“The Bleeding Edge”, Suara Hati Soal Penjualan Organ Manusia

Salah satu adegan Film "The Bleeding Edge" (Foto: JX/theeppochtimes)

LONDON, JIA XIANG – Aktris Kanada berdarah Cina Anastasia Lin adalah pemain film yang paling populer di tanah leluhurnya. Setelah dia dinobatkan sebagai Miss World Kanada pada 2015, Anastasia lebih senang berbicara tentang pelanggaran hak asasi manusia di negara asalnya, daripada mengejar kehidupan glamor sebagai ratu kecantikan.
Pada hari Selasa (6/9/16), dia diundang ke Westminster, Inggris, untuk menghadiri pemutaran perdana film terbarunya, The Bleeding Edge. Ini sebuah film yang menggambarkan kengerian di industri penjualan secara paksa organ manusia di Cina.

Film sudah lebih dulu diputar dihadapan para anggota perlemen Inggris, tak lama setelah Perdana Menteri, Theresa May, menghadiri KTT G-20 di Hangzhou, Cina.

Anastasia, aktris berusia 26 tahun ini, terpilih untuk membintangi film-film yang menjelaskan masalah hak asasi manusia di negara komunis. Namun di Amerika, terutama para produsen negeri Paman Sam ini mengatakan bahwa kemungkinan besar dia masuk “daftar hitam” di Hollywood.

Namun kisah mengerikan yang digambarkan dalam The Bleeding Edge, tentang panen dan penjualan organ manusia, dari para tahanan, yang direstui negara. Film ini didasarkan pada kisah nyata. Para korban yang diceritakan itu berasal dari orang-orang Tibet yang beragama Buddha, orang Kristen, Uighur, dan para pengikut dan praktisi Falun Gong.

“Saya percaya organ itu sangat berarti untuk menjadi sebuah hadiah dari satu manusia ke manusia lainnya. Karena itu, organ tersebut tidak dapat diberikan secara paksa, karena orang yang menerima organ itu juga pada dasarnya adalah korban,” kata Lin ketika menghadiri pemutaran film tersebut.

Ethan Gutmann
Di Cina hampir tidak ada sistem donasi organ manusia, tetapi kenyetaannya jumlah transplantasi organ sangat tinggi. Jumlah yang sangat tinggi ini justru memicu digelarnya peneliti untuk melihat ke lebih jauh praktek penjualan organ itu lebih dari satu dekade lalu.

Adalah Ethan Gutmann, yang telah menyelidiki secara teliti perdagangan organ ilegal di Cina, menemukan bahwa sumber utama organ yang diperoleh secara ilegal itu adalah berasal dari para praktisi Falun Gong. Kelompok Falun Gong ini sebenarnya adalah latihan spiritual tradisional Cina, namun dilarang oleh pihak berwenang di Cina sejak tahun 1999. Diperkirakan bahwa ratusan ribu pengikut Falun Gong ini telah dipenjara di seluruh Cina.

“Jelas sistem transplantasi [di Cina] telah tumbuh selaras dengan penangkapan para pengikut Falun Gong,” tegas Gutmann.

Ethan Gutmann (Foto: JX/theepochtimes)
Ethan Gutmann (Foto: JX/theepochtimes)

Penelitian terbaru Gutmann menemukan bahwa jumlah transplantasi organ di Cina jauh lebih tinggi daripada data “statistik resmi” negara yaitu 10.000 hingga 20.000 per tahun.

Penelitian yang diterbitkan dengan judul Bloody Harvest / The Slaughter: An Update, menemukan bahwa sejak tahun 2000 kemungkinan sudah ada sekitar 60.000 sampai 100.000 transplantasi per tahun dilaksanakan di Cina, per tahun.

Lin, yang juga berlatih Falun Gong, tersentuh oleh keberanian dari orang-orang yang tertindas di Cina, tapi masih berpegang pada keyakinan mereka. “Mereka adalah orang-orang pemberani,” katanya. “Orang-orang inilah yang berakhir di penjara, bukan karena mereka telah melakukan kesalahan, tetapi karena sistem.”

Karena itu, Anastasia berharap film ini akan meningkatkan kesadaran terkait persoalan pengambilan paksa organ masnusia di Cina dan mendesak masyarakat internasional untuk bertindak.

Awal tahun ini, dia bersaksi di Parlemen Inggris tentang penganiayaan terhadap kelompok agama minoritas dan praktek pengambilan organ secara paksa. Dia juga sebelumnya bersaksi di sidang Kongres AS tentang penganiayaan agama yang terjadi di Cina. [JX/theepochtimes/Eka]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here