Soal Impor Buah

Ada pepatah dari negeri China yang mengatakan, mengubah karakter seseorang itu ibarat mengasah sebuah tongkat besi sampai menjadi sekecil jarum jahit. Itu diartikan memperbaiki tabiat seseorang agar menjadi baik,  butuh waktu yang sangat lama.

Butuh tekad dan komitmen dari semua pihak yang terlibat, agar seseorang itu berubah watak menjadi bijaksana. Intinya nengubah sifat dan perilaku seseorang bukan perkerjaan gampang seperti membalik tekapak tangan. Kita bisa bayangkan jangka waktu yang dibutuhkan mengubah  tongkat besi menjadi jarum jahit?

Pribahasa di atas sangat pas bila kita bandingkan dengan watak birokrat bangsa ini yang selalu cenderung menggunakan jalan instan dalam mengambil kebijakan sebagai  solusi atas berbagai persoalan yang melilit anak negeri.

Simak saja ketika negeri ini tidak mampu bersaing di tataran dunia, maka dikeluarkan kebijakan pembatasan impor. Padahal impor terjadi lantaran barang dan jasa di negeri ini kualitasnya buruk dan kuantitasnya tidak bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Selain itu, ada “tangan-tangan kotor” berupa makelar-makelar hitam yang tidak tersentuh hukum yang sesunguhnya bergembira dan sengaja agar negeri ini bergantung pada pasokan barang dan jasa impor. Mereka inilah yang menangok keutungan “selangit” untuk diri sendiri.

Di tengah persaingan dagang dunia yang kini menganut pola pasar bebas juga memunculkan spekulan jail di dalam negeri yang menumbuhkan budaya suap dan korupsi. Sementara rakyat hanya bisa menerima dengan terpaksa atas barang dan jasa dari luar negeri. Slogan “Aku Cinta Produk Indonesia” yang sudah sering didengungkan tinggal menjadi pepesan kosong.

Rakyat negeri ini bukannya tidak mau menggunakan atau mengonsumsi produk lokal, yang ada justru sebaliknya produk lokal sulit diperoleh atau kalaupun ada,  mutunya rendah dan tak jarang harganya pun jauh lebih mahal dibanding produk luar negeri.

Begitu juga halnya dengan produk buah-buahan dan sayur. Jika kita bandingkan harga dan mutu buah dan sayur dari luar negeri, maka harga dan mutunya jauh lebih murah dan lebih bagus bila dibandingkan sayur dan buah dari dalam negeri.

Lantas jika rakyat membeli buah dan sayur produk luar, tentu saja rakyat tak boleh disalahkan. Terlebih dalam hal mengonsumsi sayur dan buah yang sangat penting bagi kesehatan dan perbaikan gizi.

Sejatinya rakyat punya kerinduan mengonsumsi buah dan sayur dalam negeri, tetapi kebijakan di negeri ini sangat tidak jelas. Logikanya jika kita ingin hidup dan bangga dengan produk luar negeri termasuk membeli buah dan sayur dalam negeri, mestinya sektor pertanian dalam negeri diurus dengan baik. Toh itu dampaknya juga membawa kesejahteraan para petani.

Pertanyaannya,  mengapa selalu kita bergantung pada produk impor? Sampai-sampai buah dan sayur pun harus impor? Bukankah dengan kondisi Indonesia sebagai negara agraris dengan lahan yang begitu luas bisa menjadi negara pengekspor buah dan sayur? Jadi,  jika sampai negeri ini dibanjiri barang dan jasa dari luar negeri,  apa yang patut dipertanyakan? Bukankah kita bertanya bagaimana kebijakan pertanian dan perdagangan kita? Segudang pertanyaan yang mudah untuk dijawab tapi sulit diterapkan.

Jawabnya tentu saja agar negeri ini kebanjiran buah dan sayur dalan negeri, maka kebijakan harus berpihak kepada petani dan pertanian. Yang perlu diperbaiki adalah sektor hulu atau sentra produksi dan bukannya terus menerus secara instan mengobok-obok sektor hilir atau pasar.

Jika hanya bisa mengutak-atik sektor hilir dan tidak pernah mau membenahi sektor hulu, yang terjadi adalah negeri ini akan dicaci negara lain, lantaran sebagai angota World Trade Organization (WTO) yang jelas-jelas telah menyepakati berbagai ketentuan dagang.

Pemerintah dari suatu negara yang masuk sebagai anggota WTO hanya dapat melarang impor produk tertentu karena produk itu berbahaya bagi manusia, hewan, maupun tumbuhan di suatu negara, atau karena produk itu merupakan hasil eksploitasi sumber daya alam hingga merusak keseimbangan ekologi. Jadi tak heran bila adanya pembatasan impor buah dan sayur ini sudah mulai menuai ketidakpuasan negera lain seperti Amerika Serikat.

Yah, begitulah mengubah tabiat birokrat di negeri ini tidaklah mudah! [Iman Sjahputra]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here