Tingkat Stress Tinggi Ganggu Pubertas Anak Perempuan

(Foto: JX/Ist)

WASHINGTON, JIA XIANG – Terjadinya peristiwa yang sangat menegangkan atau mengerikan  ternyata mempengaruhi otak.  Reaksi otak  anak perempuan dan anak laki-laki berbeda-beda dalam menghadapi peristiwa itu.

Ada bagian dari otak yang terkait dengan emosi dan empati. Bagian ini disebut insula,  yang ditemukan  lebih kecil pada anak perempuan yang menderita trauma. Tapi pada anak laki-laki yang mengalami trauma, insula itu lebih besar dari biasanya.

Kondisi otak ini bisa menjelaskan mengapa anak perempuan lebih mungkin  mengatasi  gangguan  stres pasca trauma (PSTD) dibandingkan anak laki-laki, kata para peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Standfort, Amerika Serikat.

PTSD adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan efek psikologis bagi orang yang terlibat dalam peristiwa traumatis,  seperti kecelakaan mobil, bencana alam, intimidasi, pelecehan atau kejahatan kekerasan, dan lainnya.

Gejala umumnya dapat dilihat seperti mimpi buruk, terlalu senang dan sulit santai, mengindari mengingat peristiwa menakutkan, sulit tidur, sulit makan.

Temuan para peneliti ini menunjukkan bahwa anak laki-laki dan perempuan bisa menampilkan  gejala yang kontras setelah mengalami peristiwa sangat menyedihkan atau menakutkan. Karena itu perlakuan terhadap mereka juga harus berbeda-beda.

Tim peneliti  itu mengatakan,  perempuan yang mengalami PTSD sebenarnya bisa menderita penuaan lebih cepat di satu bagian dari insula – daerah otak yang memproses perasaan dan rasa manusia.

Insula, atau korteks insular, merupakan daerah yang beragam dan kompleks, terletak jauh di dalam otak yang memiliki banyak koneksi, termasuk  pengolahan emosi,  yang memainkan peran penting dalam mendeteksi isyarat dari bagian lain tubuh.

Dalam studi ini para peneliti mempelajari 59 otak anak-anak, berusia sembilan sampai 17 tahun. Dan hasil studi mereka pun diterbitkan dalam jurnal Depresi dan Kecemasan.

Satu kelompok, dari 14 anak perempuan dan 16 anak laki-laki, diketahui  menderita setidaknya satu episode stres berat atau trauma.  Sementara kelompok kedua, dari 15 anak perempuan dan 14 anak laki-laki, belum terkena apapun.

Pada kelompok anak laki-laki dan perempuan yang mengalami trauma, ada bukti bahwa salah satu daerah insula – anterior sulcus melingkar – telah berubah dalam ukuran dan volume dibandingkan dengan kelompok tanpa trauma.
Hal ini menunjukkan bahwa insula diubah oleh paparan stres jangka panjang akut atau dan memainkan peran kunci dalam pengembangan PTSD, kata para peneliti.

Penulis utama studi ini, Dr Megan Klabunde mengatakan,  hal itu penting untuk mempertimbangkan reaksi fisik dan emosional yang berbeda dalam mengalami peristiwa stres.

“Sangat penting bahwa orang-orang  mengobati  para pemuda penderita trauma harus mempertimbangkan perbedaan jenis kelamin,” ujarnya.  “Temuan kami menunjukkan adalah mungkin bahwa anak laki-laki dan perempuan bisa menunjukkan gejala trauma yang berbeda dan bahwa mereka mungkin mendapat manfaat dari pendekatan yang berbeda dalam  pengobatan.”

Katanya lagi, ada beberapa studi menunjukkan bahwa tingkat stres yang tinggi dapat berkontribusi terhadap pubertas dini pada anak perempuan.

Dr Klabunde mengatakan mereka sekarang akan melihat daerah lain dari otak yang terhubung ke insula untuk melihat apakah mereka bisa mendeteksi perubahan serupa. [JX/BBC/Eka]

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here