Wayang Potehi Indonesia Beda dengan Tiongkok

Jia Xiang – Saat mengambil program Doktoralnya, ia pun berpikir meneliti tentang orang Tionghoa di Indonesia. Penelusurannya dimulai dari tradisi pertunjukan Wayang Potehi. Menurutnya seni pertunjukan itu merupakan jembatan kehidupan masyarakat Tionghoa sejak bermigrasi ke Indonesia. Sebagai jembatan Wayang Potehi banyak mengandung unsur kehidupan etnis Tionghoa.

Hujan masih turun saat Jia Xiang Hometown tiba di Eksplora Café jalan Kliningan, Bandung, Jawa Carat pada Selasa (19/3/13) malam. Saat memasuki ruangan café bernuansa klasik itu, seorang berwajah Eropa sedang asyik duduk di depan laptopnya. Senyumnya pun langsung mengambang dan mempersilahkan Jia Xiang Hometown duduk.

Dialah Joshua Sidney Stenberg, mahasiswa pasca sarjana program Doktoral Universitas Nanjing, China, yang selama enam bulan ini melakukan penelitian tentang Wayang Potehi di Indonesia. Disertasinya berjudul, “Change and Tradition ini Classical Contemporary Performance”. Sedangkan penelitiannya itu dibiayai Sosial Sciences and Humanities Research Council of Canada.

Kala itu dia tengah berkutat menyelesaikan makalah yang akan disampaikannya dalam sebuah pertemuan di China tanggal 25 Maret 2013. “Saya harus menyelesaikan makalah malam ini. Tapi kita masih bisa berdiskusi,” ujar Josh dengan lontaran kata-kata bahasa Indonesia yang lumayan baik.

Josh lahir di Vancouver, Kanada, 5 Oktober 1981, dari pasangan Peter dan Rosa Stenberg. 1988, saat usia 16 tahun ia mendapatkan beasiswa belajar ke Hongkong dari United World Collage selama dua tahun. Ayahnya yang seorang professor dan banyak melakukan penelitian di Eropa, sangat mendorongnya mengikuti program itu.

Di Hongkong Josh mulai kehidupannya mengenal budaya dan tradisi Tionghoa. Meskipun demikian, sejak masih kecil dia sudah mengetahui banyak hal tentang tradisi Tionghoa. Di  Vancouver, Kanada, ia juga sudah banyak berinteraksi dengan masyarakat Tionghoa.

Dua tahun tinggal di Hongkong, ia pun kembali ke Kanada dan melanjutkan studi di Amerika. Namun, perhatiannya terhadap budaya dan tradisi Tionghoa semakin tinggi. Untuk menyelesaikan studinya itu, ia kemudian melakukan penelitian tentang orang Tionghoa di Rusia. Kemudian melanjutkan penelitian tentang orang Tionghoa di Brazil, setelah bekerja selama enam bulan untuk pemerintah Kanada di Shanghai.

Josh sempat bekerja di sebuah lembaga opera Kuno Tiongkok, Kunju. Kesenian ini, merupakan salah satu warisan dunia yang sudah terdaftar di UNESCO. “Bekerja di opera Kuno Tiongkok, Kunju, tidak ada banyak uang yang saya dapatkan. Namun pengalaman dan ilmu tentang Kunju serta orang-orang yang saya kenal di dalamnya termasuk dosen-dosen yang melakukan penelitian membuat saya bisa melanjutkan studi saya,” katanya.

Orang di Tiongkok, lanjut Josh, tidak banyak mengenal seni pertunjukan Tionghoa Indonesia. Masyarakat Tiongkok baru mulai sadar tentang keberadaan kesenian Tionghoa Indonesia setelah terjadinya kerusuhan Mei 1998 di Indonesia.

“Seni pertunjukan Tionghoa di Indonesia seperti Wayang Potehi sangat unik. Hanya di Indonesia, kita bisa lihat tradisi Cina seperti Wayang Potehi, dilakukan oleh orang Jawa dan berbahasa Jawa. Pertunjukan Wayang Potehi dengan penyajiannya sangat Jawa inilah yang sangat istimewa,” ungkap Josh.

Menurut Josh, pertunjukan Wayang Potehi dalam nuansa itu awalnya dimaksudkan untuk menarik penonton. Sebab bila bahasa yang digunakan adalah Bahasa Mandarin, masyarakat umum tidak akan pernah mau menonton pertunjukan ini. Selain itu, jalan cerita Wayang Potehi di Indonesia sangat bergantung dalang dan tidak mengacu pada naskah tertulis seperti pertunjukan Wayang Potehi di Tiongkok. [Sas/D9]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here