Twitter Tutup lagi 235.000 Akun yang Promosikan Terorisme

WASHINGTON, JIA XIANg – Dalam enam bulan terakhir Twitter mengumumkan bahwa mereka telah menutup 235.000 lagi akun-akun yang mempromosikan terorisme. “Jumlah total akun yang ditutup adalah 360.000 sejak pertengahan tahun 2015,” menurut perusahaan tersebut dalam sebuah pernyataan hari Kamis (18/8/16). Menurut Twitter, penutupan akun-akun pengguna telah meningkat 80 persen sejak 2015. Bahkan banyak penutupan itu dilakukan segera setelah serangan-serangan teroris.
Perusahaan yang berbasis di AS itu menambahkan, mereka juga telah membuat kemajuan dengan mencegah para pemilik akun yang ditutup untuk kembali menggunakan jaringan media sosial tersebut dengan menggunakan akun yang berbeda, dan bahwa mereka “berkolaborasi dengan jaringan-jaringan media sosial yang lain dalam mengidentifikasi konten teroris.”
Meski ada kemajuan, banyak pemilik akun yang ditutup menemukan jalan kembali ke Twitter.
“Jumlahnya, termasuk sejumlah pengguna yang cukup besar, yang berulang kali ditutup akunnya setelah membuka akun baru. Jadi jumlah akun yang ditutup tidak sama dengan jumlah pengguna,” ujar J.M. Berger, peneliti di program ekstremisme George Washington University seperti dikutip VOA, “Ini bukan angka yang sepele.”
Berger adalah penulis utama studi tahun 2015 berjudul “Sensus ISIS di Twitter,” yang menemukan bahwa para pendukung Negara Islam (ISIS) menggunakan sedikitnya 46.000 akun Twitter antara September dan Desember 2014, masing-masing memiliki rata-rata 1.000 pengikut.
Akibatnya Twitter dikritik dan dianggap tidak melakukan cukup upaya untuk memangkas aliran konten ekstremis. Namun Berger mengatakan Twitter telah membuat kemajuan. “Jaringan ISIS di Twitter saat ini kurang dari 10 persen daripada tahun 2014 ketika kami melakukan sensus,” ujarnya.
Menanggapi pemangkasan oleh Twitter dan jaringan-jaringan media sosial lainnya, para pengikut ISIS telah pindah ke aplikasi pesan yang terenskripsi, seperti Telegram dan WhatsApp, untuk berkomunikasi dengan para pengikut secara terbatas.
“Telegram memungkinkan para pengikut yang ada saling berkomunikasi, namun Twitter dan Facebook adalah tempat utama untuk menemukan pendukung baru di dunia maya,” ujar Berger. “Para perekrut dan penyebar propaganda ISIS tahu hal ini, jadi mereka sangat menekankan kepada para pendukung di Telegram untuk membuka akun baru di Twitter.” [JX/Eka]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here