Revitalisasi Kota Tua, Mengapa Terseok?

Jakarta, Jia Xiang – Sudah lebih tiga dekade niat merevitalisasi Kota Tua masih saja terseok.  Meskipun sudah ada yang direnovasi, tetapi tidak sedikit bangunan kuno di bekas Kota Batavia ini kosong tidak terurus dan menyerupai rumah hantu.

Padahal Kota Tua merupakan “saksi sejarah” perjalanan panjang Kota Jakarta. Sejarah Kota Tua dimulai dari sebuah pelabuhan bernama Sunda Kelapa yang berada di Teluk Jakarta.

Abad ke-5 Masehi pelabuhan ini sangat terkenal di Asia Tenggara. Konon, kala itu seorang pengelana Cina bernama Fa Hsien menyebutkan bahwa bentangan teluk Jakarta dikuasai Kerajaan “To Lo Mo” yang maksudnya adalah Tarumanegara.

Pelabuhan Kalapa atau Sunda Kalapa merupakan pelabuhan yang letaknya paling strategis. Pelabuhan ini mencuat pamornya pada abad ke-14 dan semakin beken di awal abad ke-16, ketika orang-orang Portugis di Malaka menjalin kerjasama perdagangan dan pertahanan dengan penguasa Sunda Kalapa pada 21 Agustus 1522 yang diwujudkan ke dalam prasasti Padrao.

Sejak itu kota pelabuhan yang makmur ini menjadi rebutan. Cerita panjang tentang Sunda Kelapa sebagai cikal bakal Kota Jakarta pun dimulai, perebutan wilayah yang diwarnai tumpahan darah dan linangan air mata tercatat ketika Pangeran Fatahillah pada 22 Juni 1527 dikirim Kesultanan Demak untuk menaklukan Pelabuhan Sunda Kelapa, dan setelah ditaklukan namanya pun berganti menjadi Jayakarta.

Meskipun sempat mengundang silang pendapat, namun di masa Walikota Jakarta Sudiro, di tahun 1956, tanggal 22 Juni ditetapkan sebagai hari jadi Kota Jakarta.

Kembali ke masa silam, kedamaian Jayakarta di teluk Jakarta kembali “terkoyak”, lantaran tahun 1619 penjajah Belanda di bawah bendera Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC) dipimpin Jan Pieterszoon Coen memporakporandakan Jayakarta dan mengganti namanya menjadi Batavia.

Revitalisasi

Lantas, cerita Kota Tua inipun tidak bisa dilepaskan dari “sentuhan” masa penjajahan Belanda. Sebab setelah Jan Pieterszoon Coen memporakporandakan Jayakarta, kemudian dia menata kota baru Batavia. Kota ini terpusat di sekitar sisi timur Sungai Ciliwung, yang saat ini menjadi Lapangan Fatahillah. Tahun 1635, kota ini meluas hingga tepi barat Sungai Ciliwung, dan tahun 1712 selesailah dibangun gedung Balai Kota sebagai pusat pemerintahan VOC se-Asia Tenggara.

Gedung Balai Kota itu kini menjadi Museum Fatahillah.
Sedangkan pembangunan Kota Batavia secara keseluruhan selesai tahun 1650. Masa pendudukan Jepang 1942, Batavia kembali berganti nama menjadi Jakarta hingga sekarang.

Catatan sejarah Jakarta tentu masih panjang, tetapi yang pasti Kota Tua sebagai cikal bakal Jakarta pasti sarat sejarah dan makna yang bisa terus digali.

Sebagai peninggalan sejarah, tentu Kota Tua patut untuk dijaga kelestariannya, itu sebabnya sejak era 1970-an, Gubernur Ali Sadikin sudah mecanangkan Kota Tua sebagai situs dan warisan sejarah yang harus dipelihara dan perlu direvitalisasi.

Namun upaya mewujudkannya tidaklah seperti membalik telapak tangan, sebab sampai sekarang revitalisasi Kota Tua belum sesuai harapan.

Banyak hambatan di lapangan baik dari segi birokrasi maupun pendanaan. Revitalisasi tidak bisa dikerjakan sendiri oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, kata Gubernur Joko Widodo.

“Kita harus membentuk konsorsium, melibatkan BUMN dan swasta agar revitalisasi cepat dilakukan,” kata Joko Widodo (Jokowi) kepada Jia Xiang Hometown di Balaikota, Jakarta, Senin (21/10/13).

Jokowi menjelaskan, tak mungkin Pemprov DKI mengerjakan sendiri, karena pemilik bangunan di Kota Tua bukan hanya Pemprov DKI Jakarta, ada swasta dan BUMN. “Itu sebabnya kita bentuk konsorsium dan gandeng swasta agar fleksibel pengerjaannya,” kata Jokowi.

Siapa saja yang dilibatkan? Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, Arie Budiman menuturkan, pihak swasta yang dilibatkan antara lain, Jababeka, Ciputra Gorup, dan Agung Sedayu.

“Namun Pemprov tetap mengendalikan dari segi kebijakan terkait pengembangan infrastruktur,” ujar Arie.

Niat “menata” kembali Kota Tua Jakarta tampaknya cukup serius dengan dibentuknya PT Pembangunan Kota Tua Jakarta dan Kelompok Pelestarian Kota Tua yang dipimpin Presiden Direktur PT Jababeka Tbk SD Darmono.

Menurut Darmono, mimpi melestarikan Kota Tua sudah ada sejak era Gubernur Ali Sadikin. Darmono mengungkapkan bahwa Jakarta ibarat kepala dari badan Indonesia.

“Jangan sampai kawasan-kawasan sejarah ini  hilang. Dulu ada konsorsium seperti ini. Kemudian melobi pemerintah, tapi tidak berjalan. Saya berharap Jokowi serius,” tuturnya.

Jika merujuk  Surat Keputusan (SK) Gubernur tahun 1970, maka penataan Kota Tua mestinya berjalan. Namun,  revitalisasi Kota Tua tetap terseok lantaran Pemrov DKI tidak bisa berjalan sendiri, 70 persen bangunan di kawasan Kota Tua adalah milik BUMN. Padahal di kawasan Kota Tua itu terdapat 134 bangunan peninggalan sejarah yang harus direnovasi.[JX/Yuv/D9]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here