Sambut era Internet of Things, Perlu Inovasi agar Tak Tertinggal Perkembangan Global

Menteri Kominfo Rudiantara didampingi Hasan Aula, CEO Erajaya Group, mengunjungi peserta di pameran Teknopolis 2017. (Foto: Ist./W5)

JAKARTA, JIA XIANG – Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengemukakan perlunya inovasi dalam menyambut era Internet of Things (IoT), agar Indonesia tidak tertinggal dari perkembangan global. “Internet of Things tidak semata-mata bergantiung pada device, namun juga perlu adanya ekosistem dan connectivity,” ujarnya dalam sambutan pembukaan Teknopolis di Jakarta Convention Center, Jumat (9/6/17).

Saat ini, lanjutnya, konektivitas 4G di Indonesia sudah congest atau terlalu penuh. Untuk itu perlu penataan ulang alokasi frekuensi dari para operator di Indonesia. Content juga menjadi ekosistem yang penting dalam perkembangan IoT, terutama di social media.

Berdasar riset terbaru dari World Economic Forum, akan ada 7 (tujuh) teknologi baru yang akan mengubah dunia, meliputi robot (2021), sensor/chip  (2022), digital health/medical (2024) internet of things (2020),  inplanted phone (2024), ride sharing car (2026),  dan Artificial Intelligent (AI) pada 2026.

Indonesia akan memiliki puncak bonus demogtrafi pada tahun 2028-2032. Artinya pada masa-masa itulah generasi usia produktif jumlahnya dua kali lipat dari jumlah usia non-produktif. Pada tahun 2030, ekonomi Indonesia akan setara dengan 2,5 kali ekonomi pada tahun 2016 lalu. Selanjutnya tinggal bagaimana cara bangsa Indonesia untuk mempersiapkan bonus demografi tersebut sehingga bisa menjadi pemenang dengan memanfaatkan perkembangan teknnologi.

Pemerintah, lanjut Rudiantara, sangat mendukung perkembangan Internet of Things, dengan menambahkan spectrum 2.1GHz dan 2.3GHz untuk 4G. Pemerintah juga akan menguji coba jaringan 5G di band 15MHz dan 17MHz.

Dia juga mengatakan bahwa secara infrastruktur ICT, Indonesia masih menempati urutan ke-4 di ASEAN, di belakang Singapura, Malaysia, dan Thailand.  Namun, tuturnya, pemerintah akan terus mendukung perkembangan teknologi dengan penyediaan satelit Palapa Ring berbasis HTS (High Throughput Satellite) yang merupakan leapfrog atau lompatan ke depan sehingga pengembangan teknologi TIK Indonesia bisa sejajar dengan negara-negara berkembang lainnya.

“Semoga pameran Teknopolis ini tidak sekadar tempat jual-beli, melainkan juga menjadi tempat pendidikan/ literasi level bagi masyarakat Indonesia mengenai Internet of Things (IoT). Saya berharap nantinya pameran seperti ini akan ada di kota-kota di luar Jawa,” harap Rudiantara.

Teknopolis yang berlangsung dari tanggal 9 hingga 11 Juni 2017di Hall A JCC merupakan hasil kerja sama antara PT. Erafone Artha Retailindo (ERAFONE) dan PT. Traya Eksibisi Internasional (Traya Events). Teknopolis 2017 menggabungkan pameran teknologi, Internet of Things (IoT), wearable devices dan smartphone. Mengusung tema “Today’s Technology and Beyond”, Teknopolis 2017 menghadirkan puluhan inovasi produk dan teknologi dari beragam merek ternama, seperti Samsung, Xiaomi, DJI, Garmin, Go Pro, Fuji Film, BMW, Tesla

Sementara itu Hasan Aula, CEO PT Erajaya Swasembada Tbk, menyatakan, pameran ini merupakan wujud dari komitmen Erajaya Group sebagai salah satu distributor dan retailer mobile device terbesar Indonesia dalam hal pengembangan industri internet of things (IOT). Selain memamerkan produk dan teknologi terkini dan masa depan, juga memberi kesempatan kepada pengunjung untuk mencoba berbagai inovasi produk teknologi mutakhir.

“Kami berharap Teknopolis mampu mendorong tumbuhnya industri internet of things di Indonesia serta masyarakat digital yang mengikuti perkembangan teknologi,” tuturnya.[JX/Win]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here