Seorang Istri yang Bijak

Pesta perkawinan di Tiongkok. (Foto: JX/ist)

JAKARTA, JIA XIANG – Di era Dinasti Liao (916-1125 M) ada seorang pejabat negara bernama Ye Lunu. Dia sangat beruntung memiliki istri yang setia dan menyayanginya. Tidak heran bila Xiao Yixin dikenal sebagai model peran wanita dalam sejarah Tiongkok yang terkandung nilai-nilai kebajikan tradisional untuk seorang perempuan. Dia adalah keturunan dari keluarga kerajaan. Ibunya, Permaisuri Hutu, adalah putri kaisar.Xiao Yixin sangat canti, berpendidikan dan cerdas. Dia menikah di usia 20 tahun dan benar-benar mengabdikan hidupnya untuk suami dan keluarga.
Suatu ketika, Xiao Yixin sedang berbincang-bincang dengan kakak iparnya. Kakaknya itu membahas tentang cara-cara menarik perhatian atau kasih sayang dari suami mereka dengan mengusir roh-roh jahat.
Namun Xiao Yixin menawarkan perspektif yang berbeda. “Praktek-praktek mengusir roh jahat itu tidak sesuai dengan etika dan tidak patut,” katanya.
Orang lain mulai bertanya mengapa, dan Xiao Yixin menjawab, “Jika kita memperkuat karakter kita dan memperbaiki perilaku kita sesuai etika yang tepat, dan jika kita merawat orang tua kita dengan baik dan menunjukkan rasa hormat dan berbakti pada mereka, jika kita lembut dan baik hati dalam hubungan dengan suami kita, dan jika kita murah hati dan berwawasan luas dengan generasi muda kita, maka kita akan hidup sesuai dengan etika dan prinsip-prinsip hidup benar.
Menurut Xiao Yixin, “Jika kita mampu melakukan hal-hal itu, kita secara alami akan memenangkan cinta dan rasa hormat dari suami kita. Jika, di sisi lain, kita justru menggunakan praktik-praktik jahat untuk memenangi hati, bagaimana mungkin kita bisa merasa tidak bersalah?” Mendengar penjelasan itu, wanita-wanita lain pun merasa sangat malu.
Kemudian, terjadi sebuah kasus yang berujung suami Xiao Yixin, Ye Lunu, harus menjalani hukuman yaitu diasingkan, atas sebuah tuduhan palsu. Karena Xiao Yixin adalah anak permaisuri, maka kaisar berharap dia mau menceraikan suaminya.

Moral Dasar
Sebagai tanggapan, Xiao Yixin memohon, “Yang Mulia, Anda mempertimbangkan hubungan keluarga saya untuk Anda dan berharap menyelamatkan saya dari kehidupan pengasingan dan menderita dengan suami saya. Ini adalah kebaikan besar memang.
Namun, tambah Xiao, suami dan istri harus mematuhi prinsip-prinsip moral. Mereka harus tetap bersama di masa baik dan buruk, dan mereka tidak seharusnya terpisah sampai mati.
“Saya menikah dengan Ye Lunu, ketika saya masih muda, dan jika saya meninggalkan suami saya ketika dia sedang menghadapi kesusahan dan kesulitan dalam hidupnya, maka itu akan bertentangan dengan prinsip-prinsip moral dasar. Apakah sikap itu berbeda dengan perilaku binatang?
“Saya berharap Yang Mulia akan menunjukkan belas kasihan dengan mengizinkan saya untuk menemani Ye Lunu di pengasingan. Saya tidak akan menyesal walaupun saya harus mati di sana,” ungkap Xioa.
Tergerak oleh permohonannya, Kaisar pun akhirnya menyetujui Xiao Yixin menemani suaminya.
Di tempat pengasingan, Xiao Yixin dan suaminya menghadapi kesulitan setiap hari, namun mereka tetap bekerja keras. Menghadapi kenyataan itu, Xiao Yixin tidak mengeluh sedikit pun. Sebaliknya, dia bahkan lebih baik dan lebih menghormati suaminya. [JX/clearwisdom.org/theepopchtimes/Eka]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here