Uluran Tangan untuk Saudara Kita

Oleh: Iman Sjahputra

Pada hari Rabu (7/12/16) subuh, Provinsi Aceh kembali diguncang gempa berkekuatan 6,5 pada skala Richter. Peristiwa itu ternyata tepat 12 tahun menjelang digelarnya peringatan bencana serupa, gempa bumi dan tsunami di provinsi tersebut.

Namun bencana kali ini, walau pun terserang guncangan yang menurut orang awam begitu besar dan dahsyat, namun tidak disertai tsunami. Hanya saja, bencana pada Rabu kemarin membuka kembali pengalaman 12 tahun lalu khususnya bagi masyarakat di provinsi itu,  yang begitu kelam.

Dengan kata lain, mau tidak mau, masa-masa bencana tsunami 2004 pun teringat. Pantas dan wajar, pada gempa Rabu lalu, banyak orang berhamburan mencari tempat yang lebih tinggi untuk berlindung. Tetapi kenyataan lebih banyak orang lagi orang yang justru tewas dan luka-luka akibat tertimbun reruntuhan bangunan rumah mereka.

Bencana di awal bulan Desember, menjelang akhir tahun 2016, bukan hanya membuka peristiwa kelam masyarakat setempat, tetapi juga kita, seluruh bangsa dan negara ini.

Menurut BNPB  100 orang meninggal, dan ratusan lainnya terluka. Bahkan banyak bangunan dan fasilitas umum rusak, sebagian besar roboh. Tanggap darurat pun diberlakukan selama 14 hari.

Aceh kembali berduka, tentu kita semua bangsa negeri tercinta ini juga berduka. Peristiwa tahun 2004 takkan pernah dilupakan. Itu adalah salah satu bencana terbesar dari sisi kekuatan, korban maupun luas wilayah terdampak, di negeri kita tercinta ini. Pada saat itu, banyak pihak sigap memberikan bantuan. Berbagai bentuk bantuan pun mengalir, dari dalam dan luar negeri.

Dengan kata lain, sama-sama membantu, meringankan beban saudara-saudara kita yang terkena bencana gempa dan tsunami. Kala itu semua pihak bersama-sama bertindak atas nama kebersamaan, kemanusiaan, dan rasa kebangsaan yang luar biasa. Tak akan pernah dapat dibandingkan dengan uang sebesar apa pun.

Artinya, bencana yang terjadi di Aceh saat ini, diharapkan bukan hanya membangkitkan lagi rasa takut kita. Tetapi juga membangkitkan kita kembali akan rasa kemanusiaan untuk membantu saudara-saudara kita yang menderita akibat bencana alam. Inilah saatnya untuk kembali mengukir lagi hamoni kemanusiaan dan kebersamaan sebagai anak bangsa negeri ini.

Kita sepatutnya menyatukan kembali kekuatan, pikiran dan tenaga, tanpa melihat latar belakang saudara kita, baik agama, suku, maupun golongan mereka, untuk sama-sama menyingsingkan lengan baju membantu para korban.

Kini kita pun harus dapat membuktikan kepada bangsa lain, negara lain, dan pihak lain, bahwa negeri ini memiliki “kekuatan”  yang disebut  kebersamaan, solidaritas, perhatian, tolong-menolong, dan persaudaraan.  Semua ini adalah nilai-nilai dasar yang tumbuh dan berkembang di negeri ini, di setiap hati bangsa ini, dan di setiap sendi kehidupan bersama sebagai satu bangsa dan negara.

Inilah saatnya, menyatukan hati, pikiran, dan tenaga untuk membantu sesama dan saudara kita. Kita arahkan semuanya kepada hal-hal yang positif, untuk memperkuat rasa kebangsaan dan persaudaraan kita.  Dan memang sudah waktunya, kita tinggalkan pikiran negatif, apalagi yang lebih mendahulukan keinginan pribadi dan kelompok,  serta  ingin memecah belah bangsa dan negeri.

Kala kita berbicara memecah belah bangsa ini, lalu siapa yang akan memperhatikan saudara kita yang kesusahan ini? Siapa yang peduli pada mereka? Atau mereka yang tidak mampu? Tidak lain dan tidak bukan adalah kita sendiri sebagai saudara setanah air. Mereka membutuhkan bantuan uluran tangan, bukan  hal lain.

Kepedulian pada sesama sebangsa dan setanah air adalah dasar nilai yang juga harus dipertahankan.  Solidaritas sebagai sesama anak bangsa menjadi salah satu alat merekatkan kita sebagai saudara di negeri ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here