Tintin, si Dingding

Herge (tengah) bersama seorang wartawan. (Foto: JX/Chindaily)

Tokoh komik terkenal Tintin, di Cina dikenal sebagai Dingding, adalah seorang reporter laki-laki yang dengan hebatnya berlari- telah memuaskan  jutaan pembaca dan  yang pertama membawa  kesan Eropa pada  era tahun 1930-an di  Cina.

Ternyata Cina memiliki tempat khusus dalam cerita karya Georges Remi, kartunis asal Belgia yang menggunakan nama pena atau samaran Herge. Cina adalah satu-satunya negara yang ditampilkan dalam dua buku, yaitu The Blue Lotus dan Tintin in Tibet,  ini adalah rangkaian petualangan terkenal di dunia berkat  kasih sayang Remi untuk Cina.

Tintin, seorang jurnalis junior berusia 15 tahun dengan anjing kecilnya, Snowy, sering kali mernggunakan  benda yang eksentrik dan berhadapan dengan penjahat  yang bodoh.

Dalam cerita The Blue Lotus, dia mengunjungi Shanghai pada tahun 1936, saat dia memerangi penyelundup opium yang didanai Jepang dengan bantuan temannya dari Cina bernama  “Chang”.

Herge di studio gambar (Foto: JX/Chindaily)

Kemudian pada penerbitan berikutnya  ketika Tintin  di Tibet, dia menyelamatkan Chang, yang pesawatnya  jatuh di Tibet.

Tidak seperti tokoh-tokoh lain dalam serial ini, “Chang” diciptakan berdasarkan tokoh kehidupan nyata yang  bernama  Chang Chong-jen. Chang sempat  belajar seni di Brussels, dan membantu Remi menggambarkan Cina secara realistis.  Mereka, Chang  dan Remi,  sama-sama lahir pada tahun 1907.

Pada tahun 1934, untuk mempersiapkan kisah perjalanan Tintin di Cina, Remi bertemu dan berteman dengan Chang.  Dua seniman ini menghabiskan waktu satu tahun bersama-sama, sambil  Chang memperkenalkan pada Remi  tentang  filsafat, seni dan sastra Cina. Chang juga menceritakan kepada Remi tentang penderitaan orang-orang Cina selama agresi brutal  Jepang.  Dia juga mengenang Zhang Yifei, anak yang perempuan  dan telah tiada.

Tentang Seni

Pertemuan dan pertemanannya dengan Chang membantu Remi menyingkirkan stereotip kontemporer Cina dan masyarakyatnya.  Dia merasa berkewajiban untuk mengalahkan beberapa klise yang beredar di kalangan orang Eropa saat itu.

Dalam sebuah surat kepada seorang teman, Remi berkata, “saat saya mempersiapkan cerita  (tentang The Blue Lotus),  saya menemukan simpati dan kekaguman yang nyata akan orang-orang (Cina) ini. Saya memiliki keinginan yang kuat untuk memahaminya dan menyukai mereka.”

Kedua teman itu, Chang dan Remi,  saling bertukar pandangan  tentang  seni.  Suatu hari di pekarangan  Remi,  Chang menunjuk pohon-pohon di sana dan mengatakan bahwa karena setiap tanaman tumbuh seimbang dan indah, maka sangat penting bagi seniman untuk mencerminkan kebenaran alam.

Cerita The Blue Lotus, buku kelima dalam serial petualangan Tintin volume 24, menceritakan bagaimana Tintin melacak pedagang opium sampai ke Cina dan membantu melawan Jepang.  Buku ini telah dilihat sebagai titik balik dalam karir Remi. Kritikus mengatakan bahwa buku itu adalah karya Remi yang paling realistis dan berani, dan  “karya hebat yang tak terbantahkan.”

Pertukaran pikiran Remi dengan Chang sangat penting dalam pengembangan petualangan Tintin, kata novelis dan kritikus Perancis,  Benoit Peeters.

Remi selalu mengacu pada pengaruh besar Chang terhadapnya, tidak hanya dalam hal penulisan The Blue Lotus, tapi juga pada arahan umum semua cerita Tintin, dan karya-karyanya yang lain juga.

Bertemu Kembali

“Saya berutang pada Chang tentang  tentang  pemahaman persahabatan yang lebih baik, penghormatan terhadap puisi, penghormatan terhadap alam … Dia adalah orang yang luar biasa,” kata Remi dalam biografinya. “Dia membawa saya untuk menemukan dan menghargai puisi dan kaligrafi Cina ‘angin dan tulang’,  angin inspirasi dan tulang ketampilan  percaya diri.”

Herge (tengah) dan rekan-rekannya. (Foto: JX/Chinadaily)

Chang kembali ke Cina sebelum  The Blue Lotus  diterbitkan pada tahun 1936.  dan kehilangan kontak dengan Remi selama Perang Dunia II dan sesudahnya.

Dalam surat pertama kepada Chang pada tahun 1975,  setelah mereka melanjutkan komunikasi, Remi mengucapkan terima kasih kepada temannya “tidak hanya atas bantuan yang Anda bawa pada saat itu dalam pekerjaan saya, tetapi juga untuk pengetahuan yang Anda bawa kepada saya.”

“Terima kasih, hidup saya mengambil orientasi baru … Anda membuat saya menemukan kualitas  berbagai hal, puisi, perasaan kesatuan manusia dan alam semesta,” tambah Remi.

Pada tahun 1981, Remi dan Chang, seorang seniman dan pematung yang sukses, akhirnya bersatu kembali di Brussels setelah 46 tahun terpisah.  Pertemuan mereka disiarkan di TV nasional Belgia, dan menarik jutaan pemirsa dari seluruh dunia.

Remi meninggal pada tahun 1983.  Lima belas tahun kemudian, Chang juga wafat  dunia. Tapi persahabatan mereka bertahan di hati pembaca Tintin baik di Cina maupun Belgia.  Pada tahun 2015, Cina membuka pusat kebudayaan di Brussels,  dan mengadakan pameran khusus tentang karya seni Chang dan hubungannya dengan Remi.

Tintin telah menjadi harta nasional bagi Belgia, sama seperti panda adalah salah satu ikon dari Cina. Pada bulan Februari 2016,  seekor anak panda diberi nama  “Dingding”  di Kota Chongqing untuk menghormati persahabatan Cina dengan Belgia. [JX/Chindaily/Globaltimes/Eka]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here