Sulit Digoyahkan

Oleh : Iman Sjahputra

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, selalu bikin sensasi. Bukan kali ini saja, bahkan sudah sejak masa kampanye pemilihan presiden, Trump selalu menyatakan hal-hal yang mengundang reaksi di masyarakat luas.

Bahkan janji di masa kampanye seperti  membangun tembok perbatasan dengan Meksiko, menghentikan jaminan kesehatan Omabacare, mencegah masuknya imigran berlebihan, sampai-sampai pada menciptakan lapangan kerja baru, anti pemerintah  Cina, keluar dari Kemitraan Trans Pasifik (TPP), sudah ada yang dilaksanakan.

Yang paling anyar adalah melarang masuknya, selama 90 hari,  warga tujuh negara (Irak, Iran, Suriah, Sudan, Libia, Somalia, Yaman).

Apa alasannya? Tampaknya dasar keputusan Trump dari pembatasan yang berlaku semasa pemerintahan Barack Obama.

Apalagi pada Desember 2015 disahkannya UU tentang pencabutan bebas  visa bagi warga yang pernah berkunjung ke negara-negara tertentu sejak Maret 2011.

Negara-negara itu diidentifikasi sebagai tempat berlindungnya kelompok teroris. Namun kebijakan Obama hanya berlaku bagi orang-orang tertentu saja, tidak untuk seluruh warga negara itu.

Sementara keputusan Trump justru melarang masuknya seluruh warga negara yang diwaspadai tersebut.

Akhirnya reaksi menentang  dan protes pun bermunculan, bukan hanya dari dalam negeri, tapi juga luar negeri.

Tak urung Eropa pun beraksi terhadap keputusan Trump. Bahkan di dalam negeri, sampai-sampai Jaksa Agung, Sally Yates, dipecat gara-gara dia memerintahkan Departemen Kehakiman untuk menolak  kebijakan imigrasi Trump.

Bukan cuma Sally saja, sudah sejak awal rakyat negara itu di berbagai negara bagian terus memprotes Trump yang justru dianggap tidak layak menjadi Presiden AS.

Bahkan ratusan diplomat AS pun ikut memprotes kebijakan soal imigran tersebut. Melalui surat kawat, para diplomat menilai  keputusan Trump bukan membuat AS lebih aman, dan itu bukan AS yang sebenarnya. Lebih-lebih dikhawatirkan Pemerintahan Trump justru mengirim pesan yang salah.

Tampaknya Trump selalu yakin akan segala keputusan yang diambilnya, dengan dalih melindungi kepentingan AS yang lebih beaar.

Mungkin saja Trump  enggan  memikirkan sedikit pun dampak yang lebih besar. Bisa saja tindakan yang “over” ini akan membuat AS menjadi bulan-bulanan berbagai ancaman,  tidak hanya dari luar  tapi juga dari dalam negeri.

Bukan tidak mungkin sekutu AS yang selama ini akrab secara perlahan-lahan menjaga jarak.

Sebab mereka pun akan khawatir dampak dari perbuatan AS itu. Dan bisa saja yang namanya sekutu AS dapat terancam dari berbagai tindakan teror.

Tampaknya bila bicara AS, maka akan sulit menggoyahkan pikiran Presiden Donald Trump. Keputusannya tak mudah berubah dan harus didukung oleh aparatnya.

Hal ini wajar saja, sebab sejak awal masa kampanye yang didengung-dengungkan oleh Trump adalah mengembalikan surpremasi AS untuk menjadi yang terdepan di seluruh dunia.

Apakah keinginannya akan terwujud?  Tapi bisa juga tidak. Sebab bukan tidak mungkin kinerjanya sebagai presiden akan terganggu dan selalu diganggu akibat keputusan-keputusannya yang kontroversial.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here