Rapimnas yang Panas

Rapat  Pimpinan Nasional (Rapimnas) ke-5 Partai Golkar memanas. Sejak awal dimulainya Rapimnas ini suasana rapat sudah diwarnai berbagai gangguan. Sebut saja, ketidakpuasan DPD II (kabupaten/kota) yang protes karena tidak diikutsertakan dalam perhelatan nasional partai berlambang pohon beringin ini.

Hingga di penghujung Rapimnas, suasana pun tidak kunjung reda, padahal barisan sudah harus diperkuat karena Pemilu sudah tinggal beberapa bulan lagi. Kritikan terhadap kepemimpinan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie (Ical), yang sekaligus calon presiden dari partai ini pun tampaknya masih belum “diterima” banyak pihak.

DPD sudah tersinggung lebih dulu, karena merasa tidak dilibatkan dalam penentuan pencalonan Ical itu. Ketidakpuasan ini belum reda, senior Golkar, Akbar Tanjung pun buka suara.  Ada kesan Akbar “condong”  ke DPD.  Dalam kondisi seperti ini, DPD pun merasa didukung, sehingga memungkinkan bersikap lebih keras dan tegas.

Untuk menjadi sempalan, bisa saja, tetapi menjadi Golkar tandingan atau Golkar Perjuangan, tampaknya hal itu kecil kemungkinan terjadi. Sebab dalam sejarah partai itu, meski beberapa kali terancam pecah, soliditas organisasi politik bekas penguasa Indonesia tersebut tetap terjaga.

Banyak konflik terjadi terutama sejak tahun 1998, tatkala hasil Munaslub menumbangkan pihak tertentu, akibatnya muncul partai baru. Tahun 1999, pro dan kontra pertanggungjawaban BJ Habibie juga sempat mengobok-obok internal partai ini. Bahkan mahasiswa menuntut pembubaran Partai Golkar yang dianggap penyebab utama krisis di Indonesia. Golkar juga pernah “digoyang” dengan desakan kepada pemeritah saat Gus Dur jadi presiden untuk menerbitkan Keppres pembekuan partai itu.

Konflik-konflik itu selalu berujung pada penyelesaian yang tidak berdampak pada “babak-belurnya” Partai Golkar. Kalau partai lain, perpecahan internal lebih seru dibanding Golkar. Dengan kata lain, Partai Golkar mempunyai mekanisme penyelesaian konflik, yang tidak sampai pada upaya merusak organisasi kepartaian secara keseluruhan.

Penyelesaian di tingkat internal Partai Golkar ini justru membuatnya semakin digoyang semakin solid. Bahkan setelah melalui masa krisis itu, Partai Golkar justru membuktikan keperkasaannya  unggul di Pemilu 2004, mengalahkan perolehan suara PDIP  yang di Pemilu sebelumnya (1999) meraih suara terbanyak.

Namun kali ini apakah Partai Golkar bisa sesolid di masa-masa lalu. Perjalanan masih panjang, begitu juga perjalanan Ical menuju kursi calon presiden (2014-2019) dari Golkar. Kerikil dan jalan berlubang masih harus dilalui. Bukan cuma itu, dia pun masih harus berhadapan dengan para dedengkot partai itu yang masih bercokol di partai.

Bahkan, di tingkat internal Golkar, pencalonan Ical masih ditanggapi pesimistis. Mereka mengkhawatirkan pencalonan ini justru menjadi kontraproduktif, yang ujung-ujungnya turunnya perolehan suara Golkar di Pemilu 2014.

Karena itu, sepatutnya Ical juga harus berpikir dua kali, menyelamatkan suara partai atau terus maju sebagai calon presiden. Bahkan tindakan Ical yang dianggap eksperimen itu, termasuk cara yang bisa mengancam eksistensi partai.

Dari suasana batin yang ada pada Rampimnas ke-5 ini, tampaknya Ical akan terus maju, bahkan dalam pidatonya suara lantang Ical menegaskan “Layar sudah terkembang pantang untuk surut”. Artinya, sejak saat ini Partai Golkar harus siap-siap dengan semua konsekuensi buruk, termasuk untuk terpuruk di Pemilu 2014. Bukan cuma itu, perpecahan partai yang ada di depan mata akan benar-benar terjadi.

Tentunya, kondisi inilah yang diharapkan oleh pihak lawan. Karena itu, sekarang bukan hanya Ical saja yang harus berpikir keras lagi tentang pencalonan itu, tetapi para politisi senior dan kader Golkar lainnya sebaiknya berpikir jernih. Mengajukan calon presiden yang benar-benar diinginkan rakyat Indonesia, bukan yang hanya diinginkan partai atau orang-orang tertentu. Siapa orangnya? Yang pasti dia harus jujur, bersih, berhatinurani, dicintai dan mencintai rakyatnya.

SHARE
Previous articleToleransi
Next articleHukum dan Rasa Keadilan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here