Water Way yang Serba Tekor

Jia Xiang – Sedikitnya 100 orang yang tinggal di sekitar Waduk Pluit, Muara Baru, Jakarta Utara rumahnya terendam banjir pada Januari 2013, tatkala Jakarta “dilumpuhkan” serangan banjir. Tak pelak, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menawarkan mereka untuk pindah ke rumah susun (Rusun) Marunda, Jakarta Utara. Namun upaya itu masih menyisakan banyak masalah.

Selanjutnya Pemprov DKI Jakarta menyediakan angkutan bagi warga yang pindah ke Rusun Marunda, namun tetap bekerja di Muara Baru. Sarana angkutan yang disediakan berupa transportasi air (water way) dan bus.

Namun penggunaan bus dan water way ternyata tidak sepenuhnya berjalan seperti harapan. Dua unit bus dan dua armada water way nyatanya belum mampu mengangkut warga rusun setiap hari. Sebab, kemampuan angkut sarana tidak memadai. Dua unit bus masing-masing hanya mampu mengangkut sekitar 30 penumpang, sedangkan water way hanya mampu mengangkut 24 setiap unitnya.
Kendala lainnya adalah soal jadwal keberangkatan kapal yang tidak tetap. Pantauan Jia Xiang Hometown pada Minggu (17/2/13) dan Senin (18/2/13) keberangkatan yang semestinya pukul 07.00 WIB meleset.

Kusminah, 28 tahun, penghuni rusun Marunda yang bekerja di Muara Baru mengatakan, saat naik angkutan bus dia terlambat masuk kantor hingga 2,5 jam. Padahal kebijakan perusahaan menerapkan aturan potong gaji Rp5000 bila terlambat satu jam.

Fasilitas jalan dari rusun menuju dermaga yang berjarak hampir 1 km masih dalam pengerjaan dan berada di jalan pantai yang cukup terik bila siang hari. Pendataan manives penumpang dilakukan di warung yang terbuat dari bilik. Di situ nama penumpang yang naik kapal dicatat oleh petugas.

Saat dimintai pendapatnya tentang berbagai kekurangan pada waterway, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengatakan kepada Jia Xiang Hometown bahwa unit bus dan armada waterway secara bertahap akan ditambah. Namun  Ahok juga memberi alternatif bagi warga Muara Baru agar menentukan pilihannya sendiri.

“Kepada warga Muara Baru kita sudah tawari dengan fasilitas yang ada sekarang. Jika mereka keberatan yah jangan tinggal di rusun ini. Diharapkan mereka juga berjuang bersama dan tidak pasrah dengan keadaan,” kata Ahok kepada Jia Xiang Hometown, Minggu (17/2/13).

Apa kata Samsul, nahkoda Kerapu III? Dia mengatakan, peralatan keselamatan kapal tersubut telah menenuhi standar karena pada kapal Kerapu II dan III yang masing-masing berdaya angkut 24 orang disediakan 30 buah pelampung, 2 ring boy (ban keselamatan), 1 unit alat pemadam kebakaran, dan alat Global Positiong Sistem (GPS).

Namun hal yang dikhawatirkan Samsul adalah jalur pelayaran yang kurang steril. Samsul yang mengantongi lisensi pelayaran berupa Surat Kecakapan Kelautan (SKK) yang dikeluarkan oleh Syahbandar itu mengatakan,”Jalur pelayaran antara Marunda dan Tanjung Priuk cukup berbahaya karena banyak bagan dari bambu. Kapal akan hancur lebur bila menabrak patok-patok bambu yang bertebaran di jalur itu.”

Resiko

Bila cuaca buruk dan dan hujan, jarak pandang semakin pendek yang beresiko menabrak patok-patok bambu atau gelondongan kayu yang mengapung. “Kapal kerapu dengan bobot 6 Gros Ton (GT) akan hancur bila menabrak patok-patok bambu itu. Belum lagi resiko tersangkut oleh sampah yang banyak terdapat di jalur itu ,” terang Samsul.

Jika cuaca buruk, kata Samsul, mereka harus berlayar lebih jauh dari bibir pantai untuk menghindari bagan. Namun konsekwensinya bahan bakar bertambah karena jarak tempuh menjadi lebih panjang.  “Jarak normal water way dari Marunda ke Muara Baru adalah 11 mil dan menghabiskan 50 liter pertamax sekali perjalanan atau 100 liter pertamax untuk rute pulang pergi setiap hari. Sedangkan bila cuaca buruk yang berjalan lebih jauh dari bibir pantai bisa menghabiskan 60-70 liter sekali tempuh,” kata Samsul.

Selain itu, samsul menuturkan, saat ini status mereka diperbantukan dalam armada water way dan belum ada kontrak kerjanya.  “Kami sejak awal Januari 2013 sudah bertugas tapi gaji belum ada gaji tetap. Kami hanya diberi uang lima ratus ribu untuk keperluan sehari-hari. Dalam satu kapal ada tiga orang kru yaitu nahkoda, kepala kamar mesin (KKM) dan kelasi,” terang Samsul. Samsul juga menambahkan, mereka juga sulit mendapat air bersih karena di dermaga tidak ada fasilitas itu. Bila mandi di rumah susun mereka cukup sulit karena jaraknya cukup jauh dari dermaga. Terpaksa kru water way itu mandi air laut.[JX/W1/D9]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here