Tiongkok Pengimpor Utama Manggis dari Tabanan

Buah manggis dalam kardus dari Tabanan yang siap diekspor. (Foto: JX/Dearna)

TABANAN, JIA XIANG – Tabanan Kecamatan Pupuan dan Selemadeg barat merupakan kawasan perkebunan dengan hasil yang spektakuler. Kawasan ini penghasil kopi rubusta dan aneka buah. Lahan di dua kecamatan ini sangat subur ditamani manggis, buah lokal yang kini cukup besar permintaan pasarnya. Maka tak heran, warga cenderung memanfaatkan lahan di dua wilayah ini ditanami komoditi yang sedang bagus harganya. Tak sekadar bertaman, mereka pun mengelolanya dengan manajemen yang baik agar jumlah buah yang dihasilkan sesuai permintaan pasar, dan selalu berkesinambungan.

Pengetahuan bercocok tanam modern mereka dapatkan setelah belajar dari pengelolaan Sub Terminal Agribisnis (STA) Sari Buah di Banjar Padangan Kaja, Desa Padangan Pupuan. Berbekal pengetahuan dari sini disimpulkan wilayah Tabanan barat  layak dipertahankan sebagai kawasan agropolitan andalan. Agropolitan adalah kawasan atau “kota pertanian” yang tumbuh dan berkembang karena berjalannya sistem dan usaha agribisnis yang mampu melayani dan mendorong kegiatan pembangunan pertanian di wilayah sekitarnya.

Ketiaka Jia Xiang berkunjung ke dua kecamatan, yang luas wilayahnya hampir separuh luas Kabupaten Tabanan, diperoleh penjelasan dari Jero Putu Tesan, S.Sos, pengelola STA Sari Buah, tentang distribusi pemasaran buah manggis pada musim panen tahun ini.

Menurut Jero, yang juga Ketua Asosiasi Manggis Indonesia, produksi manggis di wilayah kecamatan Pupuan dan Selemadeg Barat pada musim panen Januari-Mei  mencapai 4.000 ton dengan harga di tingkat petani berkisar Rp 6.000 hingga Rp 11.000 atau rata-rata Rp 7.000, tergantung kualitas. Harga tersebut sudah di atas harga dasar STA Sari Buah sebesar Rp 4000.

Sebagian besar manggis yang dihasilkan dari sini diekspor ke Tiongkok. Ukurannya terbagi tiga kelas yaitu AA (kecil), AAA (sedang) dan AAAA (besar).

“Kami tidak ada untungnya menurunkan harga di tingkat petani, karena harga sudah ditentukan langsung dari Tiongkok. Keuntungan semakin besar jika petani bergairah berpoduksi dengan kualitas, kuantitas dan kontinunitas sesuai dengan permintaan pasar,” paparnya.

Hal senada dikemukakan sejumlah petani yang dijumpai Jia Xiang ketika mencek silang antara penjelasan Jero Tesan dan petani. Di Desa Belatungan Pupuan (termasuk wilayah Zona satu STA Sari Buah), buah manggis petani dibeli Rp 7.000 per kilogram oleh sub pengepul.

Jika dikalkulasikan dengan sederhana, jika  total produksi 4.000 ton per sekali musim kemudian dikalikan dengan harga rata-rata Rp 6000 per kilogram,  maka putaran uang dari buah manggis saja mencapai Rp. 24 miliar per sekali musim. Ini belum termasuk buah-buahan lain seperti durian, aldvokat, salak dan sebagainya.

Melihat potensi perkebunan di wilayah Kecamatan Pupuan dan Selemadeg Barat, maka kawasan ini sangat layak dipertahankan sebagai kawasan “Agropolitan” di Kabupaten Tabanan bahkan Bali. Dikemasnya Pupuan dan Selbar ini sangat memungkinkan karena dua kecamatan ini juga memiliki keunggulan lain, yakni keindahan panorama alamnya. Perpaduan antara pesawahan, tegalan dan hamparan jurang di sini tidak kalah dengan pesona Panelokan Kintamani, Bangli.[JX/Drn/W5]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here