Tumpas Teroris Bersama Rakyat

Polri menggerebek markas teroris di Kampung Sawah, Ciputat, Tangerang Selatan, saat malam tahun baru. Mereka disebut-sebut hendak mengacau ketika malam pergantian tahun.

Dalam aksi penggerebekan itu, enam orang dipastikan tewas termasuk pemimpin mereka, Dayat “Kacamata”. Menurut pihak kepolisian memang mereka berencana mengacaukan perayaan malam tahun baru di Jakarta di Bundaran Hotel Indonesia.

Mereka berencana melakukan serangkaian serangan bom itu saat pergantian tahun. Hasil interogasi polisi terhadap tersangka Anton alias Septi, rencana itu telah mereka persiapkan, termasuk  menyerang kawasan   Pantai Indah Kapuk.

Dugaan serangan itu semakkin kuat, sebab dilokasi penggerebekan ditemukan berbagai jenis bahan peledak dan bahan-bahan untuk bom rakitan. Bukan cuma itu, dari data yang diperoleh kepolisian, kelompok ini  pernah menyerang dua anggota polisi di Jonggol, Cirendeu, Pondok Aren, Tangsel, termasuk aksi bom di  Polsek Rajapolah dan Pospol Mitra Batik Tasikmalayatahun 2013, serta Bom Beji, Depok, Jawa Barat tahun 2012.

Entah kebetulan, entah tidak negara tetangga kita, Australia,pada 31 Desember 2013 mengeluarkan travel warning bagi warga negaranya untuk ekstra hati-hati bepergian ke Indonesia, hanya beberapa jam sebelum penggerebekan di Ciputat itu dilakukan.

Banyak hal bisa dipetik dari dua peristiwa itu, penggerebekan dan travel warning Australia, sebelum negara ini menelusuri tahun 2014 yang akan dipenuhi dengan berbagai persoalan politik terutama menjelang pemilu legislatif dan presiden.

Selain itu, bisa disebutkan bahwa teroris masih aktif di Indonesia. Artinya pemerintah harus selalu waspada, sebab kelompok-kelompok ini masih aktif dan siap menyerang kapan, di mana pun, dan siapa pun.

Tampaknya peringatan Australia itu sejalan dengan temuan pihak keamanan di Indonesia, menjelang perayaan Natal 25 Desember 2013 dan 31 Desember 2013, yang mengatakan bahwa ada rencana serangan teroris di gereja dan perayaan tutup tahun.

Bahkan Kapolri Sutarman awal Desember 2013 melansir adanya  beberapa indikasi kelompok militan sedang merakit bom untuk menyerang rumah-rumah ibadah.
Apakah Australia sudah mengetahui rencana serangan ini? Atau hanya meraba-raba melalui berbagai analisis dari serangkaian temuan yang mereka miliki dan bekerjasama dengan pihak keamanan Indonesia.

Atau haruskan sebuah penggerebekan dan bahaya ancaman teroris dimulai dari peringatan yang dikeluarkan negara lain?  Apakah pihak keamanan Indonesia ingin membuktikan bahwa mereka “berjasa” dalam mengatasi keamanan terutama ancaman teroris? Atau apakah ini sebuah “skenario besar” yang terkait dengan pencitraan pemerintah terhadap perang melawan teroris?

Banyak perkiraan yang bisa disimpulkan dari temuan-temuan di awal tahun ini.  Yang pasti pihak keamanan tidak bisa main-main dengan terorisme, sebab langsung atau pun tidak, pertaruhannya pada sukses tidaknya pesta demokrasi tahun ini.

Banyak hal yang dipertaruhkan di sana, bukan hanya nama baik, tetapi reputasi bagi sebuah negara besar di Asia Tenggara. Kata kuncinya adalah keamanan di dalam negeri, melindungi rakyatnya dari ancaman yang bisa membahayakan keutuhan bangsa dan negara.

Keamanan dalam negeri sebaiknya bukan lagi dianggap sebagai “mainan” yang bisa mengelabuhi rakyat. Tetapi sebagai komoditi utama menjaga keutuhan bangsa dan negara dari rongrongan terorisme.

Karena itu, menumpas terorisme sepatutnya sebagai tugas yang melibatkan tidak hanya pihak keamanan, tetapi  rakyat negara ini. Dengan cara bersama dan bersama-sama, maka kita akan tetap dalam kondisi waspada.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here