Warga Rusia Berduka

Presiden Putin meletakkan karangan bunga. (Foto: JX/Xinhua)

St PETERSBURG, JIA XIANG – Banyak warga yang tinggal di St Petersburg, kota pelabuhan di Laut Baltik, Rusia, memberikan ucapan belasungkawa dengan membawa karangan bunga dan diletakan di tempat dekat kejadian ledakan bom kereta bawah tanah di kota itu, Senin (3/4/17) malam dan Selasa (4/4/17) pagi.

Setidaknya 45 orang terluka akibat ledakan yang terjadi di antara dua stasiun bawah tanah di St Petersburg, Senin (3/4/17) sore. Bahan peledak lain ditemukan di sebuah stasiun terdekat dan sudah diamankan.

Kantgor berita Interfax dan Tass mengatakan,  tersangka telah diidentifikasi, tetapi belum diketahui apakah dia seorang pembom bunuh diri, masih simpang siur. Di St Petersburg sendiri telah ditetapkan tiga hari berkabung bagi para korban.

Kecaman dan duka terkait serangan itu berdatangan dari berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia.   “Pemerintah Indonesia menyampaikan duka cita yang mendalam kepada korban dan keluarga yang ditinggalkan,” demikian disebutkan dalam sebuah pernyataan Kementerian Luar Negeri.

Indonesia juga “menyampaikan solidaritas terhadap Pemerintah dan rakyat Rusia dalam menghadapi situasi saat ini.”

Lokasi kejadian ledakan. (Foto: JX/Xinhua)

Presiden AS Donald Trump menyebut serangan itu “kejadian yang mengerikan” sementara Kanselir Jerman Angela Merkel menyebutnya sebagai “tindakan barbar”.

Presiden Vladimir Putin yang berada di kota itu ketika ledakan terjadi, mengunjungi tempat kejadian dan meletakkan bunga. Sejauh ini belum ada kelompok yang menyatakan bertanggung jawab atas peristiwa yang disebut aparat Rusia sebagai serangan teror ini.

Laporan awal menyebutkan terjadi dua ledakan, satu di Sennaya Ploshchad dan satu lagi di stasiun Tekhnologichesky Institut. Namun Komite Nasional Anti Teroris Rusia menegaskan hanya satu ledakan, terjadi di antara dua stasiun, sekitar pukul 14.30 waktu setempat (17:30 WIB).

Penyelidik senior Svetlana Petrenko mengatakan kepada media Rusia, keputusan masinis kereta untuk terus melanjutkan kereta ke stasiun berikutnya hampir pasti membantu menyelamatkan nyawa para penumpang, karena memungkinkan orang untuk diselamatkan dengan cepat.

Menteri Kesehatan Veronika Skvortsova menje;sdksn 10 orang tewas- tujuh di lokasi kejadian, satu di ambulans dan dua di rumah sakit. Korban tewas itu kemudian meningkat menjadi 11 orang.

Andrei Przhezdomsky, Kepala Komite Nasional Anti Teroris mengatakan ledakan itu disebabkan oleh “bahan peledak tak dikenal”. Presiden Putin mengatakan semua penyebab, terutama terorisme, sedang diselidiki.

Penemuan bahan peledak di stasiun lain, Ploshchad Vosstaniya, juga mengisyaratkan bahwa serangan ini terkoordinasi. Interfax mengatakan fokus sekarang terarah pada seorang pria berusia 23-tahun dari Asia Tengah yang dikenal memiliki hubungan dengan kalangan Islam radikal.

Disebutkan, pria itu tewas dalam serangan bunuh diri itu dan diidentifikasi melalui jenazahnya. Tetapi juru bicara presiden Dmitry Peskov tidak menanggapi laporan bahwa serangan itu dilakukan oleh pembom bunuh diri.

Warga Rusia memberikan pemghormatan kepada para korban ledakan. (Foto: JX/Xinhua)

Kantor berita lain, Tass, melaporkan bahwa kemungkinan ada seorang perempuan yang terlibat dalam serangan itu.  Ini pertama kalinya terjadi serangan terhadap sistem kereta bawah tanah St Petersburg, yang digunakan oleh lebih dari dua juta penumpang setiap harinya.

Namun beberapa jaringan transportasi di kawasan lain di Rusia pernah mendapat serangan. Pada tahun 2010, terjadi serangan bom bunuh diri ganda di jaringan metro Moskow, menewaskan 38 orang.

Setahun kemudian, sebuah bom meledak di sebuah kereta api berkecepatan tinggi yang tengah melakukan perjalanan antara Moskow dan St Petersburg, menewaskan 27 dan melukai 130 lainnya.  [JX/BBC/Xinhua/Eka]

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here