Reputasi

BEIJING, JIA XIANG – Selama masa pemerintahan Kaisar Wu dari Dinasti Han, ada seorang jenderal bernama Li Ling. Dia terkenal karena keberaniannya dan keterampilan dalam pertempuran.
Jenderal Li Ling ditunjuk untuk memimpin pasukan melawan Xiongnu, musuh Tiongkok di sebelah utara. Pertempuran demi pertempuran, dia mampu mengalahkan Xiongnu dan memperoleh kemenangan bagi Dinasti Han.
Begitu dia kembali ke ibukota, Kaisar Wu menyambut Li Ling dengan tepuk tangan atas pelayanannya bagi kerajaan. Para bangsawan dan pejabat kerajaan pun setuju sekaligus memuji kaisar untuk matanya yang begitu jeli memilih seperti seorang jenderal brilian.
Namun, pada tahun 99 SM, ketika sebuah berita sampai di ibukota bahwa Jenderal Li telah dikalahkan dan menyerah kepada Xiongnu. Kaisar Wu pun sangat marah dan mengecam Jenderal Li. Kaisar menyebut Li sebagai pengkhianat. Para pejabat kerajaan pun setuju lagi dengan kaisar. Mereka ikut mencela Li sebagai seorang jenderal yang tidak loyal dan ceroboh.
Tetapi ada seseorang bernama Sima Qian (司馬遷), sejarawan kekaisaran, dialah satu-satunya orang yang tidak mengatakan apa-apa. Melihat ini, Kaisar Wu pun meminta Sima Qian mengemukakan Pendapatnya mengenai Jenderal Li.
“Kaisar,” kata Sima Qian, “Jenderal Li telah melalui berbagai peluang yang sangat besar. Sementara dia hanya memiliki sekitar 5.000 tentara. Xiongnu memiliki sekitar 80.000 tentara berkuda. Namun, meskipun peluang itu ada, ia telah berjuang dengan keberanian yang besar selama lebih dari 10 hari sebelum menyerah. Selama proses itu, dia berhasil melukai sekitar 10.000 tentara Xiongnu. Ini adalah keberanian besar, bukan kecerobohan. ”
Bahkan, General Li hanya menyerah ketika dia melihat bahwa Xiongnu telah meninggalkan prajuritnya, tidak ada jalan keluar, dan pasukannya kehabisan perbekalan. Dia telah menyerah untuk menunggu kesempatan yang lebih baik guna menyerang lagi.
Sima Qian menambahkan bahwa Li Ling adalah seorang jenderal jauh lebih berbakat dari General Li Guangli, salah satu kerabat Kaisar. Mendengar ini, dan menyadari bahwa Sima Qian tidak setuju dengan dia, Kaisar Wu menjadi sangat marah dan melemparkan Sima Qian ke penjara untuk menunggu eksekusi.
Setahun kemudian, para pejabat kekaisaran itu mendengar rumor bahwa Jenderal Li membantu Xiongnu, walau pun hanya melatih pasukannya. Mendengar berita itu, dan tanpa menyelidiki kebenaran rumor tersebut, Kaisar Wu mengeksekusi Ibu dan istri Jenderal Li.
Sima Qiang juga terbawa-bawa karena diduga berbicara buruk tentang kaisar dalam menanggapi tertangkapnya Jenderal Li. Sima Qiang pun akhirnya dihukum kebiri oleh kaisar.
Di masa itu, banyak pria pun berupaya bunuh diri, daripada dipermalukan dan dihina akibat tindakan pengebirian yang dilakukan oleh kerajaan. Tetapi Sima Qian sesungguhnya telah berjanji pada ayahnya bahwa dia akan menyelesaikan penulisan buku sejarah Tiongkok.
Janji dan pandangannya, mungkin satu dari sekian banyak orang, menyebutkan bahwa bunuh diri akan seperti sembilan sapi jantan kehilangan sehelai rambut, tidak banyak terjadi. Inilah yang membuat Sima Qian memutuskan untuk menanggung penghinaan pengebirian dan terus menyelesaikan penulisan Shi Ji (史記) atau “Catatan Sejarah Agung.”
九 牛一毛 (jiǔ Niu yi mao), atau sembilan sapi jantan kehilangan sehelai rambut, digunakan untuk menggambarkan situasi yang tidak besar sama sekali. Hal ini mirip dengan ungkapan bahasa Inggris “setetes air dalam ember.”
Kisah ini juga mengajarkan orang untuk menghargai gambaran yang lebih besar bukan masalah kecil dalam hidup, seperti yang dikatakan dalam idiom 豹 死 留 皮, 人死留名 (bao sǐ liu pí, ren sǐ liu ming), yang berarti ketika harimau mati, meninggalkan belang, tetapi ketika seorang pria meninggal, dia meninggalkan reputasinya. [JX/theepochtimes/Eka]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here