan agresif, maka enam negeri lainnya sering bersekutu untuk bersama-sama menghadapi Qin.
Adalah Qu Yuan (Khut Guan), menteri besar di negeri Chu. Dia, tokoh paling berhasil menyatukan keenam negeri itu untuk menghadapi Qin. Tidak heran bila orang-orang negeri Qin berusaha terus menjatuhkan nama baik Qu Yuan. Di negeri Chu ternyata banyak pula menteri-menteri yang tidak setia. Dengan bantuan orang-orang itu, Tio Gi, menteri di negeri Qin yang cerdik dan licin berhasil meretakkan hubungan Qu Yuan dengan raja negeri Chu.
Qu Yuan pun dipecat dan hancurlah persatuan ke enam negeri itu. Cho Hwai Ong bahkan terbujuk oleh janji-janji yang menyenangkan, agar mau datang ke negeri Qin. Namun setibanya di sana dia justru ditawan hingga wafat. Raja negeri Chu yang baru, Cho Cing Siang Ong, kembali memberikan kepercayaan pada Qu Yuan. Ke enam negeri dapat dipersatukan kembali sekalipun tidak sekokoh dulu. Pada tahun 293 SM negeri Han dan Wei diserang negeri Qin, hancurn dan binasa.
Qu Yuan kembali difitnah. Dia dituduh akan membawa negeri Chu sama seperti negeri Han dan negeri Wei. Raja Cho Cing Siang Ong akhirnya tidak saja memecat Qu Yuan, bahkan dia dibuang dibuang ke daerah Danau Tong Ting, dekat sungai Mi Luo.bakcang 3
Ditempat pembuangan ini Qu Yuan hampir-hampir tidak tahan. Hanya berkat kebijaksanaan kakak perempuannya, dia akhirnya rela menerima keadaan itu. Maklum, karena dia bangsawan negeri Chu, sehingga tidak dapat melupakan tanggung jawab kepada negara dan leluhurnya. Namun Qu Yuan pun sering kesepian dan timbul kejemuan akan suasana kehidupannya.
Dalam keadaan itu, dia bersahabat dengan seorang nelayan, yang ternyata orang yang pandai. Mereka sering bercakap-cakap meski pandangan hidupnya kadang tak sejalan. Bapak nelayan itu berprinsip agar lebih baik meninggalkan kehidupan bermasyarakat apabila keadaannya buruk; sedangkan Qu Yuan biar pun tidak mau tercemar oleh keserakahan dan kekotoran dunia tetapi tetap berharap dapat mengembangkan kembali jalan kebenaran bagi kesejahteraan dan kebahagiaan rakyat. Di tengah keakraban mereka, pikiran Qu Yuan dihancurkan oleh berita mengenai runtuhnya ibu kota negeri Chu, akibat diserbu orang negeri Qin.
Hal ini menjadikan Qu Yuan yang telah lanjut usia itu merasa tidak berarti bagi hidup pribadinya. Ketika itu kebetulan ialah saat hari suci Duan Wu, beliau mendayung perahunya ke tengah-tengah Sungai Mi Luo, lalu dia menyanyikan sajak-sajak ciptaannya yang telah dikenal rakyat di sekitarnya, tentang rasa cinta tanah air dan rakyatnya.bakcang 4
Rakyat banyak tertegun mendengar semuanya itu. Pada saat itu Qu Yuan tiba di tempat yang jauh dari kerumunan orang, dia melompat ke dalam sungai yang dalam dan deras aliran airnya pada tanggal 5 bulan 5 (penanggalan Imlek). Beberapa orang yang mengetahuinya segera menolongnya, tetapi hasilnya nihil, jenazahnya pun tidak ditemukan. Seharian kawan Qu Yuan yang seorang nelayan itu, dengan menggunakan perahu-perahu kecil mengerahkan kawan-kawannya mencari, tapi hasilnya sia-sia belaka.
Rakyat yang kemudian merasa sedih kemudian mencari-cari jenazah sang menteri di sungai tersebut. Mereka lalu melemparkan nasi dan makanan lain ke dalam sungai dengan maksud agar ikan dan udang dalam sungai tersebut tidak mengganggu jenazah sang menteri.
Kemudian untuk menghindari makanan tersebut dari naga dalam sungai itu, maka mereka membungkusnya dengan daun-daunan yang kita kenal sebagai bakcang sekarang. Para nelayan yang mencari-cari jenazah sang menteri dengan berperahu akhirnya menjadi cikal bakal dari perlombaan perahu naga setiap tahunnya. Ini juga yang melatarbelakangi sebagian kelenteng di Indonesia masih mengadakan “ritual” membuang/mengarung Bakcang ke laut setiap sembahyang tanggal 05 bulan 05 Imlek.
Pada tahun-tahun berikutnya, kebiasaan mempersembahkan beras di dalam tempurung bambu itu diganti dengan kue dari beras ketan yang dibungkus daun bambu. Di sini dikenal dengan nama Bak Cang atau Kue Cang. Diadakan perlombaan-perlombaan perahu yang dihiasi gambar-gambar naga, semuanya mengingatkan usaha mencari jenazah Qu Yuan, seorang pecinta tanah air dan rakyatnya. Demikianlah tiap hari raya Duan Wu selalu diadakan pula peringatan untuk Qu Yuan, seorang yang berjiwa mulia dan luhur dari negeri Chu itu. [JX/Eka]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here