Separuh Primata di Dunia, termasuk di Indonesia Terancam Punah

Gorile (Foto: JX/Ist)

Riset baru-baru ini menunjukkan bahwa hampir semua primata di dunia berisiko dan lebih dari setengahnya menghadapi bahaya kepunahan, ungkap profesor antropologi dari University of Illinois, ​Paul Garber.

Paul akan mengkaji secara komprehensif mengenai status primata nonmanusia di dunia, dia yakin masih ada harapan. Namun harapan itu telah sirna.

Sekarang, dia mengatakan kepada VOA, “Setelah mengerjakan artikel ini, kenyataan membuat harapan saya kecil.”

Riset Garber yang dipublikasikan Rabu (18/1/17) di jurnal   Sacience Advances, menunjukkan bahwa saat ini “lebih dari setengah dari primata nonmanusia sedang mendekati kepunahan.”

Penyebabnya tidak hanya satu, ujarnya, tapi gabungan ancaman-ancaman dari manusia yang mencakup “perburuan, perdagangan hewan ilegal dan hilangnya habitat karena manusia terus menebang hutan-hutan tropis, membangun jalan dan menambang” dengan cara yang menurut Garber “secara tidak perlu destruktif dan tidak berkelanjutan.”

Tepatnya, Garber menambahkan, “60 persen spesies primata sekarang diancam kepunahan dan sekitar 75 persen menghadapi penurunan populasi.”

Primata adalah kelompok yang beragam, diperkirakan mencakup 600 spesies yang berbeda, mulai dari ​Tikus Lemur yang mungil dan hidup di Madagaskar (lemur dewasa berbobot sekitar 31 gram) sampai Gorile, spesies primata terbesar yang dapat berbobot sampai 250 kilogram.

Tikus Lemur (Foto: JX/Ist)

Namun ada satu kesamaannya yakni ancaman dari aktivitas manusia. “Tidak ada yang dapat menyanggah bahwa kepunahan massal primata nonmanusia dan fauna serta flora lain terjadi secara alami. Secara kolektif, manusia menciptakan situasi ini,” kata Garber.

Masalahnya, ujarnya, diperburuk oleh fakta bahwa lebih dari setengah spesies primata berkumpul di empat negara: Brasil, Indonesia, Madagaskar dan Republik Demokratik Kongo.

Dia mengatakan, masing-masing negara ini berupaya membantu melindungi primata-primata ini di wilayah-wilayah mereka, “Namun seringkali tidak ada apakah itu dana, dukungan komunitas, atau keahlian di dalam negeri untuk mengatasi masalah-masalah konservasi mereka,” ungkap Garber.

​Garber menjelaskan, satu-satunya cara untuk menyelamatkan spesies-spesies ini adalah negara-negara di seluruh dunia bekerjasama untuk membantu, bukannya bergantung pada aksi masing-masing negara.

“Tanpa bantuan negara-negara konsumen dan organisasi-organisasi internasional dan dengan korporasi-korporasi multinasional yang mengekstraksi sumber-sumber daya dari negara tersebut, kita ada di ambang kepunahan puluhan spesies primata dalam dekade berikut,” ujar Garber, memperingatkan.  [JX/Eka]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here