UINSA Jadi Tuan Rumah ICON UCE

Rektor UINSA Surabaya, Prof Abd A'la (dua dari kiri) menjelaskan gedung Twin Tower kepada perwakilan negara Kanada.(Foto: JX/Budi Arie Satriyo)

SURABAYA, JIA XIANG – Supporting Islamic Leadership for Development (SILE/LLD) Project telah 5 tahun bekerja sama dengan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Beragam program kerjasama Pemerintah Indonesia dengan Kanada yang fokus pada penguatan kapasitas kepemimpinan di Lingkungan Pendidikan Tinggi Islam (Pendis) pun telah dilaksanakan.

Menjelang akhir kerjasama ini, UINSA dipilih sebagai tuan rumah pertemuan ‘International Conference on University-Community Engagement (ICON UCE 2016)’ di Surabaya, 2-5 Agustus 2016. “Konferensi ini dihadiri sekitar 6 negara, memang menjelang akhir kerjasama. Tapi biasanya bisa diperpanjang lagi,” jelas Ketua Panitia ICON UCE 2016 Nabiela Nayli, Rabu (3/8/16).

Selain itu, menurut  dia, melalui SILE, kampus dapat berguna bagi negara dan bangsa dan memiliki efek nyata dalam pengabdiannya. Tidak hanya sekadar wacana dan teori. “Proyek SILE selama ini mendorong kampus untuk memberi peranan dalam masyarakat. Melalui proyek sile ini ada 8 lokasi pokok kerja yang mencoba pendekatan baru untuk memaksimalkan aset,” jelasnya.

Dikatakan Nabiela, konferensi ini juga memberikan kesempatan kepada para pemangku kepentingan dari berbagai mitra yang bekerja sama untuk membuat inisiatif transformasi sosial yang inovatif dan kreatif. ICON UCE 2016 adalah konferensi internasional untuk berbagi pengalaman dan praktik lapangan hingga kisah sukses terkait keterlibatan universitas-komunitas dalam kegiatan bersama dari tingkat lokal hingga tingkat global.

“Tema besar konferensi kali ini adalah Collaborative Creation Leads To Sustainable Change, atau sebuah upaya masyarakat menuju perubahan yang berkelanjutan,” katanya.

Dengan dipilihnya UINSA sebagai tuan rumah konferensi ini, diharapkan dapat membangun jaringan yang lebih luas dan kemitraan menuju perubahan yang lebih berkelanjutan dalam masyarakat. Konferensi ini juga merupakan yang kedua setelah 2 tahun lalu pertama kali diadakan di UIN Sultan Alaudin Makassar. Dalam konferensi ini, peserta mendapat kesempatan untuk berkontribusi dalam berbagai sesi interaktif, mulai dari workshop kinerja seni, dialog deliberatif untuk presentasi, sesi poster hingga kunjungan.

“Kegiatan utama diskusi akan terbagi dalam empat sesi panel dengan tema yang berbeda yang setiap sesi panel akan di-breakdown menjadi lima kelas untuk lebih memperdalam pembahasan terkait tema utama panel,” jelasnya.

Sementara itu, Rektor UINSA, Prof Abd A’la menjelaskan karena kerjasama yang telah terjalin, UINSA bisa membuat rencana strategi universitas seperti program kesetaraan gender hingga pemberian saran dalam kebijakan di dalam kampus. “Tentunya, kolaborasi dan sinergi dengan berbagai pihak, khususnya pemerintahan, dunia usaha, donor internasional maupun nasional akan dapat melengkapi kemitraan yang selama ini sudah terjalin antara kampus, masyarakat dan organisasi,” katanya.

Canadian Team Leader Sile, Lina Kalfayan mengungkapkan UINSA mewakili jawa timur sebagai pihak akademisi dalam menerapkan program-program kepemimpinan dengan dasar keagamaan. Konferensi ini menurutnya menjadi pertemuan dalam mengevaluasi berbagai program. “Konferensi ini merupakan indikator suksesnya kerja sama Pemerintah Indonesia dan Kanada untuk mendorong kerja sama Perguruan Negeri, komunitas dan Sile,” katanya. [JX/Bas/W5]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here