Semarak Cap Go Meh di Kota Amoy

Jia Xiang – Kota Singkawang identik dengan keceriaan dan kemeriahan. Terlebih bila Festival Cap Go Meh tiba. Lima belas hari setelah Imlek ditutup dengan acara besar. Kota amoy ini pun semarak. Cap Go Meh yang jatuh pada Minggu (24/2/12) menjadi puncak bagi keceriaan.

Kegembiraan bukan hanya milik kalangan etnis Tionghoa, tetapi bagi seluruh warga Kota Singkawang, termasuk bagi turis domestik maupun mancanegara yang secara khusus ingit melihat perayaan Cap Go Meh itu.

Keterlibatan seluruh anggota masyarakat yang  ikut serta pada festival Cap Go Meh 2013 ini kental terasa. Tidak peduli asal-usul dan latar belakang yang pasti mereka tumpah ruah, berbaur dan menyatu dalam kegembiraan pesta seluruh rakyat  Kota Singkawang. Kegembiraan itu terlihat di setiap sudut kota, terlebih di Stadion Kridasana yang dilalui pawai naga, barongsai, dan para tatung.

Di jalan Yohana Godang, misalnya, warga sabar menunggu di jalan itu. Bahkan di pusat kota Singkawang juga sudah dipadati pengunjung terutama di dekat Vihara Tri Darma Bumi Raya. Di tempat ini para tatung pun mengakhiri perjalanannya. Dalam iring-iringan pawai itu suara tambur dan simbal pun bertalu-talu, lantas para tatung berjoget di atas beberapa bilah pedang.

“Keramaian ini setiap tahun selalu seperti ini,” ungkap Heri Gunawan bersama istri dan kedua anaknya, warga Singkawang yang sudah sejak jam tujuh pagi berada di jalan Yohana Godang.

Teriakan-teriakan para pengusung tatung membuat suasana semakin ramai. Setiap atraksi atau gerakan yang dilakukan tatung pun disambut sorak pengunjung yang memadati di pnggir-pinggir jalan. Teriknya matahari tidak menghalangi anak-anak, pria wanita tua dan muda menyaksikan acara yang berlangsung setahun sekali itu. Begitu juga ketika hujan deras secara tiba-tiba mengguyur Kota Singkawang, pertunjukan para tataung tetap berlangsung meskipun banyak penonton berhamburan mencari tempat berteduh.

Keceriaan warga kota itu bukan hanya terlihat dari iring-iringan pawai, atau pertunjukan tatung pada hari Minggu saja. Perayaan di Kota Singkawang sudah berlangsung sejak Imlek, 10 Februari lalu. Bahkan kota itu dalam beberapa hari belakangan ini dipenuhi lampion, yang bukan hanya dipajang di depan rumah penduduk etnis China, tetapi juga hampir di setiap ruas jalan selalu ada lampion bundar berwarna merah. Bila malam tiba, lampion-lampion itu memberi terang jalan di sekitarnya.

Keceriaan dan meriahan festival itu pun mengundang banyak wisatawan baik mancanegara maupun domestik. Sebulan sebelum Cap Go Meh, hotel pun sudah penuh dipesan oleh orang yang hendak menyaksikan festival itu. Hampir seluruh hotel di Kota Singkawang, terutama yang ada di pusat kota, menawarkan paket menginap dua hari Rp2 juta. Padahal harga biasa sebelum festival itu, hanya berkisar Rp200.000 per malam.

Kedatangan warga dari luar Singkawang sebenarnya menyokong perkembangan industri kepariwisataan kota itu. Dan Kota Singkawang selalu terbuka bagi dunia luar  untuk masuk dan melihatnya dari dekat.

Singkawang, bukan semata keceriaan Cap Go Meh saja, tetapi lebih dari itu. Kota Amoy ini memang memilik banyak “magnet” yang bisa menarik perhatian. Selain Cap Go Meh, bidang seni rupa yakni kerajinan keramik dari daerah Sakok, Singkawang Selatan, menjadi bagian yang tak terlupakan. Keramik Sakok terbuat dari tanah kualitas tinggi yang proses pembakarannya masih tradisional yakni menggunakan Tungku Naga. [E4/D9]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here