Shao Yong, Cendekiawan di Era Dinasti Song Utara

BEIJING, JIA XIANG – Dasar utama budaya Tiongkok pada budaya Taois. Meskipun secara historis ada sarjana Konfusianisme seperti Han Yu, Liu Kai, dan Shi Jie, yang tidak dapat disangkal bahwa asal-usul atau pengembangan Konfusianisme, tidak dapat dipisahkan dari sekolah Tao dan sekaligus membentuk sistem belajar sendiri.
Ini bukan hanya sebuah perdebatan akademis, tetapi ada alasan yang mendalam. Dikatakan bahwa budaya Tiongkok yang berusia 5000 tahun itu dibawa turun dari langit. Karena itu, karakteristik pencipta adalah landasan bagian pencapaian peradaban tertentu.
Selain bagian dari peradaban, namun semakin lama dan pengaruhnya juga akan lebih luas. Karena itu, vitalitas doktrin Konghucu memiliki budaya Taois sebagai dasar, sehingga memungkinkan untuk melanjutkannya di Bumi. Dalam hal ini, sebagai contoh yang baik adalah sarjana Konfusian, Shao Yong di era Dinasti Song Utara.
Empat puluh tahun setelah Taois Chen Tuan menjadi abadi, ajaran-ajarannya tentang I Ching dan Peta Tai Chi mampu mencapai murid dari generasi ketiga, Li Tingzhi. Pada saat itu, Li Tingzhi sedang mencari seseorang dengan karakter yang baik untuk melanjutkan ajarannya. Suatu hari, Li membuka sebuah pintu kecil, dan melihat seorang pemuda duduk di lantai, dikelilingi buku-buku. Dia segera menyadari bahwa ini adalah penerus yang dicarinya – Shao Yong.
Sebagai salah satu “Lima Cedekiawan Song Utara”, ajaran Shao Yong dikenal sebagai “studi gambar-angka”.
Meskipun dia adalah seorang sarjana Konfusian, karya-karyanya dikategorikan dan dicatat dalam karya-karya Taois. Hal ini karena kebijaksanaan dari Sekolah Tao yang bersinar berkat karya Konfusian, dan yang dilakukannya dalam waktu singkat. Ini adalah untuk membantu memadukan pemikiran-pemikiran sekolah Tao ke Konfusianisme.
Setelah Shao Yong bertemu Li Tingzhi, ada perubahan arah dalam hidupnya – dia pun beralih dari belajar tentang Konfusianisme menjadi mempelajari ilmu fisika, pikiran dan tubuh, dan memperoleh penguasaan atas Peta Tai Chi dan I Ching. Namun, I Ching yang diturunkan oleh Chen Tuan adalah istimewa – tidak memiliki teks, hanya gambar-gambar untuk mekperlihatkan Yin Yang dan heksagram.
Shao Yong menulis I Ching pada selembar kertas, dan ditempelkan di seluruh dinding, sehingga dapat dilihat siang dan malam. Selama 3 tahun, dia tidak tidur, tapi bermeditasi siang dan malam. Pada tahun 1049, Shao Yong menetap di Luoyang. Di sini, dia mengajar dan menulis buku. Tidak peduli pada keadaan, dia menjalani kehidupan yang menghormati langit dan takdirnya.
Selama tinggal di Kuil Tian Gong, dia menyadari bahwa “Tao tidak jauh dari manusia, dan alam semesta ini dalam tubuh”. Dalam catatan yang sama, sebuah kutipan dari sekolah-sekolah Buddha berbunyi, “Boddhi dapat ditemukan di dalam pikiran kita sendiri, dan tidak ada keharusan untuk mencari mistisisme dari luar”. Kemudian, dia pindah ke sebuah gubuk dan mulai hari-harinya bertani dan berinteraksi dengan bangsawan.
Suatu hari, Shao Yong berbicara sambil berjalan di sepanjang jembatan dari Tianjin, kemudian dia mendengar suara burung elang malam dan berkata: “Tidak ada burung elang malam di Luoyang hingga saat ini. Dalam beberapa tahun, kaisar akan menunjuk seseorang dari Selatan sebagai penasehat dan akan ada perubahan. Akan ada masalah di depan.
“Seseorang bertanya pada Shao Yong bagaimana dia tahu semua ini. Shao Yong menjelaskan: “Energi duniawi dari Selatan telah mencapai Utara, burung bisa merasakan ini dan pindah ke sini.” Ternyata, Kaisar Shenzong Song mememinta nasihat dari Wang Anshi, yang kemudian nasehat itu diwujudkan pada Reformasi Xining.
Pengetahuan Shao Yong berasal dari Sekolah Tao. Namun, tidak seperti Taois lain yang menjelankan kehidupan secara tertutup, dia justru membantu memadukan Tao ke Konfusianisme, dan menjalin hubungan pertemanan di Luoyang. Warisannya tidak hanya termasuk penelitian di I Ching, tetapi juga Plum Blossom Ode, yang memiliki implikasi yang mendalam. Puisinya secara akurat memprediksi peristiwa dalam 1000 tahun sejarah Tiongkok setelah kematian Shao Yong, dan orang-orang semakin melihat nilainya. [JX/theepochtimes/Eka]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here