Usut Tuntas Pemicu Kerusuhan

Oleh: Iman Sjahputra

Aksi demonstrasi, pada Jumat (4/11/16), yang digelar sejak siang hingga sore hari berlangsung damai, ternyata harus berakhir dengan kerusuhan.

Bentrokan antara pengunjukrasa dengan aparat keamanan disesalkan banyak pihak, termasuk Presiden Joko Widodo. Dalam keterangannya menjelang pukul 24.00 WIB, Presiden menyebutkan bahwa ada aktor politik di balik kerusuhan tersebut.

Dan memang kerusuhan atau kekacauan yang terjadi itu sebenarnya bentuk dari ketidakpuasan politik, dengan menggunakan pihak lain sebagai penggerak aksi, supaya berjalan lebih “marak” lagi.

Presiden sungguh menyesalkan bentrokan  yang terjadi Jumat malam itu, dan sebenarnya bukan hal seperti ini yang diharapkan.

Sebelum 4 November banyak pihak juga berkomentar tentang  kita semua harus waspada, bahwa aksi demo tersebut bisa saja disusupi oleh pihak-pihak yang memang tidak ingin negeri ini dalam kondisi damai.  Ternyata hal ini memang terbukti. Ada saja oknum-oknum yang secara terbuka dan frontal memperlihatkan aksi kekerasan mereka terhadap aparat keamanan.

Kekacauan yang terjadi itu membuktikan bahwa keinginan damai dan tertib, hanya sebatas ucapan belaka.  Boleh saja kita berkomentar di mana-mana, suara lantang cinta damai, cinta hukum, dan ketertiban, tetapi kalau kenyataan seperti Jumat malam, maka siapa lagi yang bisa percaya?  Dan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, apa bentuk aksi kekerasan ini juga wajar disebut demokrasi dan kedewasaan dalam berpolitik?

Tentu jauh “jauh api dari panggang”-nya. Kedewasaan dalam berdemokrasi adalah kita bisa saling menghargai, menghormati, dan menjunjung tinggi hukum. Dan ujungnya adalah hidup bernegara dan berbangsa yang beretika dan bermoral.

Bagaimana kita bisa hidup beretika dan bermoral, kalau selalu mengatasnamakan demokrasi yang “diselimuti” kekerasan? Sampai kapan pun kita tidak akan mencapai kedewasaan berpikir dan bertindak, dalam berbangsa dan bernegara.

Kasus Ahok, yang sekarang sudah menjadi “api” yang besar, tampaknya  jelas ke mana arah tujuannya.  Semua pihak pun sudah tahu. Di situ jelas ada nuansa politik yang begitu kuat, bahkan dibingkai begitu apik seakan-akan menyangkut soal Ahok semata dalam penistaan agama.

Kondisi seperti ini makin lama akan makin membahayakan negeri ini. Karena itu, yang diharapkan adalah setelah pernyataan Presiden Joko Widodo yang menyebutkan ada aktor politik di balik kerusuhan 4 November, maka bisa secepatnya diusut, tanpa pandang bulu, sebab semua warga  sama di mata hukum.

Artinya sekarang saatnya bagi pemerintah saat ini untuk menguak, aktor intelektualnya. Membuka kedok, atau menarik keluar aktor itu dari tempat persembunyiannya. Yang pasti kita serahkan kepada aparat penegak hukum untuk melakukan semua itu. Jangan lagi ada intervensi pihak lain. Jangan ada lagi pemaksaan kehendak, dan jangan ada lagi tindakan-tindakan anarki dalam menegakkan keadilan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here