Berkaca Pada Kurikulum 1994

Hanya dalam waktu sekitar sebulan, Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar -Menengah, Anies Baswedan, mencabut pelaksanaan Kurikulum 2013, dan menetapkan kembali ke Kurikulum 2006 atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Namun perlu diingat bahwa perubahan itu harus bersifat sementara, sambil mempersiapkan kurikulum baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pencabutan ini diinilai banyak kalangan sebagai langkah berani, walau pun ada pula yang mengkritiknya termasuk mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh yang menilainya sebagai sebuah kemunduran. Tetapi Menteri Anies pun menegaskan bahwa jangan pernah bermain-main dengan kurikulum. Kurikulum itu bukan untuk kepentingan menterinya, tapi bagi kepentingan siswa dan guru supaya mereka bisa berinteraksi dengan baik.

Artinya membuat kurikulum itu tidak sembarangan. Sebab masa depan anak bangsa ini ditentukan oleh sebuah kurikulum pendidikan yang bemutu, ungkap mantan Direktur Sekolah Dasar, Ditjen Dikdasmen, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Djauzak Ahmad kepada Jia Xiang Hometown, Selasa (9/12/14) di Jakarta.

Dulu di era Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hassan (alm) dan Wardiman Djojonegoro, ada sejumah staf ahli yang selalu memberikan masukan dan mengusulkan berbagai alternatif terkait kurikulum. Tetapi, di Kurikulum 2013 (K-‘13), tampaknya tidak seperti itu. Dengan kata lain, K-‘13 ini pada dasarnya tidak memenuhi syarat sebagai sebuah kurikulum.

Dengan dicabutnya K-’13 ini, maka sekolah-sekolah yang belum sepenuhnya menggunakan kurikulum itu, akan kembali ke Kurikulum 2006 atau KTSP. Namun, Djauzak mengingatkan agar kembali ke Kurikulum 2006 itu sifatnya hanya sementara. Sebab pada kurikulum itu pun banyak hal yang tidak jelas. Menurut Djauzak kurikulum yang paling bagus adalah Kurikulum 1994. “Sebab, sebelum kurikulum ini dilaksanakan, sudah banyak dilakukan uji coba dan evaluasi. Setelah matang, baru kurikulum ini diterapkan.

Ini kurikulum yang paling bagus,” tegasnya. Mengapa Kurikulum 2006 atau KTSP hanya sementara? Menurut Djauzak, KTSP ini sebenarnya juga tidak bisa dilaksanakan secara nasional. Sebab semua sekolah membuat kurikulum sendiri-sendiri. Dalam kondisi seperti ini tidak semua sekolah mampu membuatnya. Bagiamana sekolah di daerah pedalaman atau terpencil yang gurunya hanya satu atau dua, dan kemampuannya juga terbatas. “Guru-guru seperti ini, apa yang juga mereka bisa lakukan dengan Kurikulum 2013? Kalau diterapkan, maka rusaklah bangsa ini,” tegasnya.

Tahun 1984, ada Kurikulum 1984 yang mengusung pendekatan proses ketrampilan. Kurikulum ini juga sering disebut Kurikulum 1975 yang disempurnakan. Siswa sebagai subjek belajar, mulai dari mengamati, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan sesuatu. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Menurut Djauzak CBSA ini adalah kurikulum terintegrasi.

Ada jaringan topik yaitu mengambil satu topik, kemudian guru dan murid mengembangkan bersama. Nah kurikulum 2013 disebut menggunakan sistem tematis, lalu apa bedanya dengan topik. “Perbedaannya tipis, tidak banyak,” tegasnya.

Karena itu, setelah K-‘13 dicabut, lalu melanjutkan KTSP, tetapi sebaiknya sementara, sambil membuat atau mempersiapkan kurikulum yang lebih baik dan matang. Tentunya, ungkap Djauzak, melalui berbagai uji coba dan evaluasi seperti yang dilakukan Kurikulum 1994. Karena itu, kurikulum baru yang dipersiapkan itu juga harus melalui tahapan pemikiran atau pembahasan lebih matang. Selain itu libatkan banyak unsur yang tidak hanya secara teoritis tetapi juga ada praktisinya.

Jadi, membuat kurikulum tidak sembarangan. Masa depan anak bangsa ini ditentukan oleh sebuah kurikulum pendidikan yang bermutu. “Saya sudah prediksi tahun lalu, kalau kurikulum ini hanya akan berjalan sebentar. Ganti pemerintahan baru, pasti kurikulum ini bakal diganti pula. Ini artinya uang triliunan yang sudah dikeluarkan dibuang percuma,” tegas Djauzak Ahmad sambil menambahkan kalau dia pernah mengirim surat kepada Menteri Anies Baswedan yang intinya dalam kurikulum, yang berjalan itu, memiliki banyak masalah yang panjang, mulai dari mutu guru sampai pada tujuan pendidikan yang tidak jelas.

“Mahal, memang pendidikan mahal. Karena itu, kembali ke Kurikulum 2006 sebaiknya bersifat sementara. Persiapkanlah kurikulum yang baru lebih bagus dan bisa diterapkan secara nasional,” tegasnya.(Jx/E4)

KURIKULUM RENCANA PELAJARAN (1947-1968)
1.            Rencana pelajaran                                             1947
2.            Rencana Pelajaran Terurai                                1952
3.            Kurikulum Rencana Pendidikan                         1964
4.            Kurikulum                                                           1968

 

KURIKULUM BERORIENTASI PENCAPAIAN TUJUAN (1975-1994)
1.            Kurikulum                      1975
2.            Kurikulum    (CBSA)      1984
3.            Kurikulum                      1994

 

KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI DAN KTSP (2004/ 2006)
1.            Kurikulum    (KBK)                                                               2004
2.            Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)                    2006
3.            Kurikulum                                                                            2013

 

*) Artikel ini dimuat di Tabloid Jia Xiang Hometown, Edisi I / 2015

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here