Supersemar, Sebuah Misteri

Kemarin, tepatnya 11 Maret 2016, tepat sudah Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) berusia 50 tahun. Peringatan setengah abad ini, tidak banyak disorot oleh berbagai pihak. Peringatan itu pun dilakukan sederhana di sebuah kampus di Jakarta dengan diskusi seputar Supersemar. Ada beberapa tokoh yang hadir pada peringatan itu.
Yang lebih penting mungkin sekarang bukan soal peringatan setengah abad, tetapi sejauh mana kebenaran Supersemar itu. Apakah Supersemar hanya isapan jempol belaka, pepesan kosong, atau sebuah mitos yang memang menjadi misteri sejarah bangsa ini?
Dengan kata lain, Supersemar ini menyimpan misteri? Mengapa disebut misteri, sebab belum pernah terungkap secara jelas dan nyata surat tersebut, yang konon ceritanya terkait pergantian kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru.
Tetapi sebagai awam dan masyarakat biasa, apakah Supersemar ini benar-benar nyata? Kalau ada seperti apa bentuknya? Dan di mana keberadaan surat itu? Sejak penguasa Orde Baru tiada, diskusi dan perdebatan seputar Supersemar tidak pernah putus. Bahkan berita soal surat ini pun juga timbul tenggelam. Sewaktu-waktu ramai dan sewaktu-waktu menjadi surut.
Kita yang membaca atau mengikuti diskusi itu pun menjadi bingung. Bahkan kebingungan semakin menjadi, tatkala apa yang kita terima di bangku sekolah dulu, ternyata setelah sekian tahun meninggalkan sekolah, wujud Supersemar pun tak pernah kita lihat. Lalu pertanyaannya, apa dong yang dulu kita pelajari dulu?
Kalau guru kita pun tidak pernah melihat wujud surat itu dan percaya surat itu ada, lalu yang diajarkan mereka kepada kita murid-muridnya kala itu adalah sebuah kebohongan. Apabila kondisi yang kita hadapi sejak dulu seperti itu, maka bukan tidak mungkin kebohongan demi kebohongan tersebut menjadi sebuah pembodohan massal. Siapa yang bertanggungjawab soal kebohongan dan pemobodohan ini?
Yang pasti tidak ada satu penguasa pun di era Orde Baru maupun periode pemerintahan setelah itu mau bertanggungjawab untuk meluruskan sejarah bangsa ini.
Dalam diskusi memperingati 50 tahun Supersemar itu, para ahli sejarah pun mempertanyakan soal keberadaan teks asli, termasuk proses pembuatannya. Apa pun alasannya, mereka saja tidak pernah tahu di mana Supersemar itu, apalagi kita masyarakat awam.
Dalam diskusi itu juga terkesan bahwa mereka mempertanyakan fakta sejarah itu. Bahkan mereka meminta pemerintah membuat tim independen untuk mengungkap kebenaran sejarah tahun 1945 sampai tahun 2000. Pertanyaan berikutnya, apakah ini menjadi jaminan dapat menuntaskan persoalan sejarah?
Perlu diingat bahwa sudah sekian lama kebohongan dan pembodohan massal terjadi pada warga negara ini. Dan pembodohan itu justru dilakukan dari bangku sekolah, yang seharusnya membuat orang menjadi cerdas dan pintar, tetapi di sisi lain membuat anak didiknya menjadi membisu dengan ribuan tanda tanya di otaknya seputar Supersemar.
Pemerintah memang harus turun tangan mengatasi hal ini. Mungkin pemerintah sudah memiliki cara menuntaskannya atau masih lebih memikirkan kekuasaan ketimbang meluruskan sejarah demi meluruskan jalan pikiran warga negaranya, terutama tentang kebenaran sejarah.
Sulit memang berbicara soal kebenaran, apalagi terkait sejarah. Perlu cara dan pemikiran jernih untuk melakukan perbaikan ini. Kita tidak perlu jauh-jauh membahas benar-tidaknya isi Supersemar itu, bagaimana proses pembuatannya? Suasana batin tatkala membuatnya? Tidak perlu. Yang kita perlukan sekarang adalah ujud surat itu. Di mana dan apa benar surat itu ada? Itu saja. Bila surat orisinal itu ada, maka persoalan lain akan mudah terjawab.
Artinya sekarang, mungkin saja ada pihak-pihak tertentu yang mencoba membiaskan keberadaan surat itu. Atau bisa jadi, memang Supersemar itu pun tidak ada sama sekali. Supersemar itu pun hanya bualan orang-orang tertentu hanya untuk melegalkan kekuasaan pada saat itu. Jadi, ya silahkan pemerintah memutuskan, mana yang terbaik, terus membodohi rakyat atau membuat rakyat semakin cerdas dengan meluruskan sejarah Supersemar.
Yang penting jangan lagi membual atau berbohong melalui jalur pendidikan. Dosa besar bila langkah seperti ini masih dipupuk atau dilestarikan, hanya untuk melanggengkan kekuasaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here