Semua Wilayah Perlu Diperhatikan

Banjir yang melanda wilayah Jakarta beberapa hari belakangan ini memang terasa berat bagi siapa pun yang harus menjalankan aktivitasnya setiap hari. Lebih berat lagi bagi mereka yang rumahnya kebanjiran hingga beberapa hari lamanya.

Banyak titik genangan baru bermunculan. Kini terkesan hampir di setiap sudut kota Jakarta selalu ada genangan, tidak terkecuali yang namanya Wilayah Ring-1, Istana Presiden dan sekitarnya, sampai ke kantor gubernur DKI Jakarta. Lengkap sudah banjir yang merendam kota ini, mulai dari daerah pinggir kali, permukiman sederhana sampai yang mewah hingga ke istana Presiden.

Sekarang persoalannya, kita mau mulai dari mana? Bagiamana mengatasinya, kita harus memilih yang mana dulu, kelas yang paling atas atau terendah? Kita serahkan saja semua itu ke Pemda DKI Jakarta, biar mereka yang menentukan. Yang pasti permukinan di pinggir sungai sudah lebih dulu dan sering terendam, dan merekalah yang memerlukan perhatian.

Kalau kita hanya bisa “cuap-cuap” bahwa pemerintah daerah dan pusat harus segera mengatasi banjir di Jakarta khususnya Ring-1, adalah sungguh perbuatan yang tinggal menunggu kritikan.  Sudah sewajarnya dan menjadi tugas pemda DKI untuk mengatasi banjir di wilayahnya secara cepat dan tepat. Tetapi persoalannya tidak semudah itu, tidak bisa memilih atau memilah-milah, ini yang lebih dulu atau sana lebih penting.

Semua wilayah yang tergenang sama pentingnya. Bahkan wilayah yang tidak tergenang pun juga menjadi bagian yang penting pula. Pokoknya semua wilayah penting untuk diperhatikan.  Dan untuk itu memang gubernur DKI Jakarta bersama jajarannya harus bekerja keras, bahkan bekerja keras untuk hal-hal lain pula. Apalagi persoalan di Jakarta bukan semata-mata banjir dan kemacetan, banyak masalah sosial lain yang perlu diatasi secara seksama.

Kalau wilayah Ring-1 dan kantor gubernur ikut kebanjiran, itu hal yang wajar, mungkin akibat air sungai yang meluap atau drainasenya sangat buruk. Selain itu, sekarang kita tidak bisa serta merta menutup pintu air misalnya, hanya untuk menyelamatkan  istana, sementara imbasnya ke wilayah lain. Ujung-ujungnya wilayah itu kebanjiran.

Yang pasti upaya menanggulangi banjir sudah dilakukan. Hanya sekarang tinggal membangun kembali kesadaran masyarakat untuk menaati hukum dan hidup sehat. Upaya persuasif untuk tidak tinggal di bantaran kali, kini sudah harus melekat di kepala setiap warga Jakarta. Kalau ada larangan, jangan dilanggar. Sementara RT, RW, lurah, camat dan pemerintah kota juga harus bertindak tegas, jangan ada lagi orang yang tiba-tiba menyusup ke pinggir kali.

Pengalaman yang ada ini adalah karena sudah terlalu lama, warga dengan enaknya tinggal di bantaran kali. Mereka diberi KTP, dan aliran listrik (bahkan ada yang memiliki meteren sendiri). Kalau warga melanggar, maka aparat terkait yang harus menginggatkannya dan tegas.

Nah begitu banjir melanda hampir di semua wilayah Jakarta, maka pemerintah daerah sudah memiliki prioritas untuk mengatasinya.  Jangan sampai ada keinginan menyelamatkan wilayah istana, tetapi tempat lain menjadi terabaikan. Menang berat, tetapi itulah yang harus dilakukan oleh aparat pemda DKI Jakarta, sebab semua wilayah di ibu kota ini sama pentingnya, setiap warga di Jakarta sama berharganya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here