Semakin Bebas Memilih

Oleh: Iman Sjahputra

Hari ini, Kamis (4/8/16), Komisi Pemilihan Umum DKI Jakarta membuka kesempatan penyerahan syarat dukungan bagi calon perseorangan. Tapi, untuk maju melalui jalur independen tampaknya sudah tidak menarik lagi. Sebab yang namanya Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama beberapa hari lalu memastikan tidak akan maju melalui jalur ini, tetapi menggunakan panggung partai politik.Partai pendukung Ahok adalah Nasdem, Hanura, dan Golkar. Sementara partai lainnya, termasuk pemilik suara terbesar di DKI yaitu PDIP, masih belum menetapkan sikap. Entah apa yang menjadi pertimbangan partai banteng moncong putih ini, yang pasti belum ada kata final.
Yang menarik lagi adalah menurut KPU DKI ada delapan orang berniat maju pada Pilkada DKI 2017 melalui jalur independen. Walau pun ada delapan orang yang tampaknya bersedia maju, tetapi sejauh ini mereka belum memberikan kepastian. Tampaknya mereka harus bekerja lebih dulu mengumpulkan KTP tanda dukungan, seperti yang dilakukan oleh Ahok.
Artinya, mulai Kamis ini, para calon independen harus menyerahkan data KTP. Lima hari waktu adalah persyaratan yang harus dipenuhi oleh para calon itu untuk menyerahkan data KTP sebanyak 532.213. Tenggat waktunya sampai hari Minggu (7/8/16). Bila kesempatan itu tidak dipenuhi, maka tamatlah riwayat mereka untuk ikut Pilkada DKI Jakarta 2017.
Melihat bermunculan para calon independen ini, tentu menjadi fenomena yang sangat menarik. Sebab, tatkala Ahok berniat maju lewat jalur independen, banyak reaksi yang muncul. Baik yang bernada negatif maupun positif. Reaksi pun berdatangan dari berbagai partai politik. Intinya, orang tidak percaya, dengan mekanisme yang ada di dalam partai politik untuk maju melalui partai.
Kenyataan sekarang, tatkala Ahok maju melalui dukungan partai, justru banyak pihak maju melalui jalur independen. Apa sebenarnya yang terjadi, dengan partai politik. Atau jalur independen lebih nyaman ketimbang partai politik.
Tetapi yang pasti, banyak calon potensial bermunculan, termasuk nama seperti Tri Rismaharini (Walikota Surabaya), dan Ridwan Kamil (Walikota Bandung). Bahkan kini muncul nama-nama baru seperti Rizal Ramli (mantan Menteri Koordinator Bidang Maritim) dan Anies Baswedan (mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan). Sementara salah satu calon independen yang maju adalah Ahmad Taufik dan Mujahidin Hasem.
Terbuka juga peluang untuk semakin ramainya Pilkada DKI ini. Artinya kondisi seperti ini seharusnya sudah terbuka sejak dulu. Mungkin banyak pihak belajar dari langkah yang dijalani Ahok. Tanpa harus menunggu restu partai, siapa saja yang merasa diri berkualitas dan berpotensi membangun Jakarta, dipersilahkan maju.
Bagi warga Jakarta, pilihan pun semakin banyak. Dengan kata lain, warga Jakarta lebih leluasa menentukan calon mereka. Tentunya sambil mempelajari dan menganalisis para calon itu, warga Jakarta bisa memilih calonnya lebih rasional dan tepat.
Munculnya calon-calon dari jalur independen ini, juga menjadi bukti bahwa tidak ada satu calon pun, termasuk Ahok, yang merasa diri paling hebat, dan paling pantas. Dengan langkah ini, menutup kemungkinan terjadi skenario calon tunggal, atau calon lebih kuat, berhadapan dengan lawan yang jauh “lemah”.
Dengan kata lain, tidak ada satu calon, tetapi akan diramaikan dengan pesaing yang pantas untuk bersanding di Pilkada DKI. Siapa pun calonnya, siapa pun lawannya, yang harus diingat adalah warga Jakarta harus Mensukseskan Pilkada ini, sebab kesuksesan ini menjadi titik awal keberhasilan membangun Jakarta.
Kita pun harus percaya kepada para calon. Sebab mereka maju ikut Pilkada memiliki cita-cita luhur yaitu menjadikan Ibu Kota Jakarta sebagai salah satu ikon negeri ini. Keberhasilan pembangunan Jakarta menjadi barometer pembangunan di seluruh Indonesia. Keberhasilan pemimpinnya juga barometer dan rujukan pemimpin yang ideal dalam membangun wilayahnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here