Terkait Ahok Diminta Mundur, Surya Paloh Imbau Agar Hargai Konstitusi

Ketua Umum Partai Nasdem didampingi Cagub DKI Basuki Tjahaja Purnama (kiri) dan Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto. (Foto: Ist./W5)

JAKARTA, JIA XIANG – Pencalonan Gubernur Petahana DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok banyak menuai kontroversi. Ahok telah mengatakan dirinya sempat diminta untuk mundur dari kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI oleh beberapa pihak.

Menanggapi hal itu, Ketua Umum DPP Partai NasDem, Surya Paloh mengatakan, pihak yang meminta Ahok mundur harus menjunjung tinggi konstitusi. Karena didalam Undang-Undang dan Peraturan Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang berlaku, ada sanksi hukum bagi calon yang mengundurkan diri.

“Undang-undang mengatur tidak boleh mundur, KPU juga mengatakan jangan mengundurkan diri. Ada hukum yang bisa melekat. Tolong hargai konstitusi,” kata Surya Paloh di Kantor DPP NasDem, Gondangdia, Jakarta Pusat, Jumat (11/11/16).

Tak hanya itu, jika benar ada pihak yang meminta Ahok untuk mundur, haruslah memberikan alasan yang kuat. Jika tanpa dasar yang kuat, tidak bisa terjadi calon mundur dari pemilihan. “Kalau disuruh mundur itu berarti harus ada dasarnya. Kalau tidak ada, kenapa harus disuruh mundur?” tanya dia.

Diketahui sebelumnya, Ahok mengakui ada pihak yang meminta dirinya untuk mengundurkan diri dalam ajang Pilkada DKI. Menurut Ahok, pihak tersebut beralasan karena kasus hukum terkait penodaan agama yang dilakukannya saat dinas di Kepulauan Seribu, Selasa (27/9/16).

Namun Ahok menyatakan dirinya tidak akan mundur dari ajang Pilkada DKI Jakarta 2017. Walau diterapa kasus dugaan penodaan agama, terlebih saat ini sudah masuk dalam ranah hukum, dirinya masih tetap dengan pendiriannya maju sebagai Calon Gubernur Petahana.

“Saya sudah bilang, kalau suruh saya mundur, saya lebih baik ditangkap dan dipenjara,” kata Ahok di kediamannya, Kompleks Pantai Mutiara, Pluit, Jakarta Utara, Kamis (10/11/16).

Ia merasa pihak yang melontarkan kalimat itu hanya takut bila dirinya terpilih menjadi Gubernur DKI kembali pada masa jabatan 2017-2022. “Jadi ini bener, waktu suruh saya mundur, ini cuma ujung-ujungnya takut Ahok jadi Gubernur lagi,” ujarnya.

“Takut amat sih gue jadi Gubernur?” lanjut Ahok dengan heran.

Saat dikonfirmasi nama pihak yang meminta dirinya mundur, Ahok menolak memberikannya. “Ada lah, Saya nggak usah ngomong. Kenapa mesti suruh saya mundur. Kan lucu,” ungkapnya lagi.

Ahok menambahkan, pihak yang meminta dirinya mundur dari kontestasi Pilkada DKI sempat mengatakan jika Ahok tidak turun, akan terjadi demo terus menerus di Jakarta. “Mereka akan turun, akan ada demo terus. Presiden bisa diturunkan. Ini bisa jadi tidak terkendali, orang akan datangi massa terus menerus berhari-hari makin kacau,” ujar dia menirukan kalimat pihak tersebut.

Diketahui sebelumnya, beredar kabar pada 18 November 2016 atau 25 November 2016, akan terjadi demo besar-besaran seperti pekan lalu. Ahok pun tidak merasa heran karena sudah ada peringatan yang diterima olehnya. “Intinya gini, bahwa mereka akan membuat kerusuhan, bukan rusuh ya, nantinya mereka akan demo (lagi),” pungkas dia.

Terkait dengan ucapan Presiden Joko Widodo, aksi unjuk rasa pada Jumat (4/11/16) yang mengatakan ada isu politik yang menunggangi aksi tersebut, Ahok enggan mengutarakan pendapatnya. “Saya tidak tahu. Mesti tanya beliau (Jokowi) lah,” kata Ahok. [JX/Cka/W5]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here