Butuh Proses Panjang Produksi Vaksin Ebola

JAKARTA, JIA XIANG – Minat ilmuwan di Tanah Air untuk turut memerangi Ebola dengan menghasilkan vaksin baru cukup tinggi. Apalagi di sini tersedia bahan baku untuk membuat vaksin penangkal penyakit mematikan itu.
Salah satunya Prof Sutiman, Guru Besar Bio Cell Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur. Dia mengungkapkan tembakau berpotensi dimanfaatkan sebagai sarana memproduksi bahan baku vaksin untuk ebola. Di dalam tanaman tembakau, paparnya, ada tobacco muzaic virus. Tobacco muzaic virus, lanjutnya, bisa disisipi gen antibodi untuk antiebola.
Hal yang diungkapkan Sutiman, dibenarkan oleh Sekretaris Puslitbang Bioteknologi dan Biodiversitas Universitas Sebelas Maret, Solo, Jawa Tengah, Afiono Agung Prasetyo, dr, Ph.D. Menurut dia, dalam penjelasan secara tertulis kepada Jia Xiang Hometown, Senin (25/8/14), grup risetnya memang meneliti semua yang mungkin digunakan 8untuk produksi vaksin, termasuk tembakau.
Tembakau, paparnya, memang merupakan salah satu vektor ekspresi “bahan baku” vaksin. Vektor ekspresi, jelasnya, adalah sesuatu – bisa berupa jamur, tembakau, pisang – yang dibuat sedemikian rupa agar dapat menghasilkan sesuatu (biasanya protein). Dengan demikian, tuturnya, tembakau dapat (berpotensi) digunakan untuk memproduksi bahan baku vaksin untuk ebola.
Namun Afiono dan timnya belum tertarik untuk meneliti Ebola. Dan sepengetahuannya, Badan Usaha Milik Negara yang memproduksi vaksin pun belum tertarik meneliti dan membuat vaksinnya.
Alasan Afiono tak tertarik meneliti Ebola dan membuat vaksinya karena untuk memproduksinya selain prosesnya panjang juga membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Apalagi untuk memerangi Ebola benar-benar diperlukan vaksin baru. “Vaksin ebola tergolong vaksin baru,” jelasnya.

Lebih lanjut dia menerangkan, untuk membuat vaksin tidak “sekedar membuat bahan baku”-nya, namun diawali dulu dengan bahan baku mana yang dapat betul-betul dapat digunakan untuk menimbulkan kekebalan? Apa sarana terbaik untuk membuat bahan baku-nya? Apakah tembakau? Apakah jamur? Apakah bakteri? Apakah sel? Sesudah itu, lanjut Afiono, seberapa bagus kemampuannya? Kemudian harus uji keamanan, uji efektivitas, uji fase klinis, yang semuanya harus dilakukan berkali-kali.
“Butuh waktu beberapa tahun untuk validasi hasil-efektivitas-keamanan dan lain sebagainya. Tidak dapat langsung diproduksi begitu saja,” katanya.
Dia mencontohkan vaksin hepatitis B yang bahan bakunya sudah teruji, dan saat ini sudah beredar. Ketika medium pembuatan bahan bakunya diubah (hanya mengubah medium, tidak mengubah bahan baku), ternyata butuh waktu beberapa tahun untuk validasi hasil-efektivitas-keamanan, dan tidak dapat langsung diproduksi begitu saja.
Supaya tidak tertular Ebola, Afiono mengingatkan penyakit ini menular lewat cairan tubuh (urin, air liur, keringat, feces, semen,dan vomit), termasuk darah (dan produk darah) manusia maupun hewan yang terinfeksi. Virus dapat masuk melalui kulit yang terluka atau tusukan benda (misal: jarum suntik) yang sudah terkontaminasi cairan tubuh/ darah/ jaringan yang terinfeksi.

Yang bisa dilakukan untuk menghindari infeksi virus Ebola:
– jaga kebersihan diri sebaik mungkin
– hindari kontak dengan segala macam cairan tubuh dan darah
– hindari kontak dengan pasien Ebola
– hindari kontak dengan rumah sakit/ fasilitas kesehatan tempat merawat pasien Ebola
– hindari kontak dengan cairan tubuh, darah, jaringan tubuh, daging mentah hewan terutama kelelawar dan yang non human primata.
– bagi yang ibadah haji, selain menghindari kontak dengan segala macam cairan tubuh dan darah, sangat disarankan untuk memonitor dirinya selama 21 hari. Jika muncul gejala demam lebih dari 38.6 C, nyeri kepala berat, nyeri otot, diare, nyeri perut, muntah, hilang nafsu makan, badan terasa lemah/lemas segera ke rumah sakit. [JX/W5]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here