Utamakan Kualitas Pendidikan

Oleh: Iman Sjahputra

Berbicara mengenai pendidikan di negeri ini selalu menarik. Dari sisi mana kita akan bahas, selalu menjadi topik yang tidak akan pernah bosan untuk dibicarakan. Kita semua tahu pembangunan pendidikan di negeri ini, sejak dulu sampai sekarang selalu diwarnai dengan kebijakan yang sifatnya labil. Artinya tidak ada satu kebijakan yang langgeng, ada saja yang diutak-atik.

Belakangan ini ramai dibicarakan orang mengenai kebijakan belajar-mengajar selama lima hari. Siswa akan belajar selama 8 jam sehari, selama lima hari dalam seminggu. Rencana kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy,  itu langsung mendapat reaksi dari berbagai kalangan.

Berbagai tanggapan bernuansa kritikan pun terus dilayangkan oleh mayarakat. Namun akhirnya Presiden Joko Widodo memutuskan untuk menata ulang aturan itu. Bahkan kewibawaan regulasi itu Tampaknya tidak akan berbentuk peraturan menteri, tetapi peraturan presiden.   Selain itu, pembahasan kebijakan ini tidak akan menjadi kewenangan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan seorang saja, tetapi juga melibatkan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, dan Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, serta  masyarakat.

Karena melibatkan banyak pihak, maka aturan itu tidak hanya semata dari sisi jam belajar semata, tetapi juga diharapkan lebih luas dan komprehensif. Harapan lebih besar ialah tentu memiliki lembaga pendidikan yang mampu menghasilkan manusia-manusia Indonesia yang berakhlak dan berkualitas.

Menata pendidikan di negeri kita ini, harus lebih dulu jelas tujuan yang ingin dicapai, Sebab selama ini, tak perlu dipungkiri, setiap perubahan kebijakan yang terkait kurikulum, buku pelajaran, kualitas guru, atau mutu sekolah, dan hal terkait lainnya, selalu dilakukan tambal-sulam. Artinya jika ingin diubah, ya diubah, bila tidak, ya dibiarkan saja.

Bahkan kesan lama pun muncul, ganti menteri, ganti kebijakan. Karena itu, tak perlu kita bahas terlalu rumit sampai mengatur jam belajar. Yang perlu kita pikirkan sekarang adalah meningkatkan mutu pendidikan secara keseluruhan.  Tampaknya hal ini lebih substansial ketimbang bicara lamanya jam belajar.

Bicara mutu pendidikan, berarti kita bicara antara lain soal, guru, sarana dan prasarana atau fasilitas belajar, kondisi dan lingkungan sekolah, buku pelajaran, kualitas bangunan sekolah, kualitas murid, prestasi murid dan guru. Jadi,  sekali lagi ujung-ujungnya mengenai mutu pendidikan kita.

Pertanyaannya, mutu pendidikan seperti apa yang dicapai? Apakah kondisi sekolah di seluruh Indonesia sama, baik di kota besar, kota kecil, desa atau di daerah pedalaman?  Dari hal ini saja tampaknya sulit dicapai. Masih banyak hambatan yang sifatnya mendasar, harus menjadi perhatian utama pemerintah.

Karena itu jangan pernah kita bicara  soal standar pendidikan nasional. Dalam kondisi seperti sekarang tak mungkin dicapai standar nasional baik antarsekolah negeri maupun dibandingkan dengan sekolah swasta. Jadi sesungguhnya apa yang harus dilakukan.

Mungkin ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian, pertama, tampaknya pemerintah perlu membuat pemetaan sekolah menurut wilayah hingga ke nasional. Hasil pemetaan ini berkaitan dengan kualitas dari kemampuan sekolah mencapai standar minimal pendidikan nasional.

Untuk itu pemerintah berkewajiban membuat standar minimal seperti apa yang perlu dicapai satu sekolah. Mungkin pemerintah dan berbagai lembaga terkait harus duduk bersama membahas hal-hal tersebut. Kedua,  baru kita masuk ke hal yang lebih spesifik, seperti mutu guru. Ketiga, fasilitas belajar. Keempat,  metode pengajaran.

Jadi dengan membicarakan hal-hal yang substansial di dunia pendidikan kita, secara tidak langsung kita dapat memahami kualitas pendidikan yang ingin dicapai. Hal-hal substansial ini perlu dibicarakan secara terbuka, dan transparan, supaya  masukan dan kritik dari berbagai kalangan pun bisa memacu para pengelola pendidikan untuk berpikir lebih terbuka, tanpa megutamakan kepentingan sepihak, yaitu pemerintah.

Dengan demikian mengelola pendidikan sesuai dengan tujuan kebutuhan di masyarakat dan pembangunan nasional, akan  lebih tepat sasaran daripada hanya semata bicara soal lama jam belajar sehari di sekolah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here