Warga Negara Asing di Negeri Kita

Oleh: Iman Sjahputra

Menjelang peringatan hari kemerdekaan ke-71 Republik Indonesia, 17 Agustus, lalu, banyak peristiwa menarik yang terjadi di negeri ini.  Kalau lucu, ya bisa dikatakan lucu, kalau menarik ya bisa juga begitu. Namun kalau dikatakan “kecolongan” yang bisa juga begitu.

Entah apa istilahnya, yang pasti banyak bisa menjadi cerita menarik dan lucu, bila kita mau sama-sama menertawakannya. Namun ada baiknya peristiwa-peristiwa itu menjadi renungan kita semua, dan jangan sampai peristiwa itu terulang kembali.

Ada dua catatan atas peristiwa yang dikatakan terjadi beberapa hari belakangan yaitu Menteri ESDM Arcandra Tahar yang baru dilantik itu ternyata memiliki paspor Amerika Serikat. Kemudian menjelang peringatan 17 Agustus, Gloria Natapradja Hamel, anggota Pasukan Pengibar Bendera Kemerdekaan (Paskibraka) juga adalah warga negara asing, yang notebene masih memegang paspor negara Perancis.

Di antara dua peristiwa itu ternyata berita tentang paspor Menteri ESDM, sungguh mengejutkan. Tanpa curiga, mungkin saja Presiden Joko Widodo “kecolongan” dalam mengangkat seorang menteri yang bukan warga negaranya sendiri. Terlepas dari prestasi dan kehebatannya, yang namanya aturan tetap harus dipatuhi.  Apalagi  pejabat setingkat menteri, segala aturan harus menjadi rujukan sebelum mengangkat pejabat tersebut. Bila terjadi peristiwa seperti yang dialami Arcandra tidak diselesaikan dengan baik, maka apa jadinya negeri ini?

Kemudian muncul berita tentang Gloria pemegang paspor Perancis menjadi anggota Paskibraka. Ini juga sungguh aneh.  Terlepas dari keinginan dari dalam hari Gloria untuk merasakan menjadi bagian dari negara ini, yang pasti perekrutan ini sungguh memalukan.  Baru belakangan ini terkuak bahwa siswa itu ternyata bukan warga negara Indonesia, sebab dia pemegang paspor Perancis.

Nah !  dua peristiwa ini adalah kejadian yang tergolong “aneh bin ajaib”.  Secara logika, semua orang akan berpikir dan bertanya bagaimana proses seleksi terhadap Arcandra? Dan termasuk juga Gloria? Apakah tim seleksi itu bekerja menurut “pesanan” semata? Atau memang kerja mereka sangat-sangat ceroboh, tanpa prosedur, sehingga mengabaikan aturan yang seharusnya ditegakkan.

Dua kesalahan ini, tampaknya bukan karena kelalaian, tetapi kecerobohan. Kecerobohan yang tidak pantas dan tidak seharusnya terjadi. Dengan kata lain, ini sebuah kesalahan fatal, apalagi untuk mengangkat seorang pejabat setingkat menteri.

Bukankah orang hebat dan pintar juga banyak di negeri ini? Sehingga tidak harus sampai memanggil dari luar negeri, walau pun orang itu asli berdarah Indonesia.  Tanpa harus mengungkit kembali peristiwa ini, yang penting sekarang adalah jangan terulang lagi. Yang namanya aturan tetap harus ditegakkan dan tanpa melihat orang itu sangat berpotensi.

Jadi dua peristiwa ini adalah cerminan cara kerja para pejabat negeri ini. Yang mungkin mau enaknya saja, atau mau selalu dipuji pemimpin yang lebih tinggi. Walau pun menabrak aturan, yang penting dipuji oleh pemimpin di atasnnya. Walau pun salah, yang penting dibilang hebat oleh pemimpinnya.
Jadi, menjelang peringatahn 71 tahun negara kita merdeka, ternyata ada bayang-bayang yang boleh dikatakan “aneh” yaitu peristiwa Arcandra dan Gloria yang sangat “mencoreng” muka kita semua. Untungnya masih ada pahlawan olahraga kita yang mampu memberi hiburan sekaligus hadiah kemerdekaan dengan meraih medali emas di cabang bulu tangkis yaitu ganda campuran Totowi Ahmad/Liliyana Natsir.

Pasangan pebulutangkis ini sedikit membuat kita tersenyum, ketimbang mengerutkan dahi dengan melihat peristiwa yang terjadi pada Arcandra dan Gloria. Dan merekalah yang pantas dibicarakan ketimbang kesalahan-kesalahan yang terjadi itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here