Wayang Potehi, Khas Tionghoa (2)

Lakon

Di masa-masa awal masuknya wayang potehi ke Indonesia, sampai berkembang di awal abad 20, lakon yang dibawakan kebanyakan masih “asli” dari negeri Tiongkok. Lakon yang umum adalah Sie Djin Kui (Ceng Tang dan Ceng See), ini adalah kisah peperangan dua negara, di mana salah satu negara dipimpin oleh seorang jenderal yang konon punya peliharaan tak kasat mata, seekor harimau putih, sehingga dia ini sakti mandraguna dan ditakuti lawan-lawannya.
Sub-judul Ceng Tang dan Ceng See adalah menunjukkan episode peperangan. Ironisnya, Sang Jenderal ini mati dibunuh oleh putranya sendiri Sie Teng Shan. Cerita lengkapnya saya terus terang sudah samar-samar sekali. Masih ada juga lelakon Poei Si Giok alias Fang She Yu yang pernah dimainkan oleh Jet Li beberapa tahun lalu. Poei Si Giok dan Sie Djin Kui ini adalah 2 contoh lelakon klasik yang wajib dipentaskan dalam pementasan Wayang potehi.wayang-potehi-1
Di masa-masa awalnya, pementasan sudah dilakukan dalam bahasa Indonesia, walaupun beberapa percakapan, tembang dan sajak masih dibawakan dalam dialek Hokkian, yang dianggap ‘bahasa aslinya’, dan kebanyakan dipentaskan di halaman kelenteng-kelenteng yang tersebar di kota-kota di sepanjang pesisir utara Jawa.
Tidak berbeda dengan wayang-wayang lain di Indonesia, beberapa lakon yang sering dibawakan dalam Wayang potehi adalah Si Jin Kui (Ceng Tang dan Ceng Se), Hong Kiam Chun Chiu, Cu Hun Cau Kok, Lo Thong Sau Pak, dan Pnui Si Giok. Setiap wayang bisa dimainkan untuk berbagai karakter, kecuali karakter Kwan Kong, Utti Kiong, dan Thia Kau Kim yang warna mukanya tidak bisa berubah. Nmun, seiring dengan berjalannya waktu, lakon yang dipentaskan mulai melebar ke arah yang lebih modern seperti Sun Go Kong. Juga mulai berasimilasi dengan budaya setempat, termasuk bahasa setempat yaitu bahasa Jawa.
Alat musik pengiring utama adalah tambur, kendang, suling, kecer dan rebab. Kombinasi harmonis dari alat-alat musik ini menimbulkan perasaan tersendiri di hati penontonnya. Lakon wayang Potehi ternyata ada yang diadopsi ke dalam cerita Indonesia, yaitu ke dalam lakon Ketoprak. Tokoh Sie Djin Kui diadopsi menjadi Joko Sudiro, atau tokoh Prabu Lisan Puro yang diambil dari tokoh Lie Sie Bin, salah satu cerita kuno dari Tiongkok.
Seiring perjalanan waktu, pementasan wayang potehi juga bercampur dengan selipan bahasa Jawa. Para dalang wayang potehi yang keturunan Tionghoa juga makin berkurang, makin ditinggalkan, tapi justru para dalang yang penduduk asli makin banyak. Wayang Potehi sudah bukan milik orang tionghoa saja, namun sudah menjadi kesenian peranakan milik Indonesia. Bukan sekadar seni pertunjukan, Wayang potehi bagi etnis Tionghoa memiliki fungsi sosial serta ritual. [JX/Aspertina.org/Tionghoa.info/Eka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here