Reaktor Nuklir Baru Tiongkok Belum Jalani Tes

BEIJING, JIA XIANG – Dua reaktor nuklir baru Tiongkok di Taishan, Guangdong, tidak menjalani tes kualitas seperti reactor serupa yang beroperasi di Perancis yang ditemukan adanya titik-titik kelemahan yaitu rentan terhadap keretakan.

Tes khusus di reaktor nuklir EPR Flamanville, adalah satu-satunya reaktor yang menjalani tes tahun lalu setelah Perancis memperketat regulasi keselamatan nuklir. Demikian diungkapkan oleh Badan Keselamatan Nuklir (ASN) Perancis kepada South China Morning Post.

Bahkan sejak EPR Taishan, yang diproduksi Areva dari Perancis, dikirim langsung ke Tiongkok, tidak Ada satu pun perangkat tersebut yang menjalani tes. Itu artinya pembangkit listrik Taishan senilai 50 miliar yuan (63 miliar dollar HK), dan berjarak 80 km dari Zhuhai dan Macau, bisa terganggu oleh masalah yang sama dan tidak terdeteksi.

Titik-titik kelemahan di  baja pelindung reaktor adalah persoalan serius –  sekali diinstal, pelindung itu  tidak dapat diganti seluruhnya selama 60 tahun beroperasinya reaktor nuklir.

Tes di Perancis menemukan bahwa karbon yang berlebihan dalam baja pelindung yang dibentuk dipucuk dan dasar reactor dapat menyebabkan keretakan tak terduga yang kemudian bisa menyebar lebih besar.

Berita soal hasil tes dan keretakan itu sungguh mengejutkan  dalam mengembangkan sektor nuklir Tiongkok. Dengan tenggat waktu penyelesaian proyek reaktor nuklir tahap  pertama akhir tahun ini, maka pabrik Taishan EPR adalah tonggak  bagi sektor nuklir Tiongkok.
Reaktor nuklir itu memiliki dua reaktor air bertekanan 1,75GW terbaru merupakan generator listrik tunggal terbesar di dunia dan proses operasinya dikatakan paling aman.
Karena reaktor Taishan belum menjalani tes apa pun, maka bisa disebutkan bahwa  hingga kini belum diketahui secara pasti apakah reaktor Taishan akan memenuhi standar ketat yang ada di Perancis.
“Reaktor itu harus menjalani tes  yang non destruktif pada produk mereka untuk menjamin kepatuhan mereka,” kata ASN. “Namun, beberapa peralatan mekanik hanya dapat diukur dengan tes destruktif.”

Menyusul revisi regulasi di Perancis, tahun 2005, ASN mempersyaratkan sebuah reactor untuk melaksanakan tes destruktif dan non destruktif pada peralatan (yang memang dihancurkan selama tes) . Hal ini untuk memenuhi syarat proses operasinya.

Namun menurut Areva, produsen reactor nuklir itu, reactor Taishan sudah memenuhi standar Tiongkok.   [JX/Eka]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here