“Sinse” Berkerudung dari Surabaya

Jia Xiang – Tusuk jarum atau akupunktur sebagai bentuk pengobatan sudah berumur lebih dari 5000 tahun. Konon pengobatan tertua ini mulai berkembang di Cina sejak 700 tahun sebelum Masehi. Awalnya jarum akupunktur menggunakan batu, kemudian berkembang menggunakan bambu, tulang dan hingga kini menggunakan metal dan perunggu.
Meskipun pengobatan tusuk jarum ini berkembang di negeri tirai bambu, namun pengobatan ini sudah dikenal hingga ke pelosok dunia. Namun, boleh jadi jika Anda ingin mencoba mengobati penyakit yang Anda derita dengan akupunktur, maka di benak Anda akan terbayang bahwa Anda akan dilayani seorang sinse atau tabib etnis Tionghoa dengan beragam aksara Cina dalam satu ruang pasien.
Nyatanya tidak selalu begitu. Buktinya di Klinik INTI Peduli yang terletak di Jalan Karet No.  21-23, Surabaya, Jawa Timur yang menerima pasien tusuk jarum, maka pasien akan dilayani sekaligus diobati oleh seorang gadis belia berkerudung bernama Titin Rosiana yang asli beretnis Jawa.
Titin begitu sapaan akrabnya, menggeluti dunia pengobatan akupunktur yang memang sudah dicita-citakannya. Gadis ini selepas Sekolah Menengah Atas langsung melanjut ke Akademi Akupunktur Surabaya. Kini gadis ini sudah menyandang gelar Ahli Madya Akupunktur (AmAk). Titin pun tak canggung melafalkan 360 titik pengobatan tusuk jarum dalam bahasa Cina sesuai anatomi tubuh manusia. Menurutnya ke-360 titik ini belum termasuk titik ekstra lainnya.
Lantas penyakit apa saja yang bisa diobati melalui akupunktur? Menurut Titin hampir semua penyakit bisa diobati. “Tetapi setiap penyakit punya jangka waktu berbeda dalam penyembuhannya,” kata Titin kepada Jia Xiang Hometown, Sabtu (6/4/13) di Klinik Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI), Surabaya.
Titin yang lulus kuliah sejak 2010 ini punya spesialisasi akupunktur untuk kecantikan. Menurutnya, ketimbang menggunakan obat kimia, maka menjaga kecantikan dan kebugaran tubuh jauh lebih aman dengan media akupunktur dan herbal. “Tetapi mesti telaten dan sabar,” kata gadis berkerudung ini.
Sebagai akupunkturis, Titin juga sudah mengantongi izin praktek berupa Surat Izin Pengobatan Tradisional (SIPT). Berobat di Klinik Akupunktur INTI Peduli ini relatif murah, dengan harga Rp30.000 s/d Rp70.000 bergantung berat ringannya riwayat penyakit yang ingin disembuhkan.
Pengobatan dengan tusuk jarum ini memang butuh keahlian khusus, sebab akupunkturis harus bisa mendiagnosa penyakit dan menentukan titik mana yang harus ditusuk. Dan penusukan pun tidak bisa sembarangan baik dari sisi kedalaman jarum maupun posisi jarum yang harus tegak lurus atau miring.
Menurut Titin jarum akupunktur hingga kini belum diproduksi di Indonesia. “Jarum masih menggunakan hasil produksi dari Tiongkok,” kata Titin.
Lantas penyakit apa saja yang bisa diobati? Titin pun menuturkan,”Prinsipnya semua penyakit bisa diobati, seperti penyakit jantung, stroke, memulihkan beragam sisa-sisa pasca-operasi. Bahkan flu dan batuk pun sekalipun bisa diobati.”
Jika menggali soal pengobatan akupunktur, maka tercatat kisah seorang pangeran bernama Hao yang disembuhkan dari ketidaksadarannya oleh ahli akupunkturis, bernama Pien Cie. Pasang surut pengobatan akupunktur terus berlanjut hingga kini. Setelah Perang Candu pada tahun 1840 sampai tahun 1911, pengobatan ini sempat surut dengan semakin majunya pengobatan cara Barat yang mulai masuk ke Negara Cina. Hebatnya, tahun 1934 Tang Shicheng memulai penggunaan elektro-akupunktur di Cina.

Pengobatan akupunktur semakin berkembang di era modern setelah tahun 1944 Mao Zedong berbicara di Gabungan Pekerja Budaya yang mendorong dokter di Cina yang pernah belajar di Barat mulai melakukan riset atas akupunktur, sehingga akupunktur menyebar di dunia militer. Dan sejak tahun 1955 akupunktur dimasukkan dalam kurikulum di Sekolah Kedokteran Barat.

Maka akupunktur pun kemudian dikembangkan untuk anestesi (pembiusan). Bahkan tidak tanggung-tanggung, sejak era tahun 1970-an penelitan telah dilakukan atas mekanisme akupunktur-anestesi dan akupunktur-analgesi dari sudut pandang bedah, ilmu anestesi, neuro-anatomi, kimia-sel, ilmu fisiologi, biokimia, psikologi dan elektro-medis.
Indonesia sendiri juga tidak ketinggalan dalam pengembangan pengobatan akupunktur ini. Terlebih setelah tahun 1975 dibentuk organisasi Ikatan Akupunkturis Indonesia (IAI) sebagai wadah profesi yang bersifat nasional, yang kemudian lahirlah Undang-Undang No. 8 Tahun 1985 yang menyatukan Profesi Akupunktur yang belakangan pada 1986 lahirlah Persatuan Akupunkturis Seluruh Indonesia (PAKSI).
Menyimak perkembangan pengobatan akupunktur ini, maka tak salah jika Titin Rosiana mengatakan, beragam penyakit bisa diobati dengan akupunktur, yang menurutnya sangat kecil, bahkan tidak ada efek sampingnya. Indonesia kini semakin mengutkan posisi pengobatan akupunktur dengan dikeluarkannya keputusan Menteri Kesehatan, SK MenKes RI No.1186/MenKes/Per/XI/1996 tanggal 12 November 1996 mengenai pemanfaatan akupunktur dalam sarana pelayanan kesehatan. [Pandapotan Simorangkir]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here