Yogyakarta Tuan Rumah Konvensi Pengajaran Bahasa Mandarin se-ASEAN

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X konvensi pengajaran Bahasa Mandarin se-Asia Tenggara dalam ASEAN Chinese Teaching Convention (ACTC) ke-11. (Foto-foto: JX/Deni Priyatin)

YOGYAKARTA, JIA XIANG – Daerah Istimewa Yogyakarta  (DIY) menjadi tuan rumah konvensi pengajaran Bahasa Mandarin se-Asia Tenggara dalam ASEAN Chinese Teaching Convention (ACTC) ke-11, yang digelar dari tanggal 23-26 September 2016. Indonesia mendapat giliran menjadi tuan rumah ACTC untuk kedua kalinya. Sebelumnya pada ACTC ke-7 Kota Surabaya, Jawa Timur, yang menjadi tuan rumahnya.

Sebanyak 10 negara di Asia Tenggara menghadiri Konvensi Pengajaran Bahasa Mandarin antara lain Malaysia, Singapura, Tahiland, Filipina, Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Vietnam, Myamar dan Indonesia. Selain itu dalan konvensi tersebut juga dihadiri oleh pendidik, pelajar, ahli Pendidikan Bahasa Mandarin dari negara Tiongkok, Taiwan, Macau, Hongkong dan negara-negara lainnya.

Tujuan dari acara ini yaitu untuk mendorong perkembangan pengajaran bahasa Mandarin di Asia Tenggara dan untuk upaya memajukan pertukaran pengajaran Bahasa Mandarin antara pengajar dari Asia Tenggara dan negara lainnya. Tema yang diambil dalam konvensi ini adalah peningkatan bentuk, transformasi, dan mutu pendidikan Bahasa Mandarin di Asia Tenggara.

Upacara pembukaan konvensi dilaksanakan pada Sabtu (24/9/16) di Hotel Royal Ambarukmo, Jogja.  Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X membuka langsung konvensi ini. Selain itu dalam pembukaan panitia pelaksana konvensi dari Sekolah Budi Utama menampilkan tarian Jawa klasik yaitu tari Pudyastuti. Hal ini untuk memperkenalkan budaya Jawa kepada peserta konvensi dari luar negeri.

Dalam pidato pidatonya, Sultan menyambut baik Konvensi Bahasa Mandarin Se-Asia Tenggara yang digelar di DIY. Sultan menuturkan, di ASEAN mutu peningkatan Bahasa Mandarin memang sangat dibutuhkan yaitu pertama untuk menatap MEA, karena bahasa Mandarin sekarang ini menjadi bahsa ke-2 di PBB setelah Bahasa Inggris. Kedua untuk meningkatkan komunikasi negara-negara Asean dalam kerja sama politik, ekomomi dan budaya.

Selain itu Sultan berharap pembelajaran bahasa Mandarin juga bisa sekaligus untuk mempelajari latar belakang budaya negara-negara di ASEAN, bukan hanya mempelajari konseptual bahasa Mandarin saja.

Sementara itu menurut Jawadi, Ketua Pelaksasana Konvensi Pembelajaran Bahasa Mandarin Se-Asia Tenggara ke-11, dalam konvensi tersebut akan didiskusikan beberapa permasalahan pembelajaran Bahasa Mandarin di negara-negara Asean, antara lain : kurangnya tenaga pengajar, keterbatasan dana, penyediaan buku-buku pelajaran sesuai dengan negara masing-masing.

“Dalam konvensi ini juga akan membahas mengenai kerja sama antar Negara ASEAN, yaitu meningkatkan jalinan hubungan antara Negara Asean, saling mengunjungi dalam bentuk study banding, saling tukar ilmu dan pengalaman,” ujar Jawadi.

Setelah acara konvensi  selesai, rencananya para peserta akan diajak panitia untuk mengunjungi tempat wisata bersejarah antara lain Candi Borobudur, Prambanan dan Kraton Yogyakarta. Sehingga dalam konvensi ini tidak hanya merujuk pada dunia pendidikan, namun juga turut memperkenalkan pariwisata daerah Yogyakarta ke dunia Internasional.[JX/Dee/W5]

This slideshow requires JavaScript.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here