Semenanjung Korea Tampaknya Makin “Panas”

Salah satu rudal milik Korut. (Foto: JX/Rtr)

BEIJING, JIA XIANG – Tampaknya kondisi di Semenanjung Korea, akan semakin panas. Bagaimana tidak, Korea Utara dianggap oleh berbagai pihak terutama Amerika Serikat dan Cina, tidak mempedulikan imbauan banyak negara untuk tidak menggelar peluncuran dan uji coba rudal.

Perserikatan Bangsa-Bangsa pun tidak lepas dalam “alunan” desakan pada Korut untuk menghentikan segala aksinya terutama terkait senjata nuklir.  Amerika Serikat belakangan ini terlihat paling antusias dalam mengatasi persoalan Korut ini, sampai-sampai mereka mengirim armadanya mendekati kawasan Semenanjung Korea.

Bahkan AS tidak hanya sekadar mengirim armadanya, tetapi juga membujuk Cina agar mendesak Korea Utara supaya tidak melanggar resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK-PBB), terkait program rudal dan nuklir. Desakan itu muncul setelah Pyongyang menegaskan bahwa mereka sukses mengujicoba senjata yang mereka sebut rudal balistik jarak menengah.

Belakangan ini AS mencoba membujuk Cina, aliansi terbesar Korea Utara (Korut), untuk bertindak lebih mengendalikan Korut. Sejak akhir tahun  lalu Korut meluncurkan beberapa rudal dan menguji coba bom nuklir. Kondisi ini membuktikan Korut menantang resolusi DK PBB.

Korut terlihat tidak menutup-nutupi rencana mereka dalam mengembangkan nuklir-menyangkut rudal yang mampu menyerang AS. Bahkan Korut juga dianggap mengabaikan imbauan untuk menghentikan program senjata mereka, termasuk saran dari Cina. Bahkan, program itu disebutkan oleh Korut sangat diperlukan  dalam menangkal agresi AS.

Rudal Pukkuksong (Foto: JX/Rtr)

“Kami mendesak Korut untuk tidak melakukan berbagai hal yang melanggar resolusi DK-PBB,” ujar Menteri Luar Negeri Cina, Wang Yo, dalam sebuah pernyataan di situs web Kementerian Luar Negeri, Selasa (23/5/17). “Pada saat yang sama, kita berharap semua pihak dapat mempertahankan diri, tidak dipengaruhi oleh setiap bentuk insiden…tetap mempertahankan resolusi PBB  mengenai Korut dan teguh mempertahankan pada resolusi melalui cara-cara damai, dialog, dan konsultasi.”

Namun Korut, Senin (22/5/17) mengatakan bahwa peluncuran hari Minggu (21/5/17) adalah untuk menyesuaikan  seluruh persyaratan teknis, yang bisa memproduksi senjata secara massal. Rudal itu disebut Pukguksong-2. Tapi beberapa pejabat AS mempertanyakan kemajuan persenjataan itu.

Tidak heran bila Presiden AS, Donald Trump sempat memperingatkan bahwa “konflik besar” bisa terjadi dengan Korut terkait program senjata negara itu. Karena itu, pihak AS menyarankan lebih baik Korut lebih tepat dikenakan sanksi lebih besar, bukan aksi militer,  sebab itu adalah pilihan terbaik dalam menekan Korut.

Bahkan Menlu Cina, negaranya telah melihat “tantangan baru” muncul dari Korea Selatan yang berkeinginan untuk mengaktifkan kesepakatan  dengan sistem rudal THAAD. Namun Cina berharap Korea Utara mau secepatnya membatalkan niatnya itu, yang tampaknya tersendat dan mengganggu hubungan bilateral. THAAD adalah sistem Terminal High Altitude Area Defense milik AS. [JX/Rtr/CNN/Eka]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here