Tulus Berderma, Hindari Diri dari Ketamakan

Jia xiang – Kisah Anak Macan Tutul yang Tamak menjadi tema yang diceritakan Dharma sx, relawan pemuda-pemudi Tzu Ching Bandung, dalam Komunitas Bedah Buku Hua Ai  Yayasan Buddha Tzu Chi, yang digelar Rabu (10/7/13) malam.

Tidak kurang dari sepuluh orang hadir dalam bedah buku yang rutin dilaksanakan setiap Rabu malam di lantai III Gedung Buddha Tzu Chi Dago Bandung. Bukan hanya pemuda-pemudi yang berasal dari Bandung saja yang hadir, tapi beberapa mahasiswa asal Malaysia juga turut berbagi dalam komunitas yang didirikan pada 22 Februari 2012 itu.
Kali ini dibahas tentang ketamakan atau keserakahan. Sesuai ajaran Master Cheng Yen yang selalu mengingatkan tentang belas kasih dan dharma, ketamakan atau keserakahan. Hal itu hanya akan mendatangkan penderitaan saja bagi diri sendiri maupun orang lain. Itu tergambar dari cerita Anak Macan Tutul yang Tamak.
Akibat ambisinya, anak macan tutul menderita hingga bulunya rontok. Karena itu, untuk menghindari diri dari keserakahan dan ketamakan itu diperlukan pengendalian diri dan rasa syukur atas segala nikmat yang didapatkan. Selain itu, sering melakukan derma secara ikhlas juga dapat menjadikan seseorang terhindar dari ketamakan dan keserakahan.

“Memiliki kelebihan materi belum tentu membuat orang bahagia, namun bisa menimbulkan penderitaan. Karena, dengan kelebihan materi yang dimilikinya,  orang tersebut akan menjadi takut kehilangan. Inilah yang akan membuatnya menderita,’’  jelas Dharma sx mengikuti kata-kata bijak dari ajaran Master Cheng Yen.
Menurut Koordinator Tzu Ching, Briggita Setiawan, bedah buku Master Cheng Yen itu bertujuan mengajarkan dharma kepada pemuda-pemudi, dari berbagai kalangan tanpa membedakan suku, agama dan ras.
Sebab yang dibahas dalam setiap bedah buku itu adalah hal universal, dalam kehidupan manusia tentang cinta kasih dan dharma. Mereka tidak membahas tentang hal-hal praktis seperti politik.
Briggita mengungkapkan, awalnya bedah buku itu menyatu dengan para relawan Tzu Chi yang sudah senior. Namun, akibat terkendala bahasa yang mereka gunakan akhirnya para relawan Tzu Chi yang tergabung dalam Tzu Ching ini membuka kegiatan bedah buku sendiri pada awal tahun 2012 lalu.

“Bedah buku dengan relawan yang sudah senior menggunakan bahasa Mandarin. Mereka, orang-orang tua yang sudah sepuh dan bisa berbahasa Mandarin. Kami banyak  kesulitan memahami masalah setiap bedah buku, akhirnya kami minta untuk dibuatkan jadwal bedah buku khusus pemuda-pemudi,” jelas Briggita.
Dalam setiap bedah buku, materi akan dibahas oleh setiap relawan Tzu Ching secara bergantian. Tujuannya selain untuk melatih tampil berbicara di depan umum juga untuk membagi pengetahuan dan wawasan kepada peserta bedah buku.

Hanya saja, dalam setiap bedah buku, pihaknya selalu melakukan pendampingan untuk mengarahkan pembicaraan dalam setiap topik, agar tidak melebar ke isu politik praktis. Siapa saja bisa, lanjut Briggita penganut agama Katolik,  bisa mengikuti bedah buku itu, tanpa membedakan latar belakang agama maupun suku dan rasnya.
“Sebab, ajaran Master Cheng Yen yang merupakan seorang bikhuni isinya bersifat universal, bukan tentang agama Buddha,” tambahnya.  “Dari bedah buku ini, kita belajar berdharma, sehingga kita tahu apa dan bagaimana kita dalam menjalani hidup.” [JX/Sas/E4]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here