Susi Pudjiastuti Raih Peter Benchley Ocean Awards

Menteri Susi Pudjiastuti (Foto: JX/VOA)

WASHINGTON, JIA XIANG – Seorang remaja putus SMA yang beralih menjadi pengusaha seafood, memimpin tindakan keras pemerintah Indonesia terhadap penangkapan ikan secara ilegal, mendapatkan pujian dari para tokoh konservasi lingkungan dan baru saja mendapat penghargaan di Washington DC, terlepas dari langkahnya meledakkan kapal-kapal pencuri ikan.

Sebuah langkah yang menjadi favorit: merampas kapal-kapal penangkap ikan asing ilegal dan meledakkanya untuk “mengirim pesan” kepada negara-negara tetangga.

Susi Pudjiastuti, yang baru-baru ini mendapat Peter Benchley Ocean Awards di Washington DC atas pekerjaan ekologisnya, memimpin kebijakan tegas untuk menghancurkan ratusan kapal penangkap ikan ilegal dalam dua tahun terakhir sebagai Menteri urusan Kelautan dan Perikanan Indonesia.

Upaya Susi belum menghilangkan masalah yang telah melanda Indonesia selama puluhan tahun, katanya, namun kebijakan yang tegas itu telah meningkatkan stok ikan dan mengurangi penyelundupan di perairan Indonesia.

Hasil tangkapan ikan teri, udang galah dan tuna sirip kuning naik, membantu peningkatan kehidupan nelayan di tanah air, sekaligus menurunkan harga pangan, kata Susi.

“Apa yang sebenarnya kami dapatkan juga adalah rasa hormat,” kata Susi Pudjiastuti di Washington DC, di mana dia bergabung dengan penerima penghargaan Peter Benchley Ocean Awards tahunan lainnya. Susi diberi penghargaan atas usahanya melindungi ekosistem laut Indonesia, dan dalam menangani para penangkap ikan ikan ilegal, serta pelaku kejahatan terorganisasi.

“Mereka tidak bisa lagi melakukan apapun,” tambah Susi. Padahal sekitar 10.000 kapal asing dahulu biasa menangkap ikan di perairan Indonesia “seperti di wilayah negara mereka sendiri,” katanya sambil menambahkan bahwa ini realitas baru yang harus mereka hadapi sekarang: “Tidak (bisa) lagi!” (menangkap ikan seenaknya, red).

Tetangga Berang

Pendekatan tegas Indonesia yang tanpa kompromi telah membuat negara-negara tetangga kesal, karena banyak perahu mereka yang “terperangkap” saat beroperasi di wilayah laut yang dilanda perselisihan teritorial.  Kampanye tegas ini sebagian mencerminkan keinginan pemerintah Indonesia untuk menunjukkan kedaulatan atas wilayah kepulauan luas yang terdiri dari 17.000 pulau.

Susi Pudjiastuti (52 tahun), telah memenangkan popularitas sebagai pemimpin kampanye tersebut, menepis pandangan skeptis pada saat dia baru saja dilantik sebagai Menteri KKP pada tahun 2014. Ketika dilantik, Susi tidak memiliki pengalaman politik dan tidak menyelesaikan pendidikan SMA.

Namun, Susi menghabiskan tiga dasawarsa sebagai pengusaha makanan laut dan menguasai persoalan bisnis. Dia juga telah menjalankan perusahaan penerbangan charter sendiri “Susi Air”, untuk mendistribusikan dan mengekspor hasil panen.

Saat menjabat, Susi dengan cepat mengumumkan moratorium penangkapan ikan bagi kapal-kapal asing yang sering beroperasi di bawah bendera Indonesia. Dan untuk menegaskan kebijakannya itu, pihak berwenang Indonesia telah menenggelamkan lebih dari 300 kapal penangkap ikan asing ilegal.

Dalam penghancuran massal terakhir yang dilakukan awal April lalu, pihak berwenang Indonesia menghancurkan 81 kapal kosong. Sebagian besar kapal tersebut berasal dari Vietnam, Filipina, Malaysia dan Thailand.

Pada bulan Maret 2016, sebuah kapal berbendera Nigeria yang besar tertangkap sedang berburu ikan bandeng dan, setelah awaknya dievakuasi, kapal itu diledakkan dengan ledakan yang kuat. Usai peledakan itu, Menteri Susi berpose di pantai dengan para pejabat angkatan laut sambil mengepalkan tangan mereka ke udara dengan latar belakang kepulan asap kapal yang baru saja diledakkan.

Bantuan AS dan Australia

Namun, Menteri Susi juga mengakui munculnya beberapa ketegangan akibat kebijakannya itu. Susi mengatakan, dia memberi tahu para duta besar negara-negara tetangga, termasuk Cina, sebelum melakukan tindakan keras dan meminta dukungan dari mereka.

“Pencurian (ikan) bukan merupakan bagian dari hubungan bilateral yang baik,” kata Susi saat berbicara pada acara diskusi di Stimson Center di Washington DC minggu lalu.

Pihak berwenang Indonesia kini menyimpan 100 kapal penangkap ikan asing lainnya yang sedang menunggu untuk dihancurkan. Mereka juga menyita belasan kapal lainnya setiap minggu, kata Susi. Namun Susi menambahkan, hanya sedikit kapal penangkap ikan Cina yang berhasil disita, karena kapal mereka lebih besar, lebih cepat dan bahkan sering didampingi oleh penjaga pantai nasional, sehingga lebih sulit untuk mengawasi aktivitas kapal-kapal Cina itu.

Amerika Serikat (AS) dan Australia memberikan dukungan kepada Indonesia, termasuk teknologi satelit untuk membantu pengawasan perairan. Indonesia juga mengharapkan bantuan teknis Jepang.

Dalam kaitannya dengan klaim teritorial Cina di Laut Cina Selatan, Susi mengatakan bahwa dia tidak terlalu khawatir dengan klaim Beijing itu.  “Bagi saya ini jelas. Begitu di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia, itu ikan saya!,” tegasnya. [JX/VOA/Eka]

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here