Wayang Potehi, Khas Tionghoa (1)

JAKARTA, JIA XIANG – Potehi berasal dari kata serapan dialek Hokkian (bukan bahasa), yakni : poo (artinya kain), tay (artinya kantong), dan hie (artinya wayang). Sedangkan dalam bahasa Mandarin disebut 布袋戯 (baca : Bu Dai Hu), secara harafiah berarti wayang berbentuk kantong kain. Orang yang berperan sebagai dalang, memainkannya dengan memasukkan tangan mereka ke dalam kain tersebut. Wayang Potehi, terdiri dari dua kata yaitu “Wayang” dan “Potehi”, dan jelas juga berasal dari kata bahasa Indonesia dan dari kata serapan dialek Hokkian.
Kata “wayang” sendiri dipercaya bukan kata murni bahasa Indonesia atau Melayu, tapi serapan dari bahasa Jawa atau Sansekerta yang artinya bayangan. Walaupun dalam penerapan dan konteks “Wayang Potehi” sangat jauh dari “bayangan”. Lebih tepatnya, dalam bahasa Mandarinnya adalah Bu Dai Xi dan dalam bahasa Inggris disebut Glove Puppetry. Nama lainnya antara lain budai mu’ouxi, shoucao kuileixi, shoudai kuileixi, xiaolong, atau zhihuaxi. Jadi, arti kata wayang potehi itu adalah wayang boneka yang terbuat dari kain. Sang dalang akan memasukkan tangannya ke dalam kain itu dan memainkannya seperti layaknya wayang jenis lain. Wayang ini dimainkan menggunakan kelima jari tangan. Tiga jari tengah (telunjuk, jari tengah, dan jari manis) berfungsi mengendalikan bagian kepala wayang, lalu ibu jari dan kelingking menggerakkan bagian tangan wayang.Wayang-Potehi
Kesenian ini diperkirakan sudah berumur lebih dari 3.000 tahun dan berasal dari Tiongkok. Tapi jejak awal yang tercatat adalah dari abad 17, berasal dari Provinsi Fujian, yaitu di Quanzhou, Zhangzhou. Selain di dua daerah itu, banyak juga dimainkan di Provinsi Guangdong, dan di Chaoshan, Taiwan.
Wayang ini merupakan salah satu jenis wayang khas Tionghoa yang berasal dari Tiongkok bagian selatan. Menurut sejarah, kesenian ini sudah ada pada masa Dinasti Jin (265 – 420 Masehi) dan berkembang pada Dinasti Song (960-1279). Wayang potehi bisa sampai ke Indonesia melalui orang-orang Tionghoa yang datang sekitar abad ke 16.
Saat masuk pertama kali di Indonesia, wayang potehi ini dimainkan dalam Bahasa Hokkian, namun seiring berkembangnya waktu, bahasa dan latar cerita yang disuguhkan pun menyatu dengan budaya Indonesia. Kini, banyak dalang wayang potehi yang bukan dari peranakan Tionghoa, tetapi dari suku lain seperti suku Jawa.
Interaksi penduduk asli dan pendatang berlangsung mulus, terutama dengan cara perkawinan, beranak pinak, turun temurun sampai dengan sekarang ini. Dan uniknya, kelenteng-kelenteng di seluruh pesisir utara Pulau Jawa menyembah dewa atau dewi yang sama, terutama dewi yang berhubungan dengan laut, sesuai mata pencaharian penduduk pesisir dari dulu sampai sekarang melaut untuk mencari ikan.
Wayang Potehi pada masa keemasannya di awal-awal kemerdekaan republik ini, berpentas jika ada acara-acara khusus, termasuk acara-acara dari penduduk asli setempat. Pesta perkawinan, tahun baru, Imlek dai kegiatan lainnya. [bersambung]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here